Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Ustaz Salim Slamet Tekankan Keseimbangan Urusan Dunia dan Akhirat dalam Khotbah Jumatnya

Dakwahpos.com, Bandung – Ibadah mingguan yang diikuti oleh jamaah muslim Masjid Al-Ikhlas Cipadung dari berbagai kalangan tersebut menghadirkan Ustaz Salim Slamet sebagai khatib. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan pesan-pesan dakwah yang menggugah kesadaran spiritual umat Islam agar senantiasa menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat di tengah dinamika kehidupan modern.

Dalam uraian khotbahnya, Ustaz Salim Slamet memfokuskan pembahasan pada pentingnya menjaga akidah serta mewujudkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Beliau menegaskan bahwa seorang muslim hendaknya tidak terjebak pada sikap materialistis yang mengabaikan bekal akhirat, yang dapat meninggalkan kewajiban-kewajiban hidup di dunia. Keduanya harus berjalan secara seimbang, selaras dengan prinsip wasathiyah (keseimbangan) yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

Guna memperkuat pesan mengenai hakekat kehidupan dunia dan keterbatasannya, Ustaz Salim Slamet mengutip sebuah nasihat bernilai tinggi dari Rasulullah saw.:
"Silakan engkau hidup di alam dunia bebas semaumu, tetapi ingat engkau akan mati. Silakan engkau cintai apa yang ingin engkau cintai, tetapi ingat suatu saat engkau akan berpisah dengannya. Dan silakan engkau berbuat atau bekerja sesukamu, tetapi ingat suatu saat pekerjaanmu akan diminta pertanggungjawaban."

Menjelaskan kutipan tersebut, Ustaz Salim Slamet menyampaikan bahwa nasihat Rasulullah saw. itu mengandung tiga peringatan fundamental bagi setiap insan, yaitu kepastian kematian, perpisahan, dan pertanggungjawaban amalan. Kematian merupakan batas akhir dari kesempatan manusia mengumpulkan bekal di dunia. Berbeda dengan benda mati yang tidak dimintai pertanggungjawaban, manusia akan berhadapan dengan pengadilan Allah Swt. atas segala perbuatan yang pernah dilakukan selama hidup di bumi.

Lebih lanjut, Ustaz Salim Slamet menekankan bahwa keterikatan emosional manusia terhadap harta, kemegahan, pangkat, jabatan, hingga sanak keluarga pada akhirnya akan terputus oleh perpisahan fisik. Sehebat apa pun rasa cinta dan upaya manusia untuk mempertahankan kenikmatan duniawi, semuanya bersifat sementara. Hanya rasa cinta yang dilandasi karena Allah Swt. dan Rasul-Nya serta amal-amal saleh yang tulus yang bakal setia mendampingi dan menyelamatkan manusia di alam kubur hingga akhirat kelak.
 
Oleh sebab itu, dalam konteks muamalah dan pencarian nafkah sehari-hari, khatib mengingatkan agar seluruh jamaah senantiasa berhati-hati dan berpegang teguh pada aturan syariat Islam. Bekerja dan berusaha mencari rezeki di dunia adalah hal yang diprioritaskan dan dianjurkan, selama pekerjaan tersebut berada dalam koridor yang halal dan jujur. Aktivitas duniawi yang niatnya diluruskan untuk beribadah dan mencari rida Allah Swt. secara otomatis akan berbuah pahala serta menjadi bekal investasi yang bernilai di akhirat.

Sebelum mengakhiri khutbahnya, Ustaz Salim Slamet mengingatkan jamaah mengenai pentingnya menjaga keikhlasan agar segala ilmu dan amal ibadah yang telah dikerjakan tidak menjadi sia-sia. Beliau membawakan riwayat sabda Nabi Muhammad saw.:
"Setiap manusia itu akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu. Orang-orang yang berilmu pun akan binasa kecuali orang-orang yang mengamalkan ilmunya. Dan orang-orang yang mengamalkan ilmunya pun akan binasa kecuali orang-orang yang ikhlas dalam melaksanakannya."

Sebagai penutup rangkaian khotbah, Ustaz Salim Slamet mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa menata niat dalam setiap aktivitas, baik ibadah mahḍah (ibadah khusus) maupun ghairu mahḍah (kegiatan sosial dan bermasyarakat). Keikhlasan hati merupakan fondasi utama dan syarat mutlak diterimanya suatu amal di sisi Allah Swt. Dengan memadukan ilmu, pengamalan yang nyata, dan keikhlasan yang tulus, seorang muslim diharapkan mampu meraih kebahagiaan yang hakiki dan sejati, baik di alam dunia maupun di alam akhirat kelak.

Reporter: Muhammad Hafidz Abdul Ghoni, KPI/3C
Uploaded Image

Jadikan Iqra’ Sebagai Fondasi Menuntut Ilmu

Dakwahpos.com, Bandung — Majelis Taklim Masjid Al-Khairat menggelar kegiatan pengajian rutin pada hari Minggu, 13 September 2026 (1 Rabi’ul Akhir 1448 H), yang dimulai pukul 16.00 WIB di Masjid Al-Khairat. Acara keagamaan yang dihadiri oleh para jemaah ibu-ibu ini diselenggarakan sebagai sarana silaturahmi sekaligus momentum untuk memperdalam pemahaman Al-Qur’an dan meneladani sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW. Rangkaian acara dibuka oleh Ibu Suryandari, dilanjutkan dengan pembacaan shalawat oleh Ibu Hidayati, serta lantunan tilawah dan syartil Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 113 oleh Ibu Ai Nurendah dan Ibu Umin. Puncak acara diisi dengan siraman rohani oleh Ustadzah Hj. Oom Munawarah yang mengupas makna Surat Al-’Alaq ayat 15 beserta hubungannya dengan sejarah dakwah Rasulullah SAW.

Dalam ceramahnya, Ustadzah Hj. Oom Munawarah menekankan pentingnya menghayati momentum kelahiran dan wafatnya Rasulullah SAW yang jatuh pada bulan Rabi’ul Awal, serta bagaimana nilai-nilai sejarah tersebut tetap relevan saat memasuki bulan Rabi’ul Akhir. Beliau menjelaskan tafsir Surat Al-’Alaq, mulai dari perintah membaca (iqra) sebagai dasar menuntut ilmu agama maupun pengetahuan umum, pentingnya menyadari kesadaran spiritual (Inna ilā rabbikar-ruj’ā) agar manusia tidak sombong atas harta kekayaan, hingga ancaman Allah SWT terhadap Abu Jahal yang senantiasa menghalangi dakwah dan ibadah Rasulullah SAW di Masjidil Haram. Beliau menyampaikan bahwa Allah SWT selalu menjaga Nabi Muhammad SAW melalui perlindungan malaikat, sehingga segala ancaman musuh-musuh Islam tidak pernah berhasil.

”Kita semua saat ini sudah memasuki bulan Rabi’ul Akhir, tetapi kita harus tetap menghayati momentum kelahiran dan wafatnya Rasulullah SAW yang jatuh pada bulan Rabi’ul Awal. Dalam Surat Al-’Alaq, perintah membaca (iqra) menjadi dasar utama dalam menuntut ilmu agama maupun pengetahuan umum. Selain itu, kita harus memiliki kesadaran spiritual melalui ayat Inna ilā rabbikar-ruj’ā agar manusia tidak sombong dan angkuh atas harta kekayaannya. Di dalam surat ini juga terdapat ancaman Allah SWT terhadap Abu Jahal yang senantiasa menghalangi dakwah dan ibadah Rasulullah SAW di Masjidil Haram. Namun, Allah SWT selalu menjaga Nabi Muhammad SAW melalui perlindungan para malaikat, sehingga segala ancaman musuh-musuh Islam tidak akan pernah berhasil.” Ujar Ustadzah Hj. Oom Munawarah dalam ceramahnya. 

Kegiatan pengajian berlangsung dengan khidmat dan mendapat apresiasi positif dari para jemaah. Salah satu jemaah, Ibu Suryandari, menyatakan bahwa materi ceramah yang disampaikan sangat mudah dipahami dan relevan untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. 

“Penyampaian ceramah oleh Ustadzah sangat baik dan menggunakan bahasa yang lugas sehingga mudah diikuti oleh para jemaah. Suasana pengajian di Masjid Al-Khairat ini juga sangat nyaman dan khidmat,” ujar Ibu Suryandari seusai acara.  Beliau menambahkan harapannya agar para jemaah dapat terus istikamah, semakin rajin menghadiri pengajian, serta senantiasa menjaga adab dan ketertiban selama kegiatan beragama berlangsung. Seluruh rangkaian pengajian kemudian ditutup dengan pembacaan doa bersama.

Reporter: Zeyni Jilan Nadezda Mentari KPI/3C 1254020052

Uploaded Image

Cerdaskan Tunas Muda dengan Tajwid dan Ibadah Bersama Ustadz Agus Gunawan di Masjid Al-Khairat Cipadung

Dakwahpos.com, Bandung — Kegiatan pengajian anak-anak berlangsung hangat dan ramai di Masjid Al-Khairat, Cipadung, pada Senin (21/9/2026) mulai pukul 18.30 WIB hingga memasuki waktu salat Isya. Acara yang diawali dengan pembacaan doa, selawat, rukun Islam, rukun iman, penalaran doa harian, serta hafalan niat dan bacaan salat lima waktu ini ditujukan untuk membina karakter Islami anak-anak sejak dini. Seluruh peserta didik mengikuti rangkaian kegiatan pembelajaran yang mencakup membaca Iqra serta Al-Qur’an secara bersama-sama, hafalan surah pendek, penalaran bacaan salat seminggu sekali, serta penulisan materi seputar tajwid dan tauhid (aqoidul iman). Selain itu, untuk mengasah kreativitas dan seni, anak-anak juga diajari memainkan hadrah yang kerap ditampilkan dalam peringatan hari besar Islam (PHBI).

Ustadz Agus Gunawan, selaku pengajar utama, menjelaskan bahwa penyampaian materi hukum tajwid seperti hukum mim mati sangat penting dipahami anak-anak, baik yang masih membaca Iqra maupun yang sudah masuk tahap Al-Qur’an. Menurut beliau, pemahaman mengenai ikhfa syafawi, idgham mimi, dan izhar syafawi harus mulai ditanamkan agar bacaan anak-anak menjadi benar dan tartil. Beliau menekankan bahwa ketika hukum ikhfa syafawi terjadi—yakni saat mim mati bertemu dengan huruf ba—cara membacanya harus disamarkan dengan dengung, ditekan, serta ditahan sepanjang dua harakat.

“Dengarkan, walaupun masih kelas Iqra, nanti ke depannya pasti ada bacaan seperti ini. Terutama yang sudah ke Al-Qur’an, jangan sampai tidak hafal kalian. Jadi, ikhfa syafawi itu terjadi ketika mim mati bertemu dengan huruf ba. Cara membacanya disamarkan dengan dengung, ditekan, dan ditahan dua harakat. Contohnya: Tarmihim bihijaratin. Tidak tarmihim bihijaratin, tapi ditekan, ditahan dua harakat: Tarmihiim... Bibirnya dirapatkan dulu,” tegas Ustadz Agus Gunawan di depan santrinya.

Di sisi lain, suasana pengajian malam itu terasa hidup dan interaktif berkat metode pembelajaran yang tidak kaku. Nadia Pujianti Suhaya, seorang santri kelas lima sekolah dasar yang diwawancarai di lokasi, mengungkapkan bahwa ia merasa nyaman belajar di Masjid Al-Khairat karena lokasinya yang dekat dengan rumah di RT 02 serta dikelilingi oleh teman-teman sepermainan. Meski sesekali sang guru bersikap tegas ketika anak-anak kurang fokus, suasana belajar tetap menyenangkan karena Ustadz Agus kerap mengajak bersenda gurau di sela-sela materi pembelajaran.

“Kalau enaknya itu jadi kayak bisa diajak main, terus jadi tidak terlalu kaku ya, bisa diajak bercanda. Tapi kalau lagi tegas, kalau kita ngobrol suka langsung dibilang ‘Astagfirullahaladzim, bacaan kalian,’ gitu. Sama di sini enaknya karena banyak teman yang kenal dan lebih banyak praktik membaca Al-Qur’an,” tutur Nadia mengenai pengalamannya belajar di pengajian tersebut.

Kegiatan yang ditutup dengan pembacaan doa kafaratul majelis dan salat Isya berjemaah ini memberikan hikmah mendalam tentang pentingnya pendidikan agama sejak usia dini. Integrasi antara pembelajaran teori tajwid, praktik ibadah harian, serta kegiatan seni keagamaan seperti hadrah terbukti mampu membentuk generasi muda yang berkepribadian Islami dan berwawasan luas. Melalui ketegasan yang dibalut dengan pendekatan ramah anak, pengajian di tingkat lokal seperti di Masjid Al-Khairat ini menjadi benteng utama dalam menjaga tradisi keilmuan Islam serta mempererat tali silaturahmi antarwarga di lingkungan sekitar.


Reporter : Zeyni Jilan Nadezda Mentari, KPI/3C 1254020052

Uploaded Image

Makanan Haram dan Maksiat Mata Jadikan Ibadah Terasa Hampa

 

Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Ilaa Khoiri Ummah Pasir Biru, menggelar Jum’atan rutinan, berfokus pada faktor-faktor penyebab tumpulnya mata hati dan hilangnya kenikmatan dalam beribadah, Jum’at (11/09/2026). Khutbah rutin yang diadakan setiap Jum’at ini dipimpin oleh Ustadz Tatang Supendi, S.Pd.I., dan diikuti puluhan jamaah dari berbagai kalangan setelah pelaksanaan salat jum’at berjamaah.

Dalam khutbah Jumat ini, Ustadz Tatang Supendi mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan seorang muslim di hadapan Allah bukanlah jabatan, kekayaan, atau popularitas, melainkan nilai ketakwaan. Banyak orang yang terpandang di masyarakat, namun nilai ibadahnya hampa di hadapan Allah. Salah satu indikator utamanya adalah hilangnya kelezatan dan kekhusyukan saat beribadah.

"Banyak faktor yang menjadikan seseorang malas beribadah atau tidak nikmat beribadah. Yang pertama adalah al-aklul haram, sumber makanannya dari barang yang haram," ujar Ustadz Tatang Supendi, Jum’at (11/09/2026).

Merasa malas dan tidak tenang saat beribadah bisa jadi pertanda adanya penyakit dalam jiwa.  Ustadz Tatang Supendi menegaskan bahwa hilangnya nikmat ibadah sering kali disebabkan oleh dua hal yang jarang disadari.

Makanan dari Sumber yang Haram (Al-Aklul Haram), Ustadz Tatang Supendi mengingatkan pentingnya menjaga konsumsi tetap halalan thayyiban. Makanan haram bukan hanya soal zatnya, tetapi juga cara mendapatkannya. Mengutip Imam Al-Ghazali, makanan haram dapat menggelapkan hati, mengacaukan pikiran jernih, dan mematikan kepekaan agama.

Maksiat Mata (An-Nadzru ilal Maharim), di era digital, maksiat mata makin mudah terjadi cukup lewat layar ponsel di rumah. Mengutip ulama tabi'in Hasan Al-Basri, kebiasaan melihat hal yang diharamkan akan membuat Allah mencabut rasa manis dan nikmatnya beribadah.

Oleh karena itu, Ustadz Tatang Supendi mengajak jemaah untuk menyucikan diri (at-tawwabiin wa al-mutathahhiriin) dengan memperbanyak tobat, menjaga kebersihan rezeki, serta membatasi pandangan dari hal-hal yang tidak bermanfaat.

Reporter: Alya Hamidah, KPI 3/C

Cerdaskan Tunas Muda dengan Tajwid dan Ibadah Bersama Ustadz Agus Gunawan di Masjid Al-Khairat Cipadung

Kegiatan pengajian anak-anak berlangsung hangat dan ramai di Masjid Al-Khairat, Cipadung, pada Senin (21/9/2026) mulai pukul 18.30 WIB hingga memasuki waktu salat Isya. Acara yang diawali dengan pembacaan doa, selawat, rukun Islam, rukun iman, penalaran doa harian, serta hafalan niat dan bacaan salat lima waktu ini ditujukan untuk membina karakter Islami anak-anak sejak dini. Seluruh peserta didik mengikuti rangkaian kegiatan pembelajaran yang mencakup membaca Iqra serta Al-Qur’an secara bersama-sama, hafalan surah pendek, penalaran bacaan salat seminggu sekali, serta penulisan materi seputar tajwid dan tauhid (aqoidul iman). Selain itu, untuk mengasah kreativitas dan seni, anak-anak juga diajari memainkan hadrah yang kerap ditampilkan dalam peringatan hari besar Islam (PHBI).

Ustadz Agus Gunawan, selaku pengajar utama, menjelaskan bahwa penyampaian materi hukum tajwid seperti hukum mim mati sangat penting dipahami anak-anak, baik yang masih membaca Iqra maupun yang sudah masuk tahap Al-Qur’an. Menurut beliau, pemahaman mengenai ikhfa syafawi, idgham mimi, dan izhar syafawi harus mulai ditanamkan agar bacaan anak-anak menjadi benar dan tartil. Beliau menekankan bahwa ketika hukum ikhfa syafawi terjadi—yakni saat mim mati bertemu dengan huruf ba—cara membacanya harus disamarkan dengan dengung, ditekan, serta ditahan sepanjang dua harakat.

“Dengarkan, walaupun masih kelas Iqra, nanti ke depannya pasti ada bacaan seperti ini. Terutama yang sudah ke Al-Qur’an, jangan sampai tidak hafal kalian. Jadi, ikhfa syafawi itu terjadi ketika mim mati bertemu dengan huruf ba. Cara membacanya disamarkan dengan dengung, ditekan, dan ditahan dua harakat. Contohnya: Tarmihim bihijaratin. Tidak tarmihim bihijaratin, tapi ditekan, ditahan dua harakat: Tarmihiim... Bibirnya dirapatkan dulu,” tegas Ustadz Agus Gunawan di depan santrinya.

Di sisi lain, suasana pengajian malam itu terasa hidup dan interaktif berkat metode pembelajaran yang tidak kaku. Nadia Pujianti Suhaya, seorang santri kelas lima sekolah dasar yang diwawancarai di lokasi, mengungkapkan bahwa ia merasa nyaman belajar di Masjid Al-Khairat karena lokasinya yang dekat dengan rumah di RT 02 serta dikelilingi oleh teman-teman sepermainan. Meski sesekali sang guru bersikap tegas ketika anak-anak kurang fokus, suasana belajar tetap menyenangkan karena Ustadz Agus kerap mengajak bersenda gurau di sela-sela materi pembelajaran.

“Kalau enaknya itu jadi kayak bisa diajak main, terus jadi tidak terlalu kaku ya, bisa diajak bercanda. Tapi kalau lagi tegas, kalau kita ngobrol suka langsung dibilang ‘Astagfirullahaladzim, bacaan kalian,’ gitu. Sama di sini enaknya karena banyak teman yang kenal dan lebih banyak praktik membaca Al-Qur’an,” tutur Nadia mengenai pengalamannya belajar di pengajian tersebut.

Kegiatan yang ditutup dengan pembacaan doa kafaratul majelis dan salat Isya berjemaah ini memberikan hikmah mendalam tentang pentingnya pendidikan agama sejak usia dini. Integrasi antara pembelajaran teori tajwid, praktik ibadah harian, serta kegiatan seni keagamaan seperti hadrah terbukti mampu membentuk generasi muda yang berkepribadian Islami dan berwawasan luas. Melalui ketegasan yang dibalut dengan pendekatan ramah anak, pengajian di tingkat lokal seperti di Masjid Al-Khairat ini menjadi benteng utama dalam menjaga tradisi keilmuan Islam serta mempererat tali silaturahmi antarwarga di lingkungan sekitar.


Reporter : Zeyni Jilan Nadezda Mentari, KPI/3C 1254020052

Uploaded Image

Ketua DKM Kifayatul Ahyar Ajak Jamaah Jaga Lisan dan Persaudaraan

 

Dakwahpos.com, Bandung - Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Kifayatul Ahyar mengajak jamaah untuk senantiasa menjaga lisan serta mempererat tali persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat yang menekankan pentingnya menjaga ucapan sebagai bagian dari akhlak seorang muslim.

Dalam penyampaiannya, Ketua DKM Kifayatul Ahyar menjelaskan bahwa lisan merupakan salah satu hal yang sering dianggap sederhana, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap hubungan antarmanusia. Perkataan yang keluar tanpa dipikirkan terlebih dahulu dapat menimbulkan kesalahpahaman, menyakiti perasaan orang lain, bahkan memicu perselisihan.

Ia mengingatkan jamaah agar tidak terbiasa membicarakan keburukan orang lain, menyebarkan kabar yang belum diketahui kebenarannya, maupun mengucapkan sesuatu hanya karena terbawa emosi. Menurutnya, seorang muslim perlu membiasakan diri untuk mempertimbangkan setiap perkataan sebelum disampaikan, terutama ketika berhadapan dengan orang lain.

“Jangan sampai lisan kita menjadi sebab orang lain sakit hati. Sebelum berbicara, kita harus berpikir dulu, apakah yang kita sampaikan itu benar, baik, dan ada manfaatnya. Kalau tidak, lebih baik kita diam,” ujar Ketua DKM Kifayatul Ahyar dalam khutbahnya.

Selain menjaga lisan, jamaah juga diajak untuk menjaga persaudaraan. Ketua DKM Kifayatul Ahyar menyampaikan bahwa perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Perbedaan pendapat, latar belakang, maupun cara pandang seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling bermusuhan dan memutus hubungan.

“Persaudaraan itu jangan hanya dijaga ketika kita sedang sepemikiran. Justru ketika ada perbedaan, kita harus belajar saling menghargai. Jangan karena masalah kecil, hubungan yang sudah baik menjadi rusak,” tuturnya.

Pesan tersebut juga dikaitkan dengan kehidupan masyarakat saat ini yang semakin banyak menggunakan media sosial sebagai sarana berkomunikasi. Menurutnya, menjaga lisan tidak hanya dilakukan ketika berbicara secara langsung, tetapi juga ketika menulis komentar, membuat unggahan, maupun menyampaikan pendapat di media sosial.

Jamaah diingatkan agar tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Sikap terburu-buru dalam membagikan informasi dapat menimbulkan fitnah dan memperkeruh hubungan antarsesama. Karena itu, kehati-hatian dalam berkomunikasi menjadi hal penting agar perkataan maupun tulisan yang disampaikan tidak menimbulkan dampak buruk bagi orang lain.

Ketua DKM Kifayatul Ahyar juga mengajak jamaah untuk membiasakan perkataan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, menjaga ucapan bukan berarti seseorang tidak boleh menyampaikan pendapat, tetapi bagaimana pendapat tersebut disampaikan dengan cara yang baik dan tetap menghargai orang lain.

Melalui khutbah tersebut, jamaah diajak untuk menjadikan menjaga lisan dan persaudaraan sebagai bagian dari penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dengan ucapan yang baik, sikap saling menghargai, serta kemauan untuk menjaga hubungan dengan sesama, diharapkan tercipta kehidupan masyarakat yang lebih rukun dan harmonis.

Reporter: Rika Sri Patonah/KPI 3-C

Ustaz Nurkholis Tekankan Pentingnya Mengukur Iman Melalui Sedekah

 

Dakwahpos.com, Bandung- Ustaz Nurkholis menyampaikan pesan mendalam mengenai cara mengukur keimanan seorang muslim saat bertindak sebagai khatib salat Jumat di Masjid Al-Ikhlas Cipadung. Beliau mengajak jemaah kembali menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup utama di tengah krisis keteladanan masyarakat saat ini.

Pentingnya menyadari nikmat harian seperti bernapas, minum saat kemarau, dan berwudu menjadi pembahasan awal khotbah. Ustaz Nurkholis menyayangkan godaan setan yang sering membuat manusia lupa bersyukur hanya karena masalah kecil.

"Masalah sedikit membuat kita sering lupa pada nikmat Allah, lupa berdzikir, dan lupa bersyukur," kata Ustaz Nurkholis, Jumat (11/09/2026).

Ustaz Nurkholis menegaskan bahwa kadar keimanan seseorang dapat diukur dari tingkat kepatuhannya menjalankan perintah Al-Qur'an. Salah satu indikator nyatanya terlihat dari keberanian dan keikhlasan seseorang dalam menunaikan sedekah.

Perumpamaan sedekah dalam Surah Al-Baqarah ayat 261 dijelaskan sebagai bentuk investasi akhirat yang sangat berlipat ganda. Satu benih yang diinfakkan di jalan Allah akan menumbuhkan tujuh tangkai dengan seratus biji di setiap tangkainya.

Secara matematis, sedekah Rp100.000 dijanjikan balasan bernilai Rp700.000 oleh Allah SWT. Namun, minimnya keyakinan pada kalamullah membuat seseorang justru sering memilih memberikan nominal terkecil saat bersedekah.

"Kalau kita benar-benar yakin pada ayat sedekah, tidak akan ada masjid yang kekurangan dana dan tidak ada guru ngaji yang digaji murah," ujar Ustadz Nurkholis, Jumat (11/09/2026).
Khotbah diakhiri dengan ajakan memohon pertolongan Allah melalui sabar dan salat agar diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Orang yang wafat saat menjalankan zikir dan bersyukur dijamin tetap hidup mulia di sisi Allah SWT.

Reporter: Muhammad Hafidz Abdul Ghoni , KPI/3C

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos