Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Ustaz Ajang Urai Tiga Kunci Keselamatan Hidup


Dakwahpos.com, Bandung – Sejumlah jemaah memadati Masjid Besar Al-Qolam Kelurahan Cimahi untuk menghadiri kegiatan ceramah subuh pada Jumat, (23/10/2026). Kegiatan keagamaan tersebut mengulas materi mengenai tiga amalan utama sebagai kunci keselamatan manusia di dunia dan akhirat. 

Dalam tausiyahnya, Ustaz Ajang menekankan pentingnya menjaga konsistensi dalam menuntut ilmu agama, melanggengkan zikir, serta memperbanyak pembacaan selawat. Beliau menjelaskan bahwa amalan-amalan tersebut menjadi sarana penyuci dosa dan penentu kedudukan seorang hamba di akhirat kelak. 

“Barang siapa yang belajar satu bab ilmu agama dengan ikhlas, maka nilainya lebih utama dibandingkan melaksanakan salat sunah seribu rakaat,” ujar Ajang di hadapan para jemaah pada Jumat, (23/10/2026). 

Penceramah menguraikan lima hal yang dapat membuka pintu rezeki dan keberkahan hidup, yakni penguasaan ilmu, ikhtiar, kejujuran, silaturahmi, serta doa. Beliau mengingatkan bahwa rezeki tidak hanya berwujud materi, melainkan juga berupa nikmat kesehatan dan kesempatan beribadah. 

Beliau juga menggarisbawahi bahwa kejujuran merupakan pondasi utama dalam membangun kepercayaan jangka panjang. Sementara itu, silaturahmi dinilai mampu memperluas kesempatan baik serta melapangkan rezeki bagi setiap Muslim. 

Selain itu, penceramah mengimbau jemaah untuk menghidupkan amalan sunah pada hari Jumat, seperti membaca Surah Al-Kahfi serta memperbanyak amalan zikir harian. Keistiqamahan dalam menjalankan amalan tersebut diyakini mampu mendatangkan ketenangan jiwa. 

Beliau mengingatkan agar jemaah senantiasa bersyukur atas ketersediaan majelis ilmu di lingkungan tempat tinggal. Kehadiran dalam pengajian rutin dipandang sebagai sarana efektif untuk memperdalam pemahaman agama secara berkesinambungan. 

Kajian keagamaan tersebut diakhiri dengan doa bersama agar seluruh jemaah senantiasa diberikan kelapangan rezeki, kesehatan, serta diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah. 



Reporter: Saffanah Ghassani, KPI/3B 


Pengajian Safinatun Najah di Al-Ianah Cibogo, Ahmad Al Qony Uraikan Ketentuan Ibadah haji

 

Dakwahpos.com, Bandung — Santri pondok pesantren Rancaherang mengikuti kajian rutinan Safinatu najah tentang ketentuan ibadah haji pada malam hari di Masjid Al-Ianah, Bandung. Kajian tersebut membahas syarat wajib, rukun, dan wajib haji sebagai lanjutan dari materi bab puasa. Rabu (16/09/2026).

Pemateri menjelaskan bahwa seseorang yang diwajibkan melaksanakan ibadah haji harus memenuhi beberapa syarat, di antaranya beragama Islam, merdeka, mukalaf, serta memiliki kemampuan. Kemampuan tersebut mencakup bekal, sarana perjalanan, kondisi kesehatan, kemampuan finansial, serta keamanan perjalanan. 

“Jadi teman-teman, syarat wajib haji, saya ulangi lagi, muslim beragama Islam, merdeka, mukalaf, mampu, mustati'in ya.” Ujar Ustaz Ahmad Al Qony, Rabu (16/9/2026).

Selain syarat wajib, Ustaz Ahmad Al Qony membahas enam rukun haji berdasarkan Safinatun Najah, yaitu ihram, wukuf di Arafah, tawaf ifadah, sa'i, mencukur atau memendekkan rambut, serta tertib dalam sebagian besar rukun. Untuk umrah, rukun tersebut sama kecuali wukuf di Arafah. 

“Rukun haji dan umrah menurut Safinatun Najah ada enam. Yang pertama al-ihramu. Ihram. Wal wukufu bi-arafah, wukuf di-arafah. Wa tawaf ifadhoh, kemudian tawaf ifadhoh.”

Ustaz Ahmad Al Qony kemudian menjelaskan perbedaan antara rukun dan wajib haji. Rukun merupakan bagian ibadah yang tidak boleh ditinggalkan karena dapat menyebabkan haji tidak sah, sedangkan wajib haji yang ditinggalkan memiliki konsekuensi pembayaran dam. 

“Kalau rukun haji itu rangkaian ibadah haji yang tidak boleh ditinggalkan sama sekali. Apabila ditinggalkan maka hajinya tidak sah.”

Kajian ditutup dengan pembahasan tujuh wajib haji, yaitu ihram dari miqat, mabit di Muzdalifah, melontar Jumrah Aqabah, melontar tiga jumrah pada hari tasyrik, mabit di Mina, tahallul, dan tawaf wada. Ustaz Ahmad Al Qony juga mempersilakan peserta yang pernah berhaji untuk berbagi pengalaman dan memberikan koreksi terhadap materi yang disampaikan.  


Reporter: Izma Amanatullah KPI 3B

Wakil Ketua DKM Baitul Muttaqien Mengajak Warga Bersama-sama Memakmurkan Masjid


Dakwahpos.com, Bandung — Wakil Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Jami Baitul Muttaqien, Mulyhardi, mengajak warga dan jamaah untuk bersama-sama memakmurkan masjid melalui kegiatan ibadah, pendidikan keagamaan, dan pelayanan sosial di Cinunuk. Baginya, pengelolaan masjid membutuhkan kerja sama agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Sejak 2024 hingga sekarang, Mulyhardi menjabat sebagai Wakil Ketua DKM Masjid Jami Baitul Muttaqien. Dalam menjalankan amanah tersebut, ia membantu ketua DKM mengoordinasikan kegiatan dan mendukung perencanaan program masjid. Berbagai kegiatan dijalankan melalui kerja sama pengurus, warga, dan jamaah agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Kegiatan Masjid Jami Baitul Muttaqien meliputi salat berjamaah, pengajian rutin, salat Jumat, serta penyelenggaraan salat Idulfitri dan Iduladha. Masjid juga memfasilitasi kegiatan zakat fitrah, infak, sedekah, dan kurban sebagai bagian dari pelayanan keagamaan kepada masyarakat.

Selain kegiatan ibadah, pengurus masjid menjalin kerja sama dengan lingkungan rukun warga (RW) dalam pelayanan sosial, termasuk membantu pengurusan jenazah. Kerja sama tersebut menjadi salah satu bentuk keterlibatan masjid dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar.

Dalam pengelolaannya, DKM juga menghadapi perbedaan pandangan di antara sebagian pengurus dan jamaah, salah satunya mengenai rencana pembentukan yayasan. Perbedaan tersebut membutuhkan komunikasi dan musyawarah agar keputusan yang diambil tetap mempertimbangkan kepentingan bersama serta menjaga rasa memiliki masyarakat terhadap masjid.

Kepercayaan jamaah menjadi hal penting dalam keberlangsungan kegiatan masjid. Oleh karena itu, keterbukaan dalam pengelolaan dana, termasuk penyampaian pemasukan dan pengeluaran, perlu dijaga agar masyarakat dapat mengetahui penggunaan dana yang dipercayakan kepada pengurus.

Ke depan, pengurus berharap dapat mengembangkan fasilitas pendidikan keagamaan bagi anak-anak dan remaja. Rencana tersebut antara lain mencakup penyediaan ruang belajar yang lebih memadai. Pengembangan fasilitas dan pelayanan sosial lainnya masih bergantung pada kemampuan pendanaan serta dukungan masyarakat.

Keterlibatan generasi muda juga menjadi perhatian dalam memakmurkan masjid. Masjid diharapkan tidak hanya menjadi tempat mengikuti kegiatan belajar agama, tetapi juga ruang bagi anak-anak dan remaja untuk membangun kedekatan dengan lingkungan masjid serta mengembangkan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kerja sama pengurus, warga, dan jamaah, Masjid Jami Baitul Muttaqien diharapkan terus berkembang sebagai pusat ibadah, pendidikan keagamaan, dan pelayanan sosial. Kebersamaan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat serta mewujudkan masjid yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.


Reporter: Fatir Mahmud Sidiq KPI/3B

Menelusuri Sejarah Berdirinya Masjid Ar-Rahman Arcamanik

Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Ar-Rahman yang berlokasi di Arcamanik, Kota Bandung ini, memiliki sejarah yang panjang dalam pembangunannya hingga menjadi sebuah bangunan masjid sebesar sekarang.


Menurut Ketua DKM Masjid Ar-Rahman, Bapak Widyo Misworo, inisiatif pembangunan masjid ini bermula dari para tokoh atau sesepuh warga lokal disana. Menurutnya, Masjid Ar-Rahman, Arcamanik ini bermula dari sebuah bangunan gudang dari developer perumahan. Yang kemudian gudang beserta tanahnya diwakafkan menjadi fasilitas umum, yang kemudian diperbaiki dan menjadi bangunan Masjid.


Disekitar rentang tahun 2017 hingga 2018, Ketua DKM Masjid Ar-Rahman sebelumnya, Bapak Haji Aswad, mengadakan sebuah rapat bersama para warga untuk memutuskan apakah area masjid yang lama harus diperbaiki atau di bangun yang baru seperti sekarang. Yang pada akhirnya, disepakatilah untuk membangun masjid yang baru.


“Sebenarnya usulan pemindahan sudah ada karena masjid lama posisinya tidak di tengah”, ujarnya.


Selama pembangunan area baru ini, adalah lahan Masjid Ar-Rahman ini adalah fasilitas umum dari developer perumahan. Bapak Widyo Misworo mengatakan, bahwa dalam surat keterangannya, disebutkan bahwa fasiltias umum tersebut diserahkan kepada warga sebagai tempat ibadah yang berlokasi di Jalan Purbamanik. Namun, ketika dicek ke Pemerintah Kota, ternyata developer tersebut belum melaporkannya, sehingga statusnya kini menjadi aset Pemkot Bandung, sementara bangunan di atasnya dibangun oleh warga.


“Kami kemudian mengajukan agar lahan ini tetap dijadikan masjid, dan pemerintah menyetujuinya”, tuturnya.


Dampak dari pembangunan area baru dari Masjid Ar-Rahman, adalah meningkatnya antusiasme warga sekitar Masjid. Menurutnya, kebijakan dari pengurus DKM Masjid Ar-Rahman adalah untuk menjadikan Masjid ini sebagai Masjid bersama kaum muslimin Ahlussunnah wal Jamaah yang diharapkan memancarkan rahmatan lil alamin. Sementara untuk area Masjid yang lama, akan didesain menjadi ruangan serbaguna.


“Sesuai rencana induk (master plan) tahun 2018, area bawah akan didesain menjadi ruangan serbaguna untuk rapat, pernikahan, pengajian umum, atau peringatan 17-an. Bangunan lama tidak akan dirobohkan, melainkan dialihfungsikan. Bagian bawahnya akan dibuat menjadi area luas (blong) untuk acara, dan di sebelah selatan tetap difungsikan sebagai sekolah TK”, ujarnya.


Reporter : Muhammad Habil Apri Gholi, KPI 3/D
Uploaded Image

Sejarah Awal Pembangunan Masjid Baitul Huda Cipadung Melalui Gotong Royong


Dakwahpos.com, Bandung - Pada Rabu (14/10/2026) di Masjid Baitul Huda Cipadung, Ibu Satirah selaku istri dari kepala DKM menyampaikan bahwa pembangunan masjid ini memiliki nilai sejarah tersendiri yang tidak terlepas dari peran aktif dan semangat kebersamaan warga sekitar. Sejak awal perencanaannya, seluruh proses pendirian masjid di atas tanah wakaf ini dikerjakan secara swadaya oleh masyarakat. 

Narasumber mengenang bahwa pada masa awal pembangunan, warga saling bahu-membahu dan bergotong royong tanpa mengenal lelah demi mewujudkan tempat ibadah yang layak. Hal tersebut dilakukan agar jemaah memiliki sarana ibadah yang nyaman untuk kegiatan keagamaan sehari-hari. 

"Ya, kita gotong-royong sama-sama, warga sekitar masjid. Jadi emang inisiatif bersama-sama untuk bangun masjid," ujar Ibu Satirah saat menceritakan kilas balik proses pembangunan awal. 

Seiring berjalannya waktu, bangunan masjid yang lama sempat mengalami kerusakan dan hampir runtuh sehingga memerlukan renovasi total. Berkat kerja sama pengurus DKM di bawah kepemimpinan Ketua DKM Bapak Tarosidin serta para donatur, renovasi bangunan baru tersebut akhirnya dapat direalisasikan. 

Terkait pendanaan proyek renovasi dan operasional rutin, pihak pengelola senantiasa berupaya mencari dukungan dari para dermawan dengan penuh keikhlasan. "Kita cari-cari dana biasa dari donatur, alhamdulillah selalu dipermudah," ungkap Ibu Satirah menceritakan proses pencarian dana. 

Di akhir wawancara, pihak pengurus menyampaikan harapan besar agar Masjid Baitul Huda Cipadung terus membawa berkah dan semakin makmur. Beliau berpesan agar semangat gotong royong dan kepedulian warga terhadap kelangsungan masjid dapat terus terjaga dari generasi ke generasi. 

Reporter: Nur Qolbi, KPI/3D


Sistem EMIS Kemenag Resmi Terintegrasi di Pengajian Anak Baitul Huda


Dakwahpos.com, Bandung - Seluruh data santri pengajian anak-anak di Masjid Baitul Huda Cipadung kini resmi terintegrasi ke dalam sistem EMIS Kementerian Agama (Kemenag). Integrasi data pendidikan keagamaan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Madrasah, Bapak Yaya, pada Kamis (08/10/2026).

Bapak Yaya menjelaskan bahwa integrasi sistem ini memberikan kepastian administrasi bagi para santri usia 4 tahun hingga tingkat SD. Melalui pendataan baku ini, seluruh santri dipastikan memiliki rekam jejak pendidikan yang terstruktur untuk jenjang berikutnya.

"Ketika nanti anak-anak masuk MI, MTs, atau MA, nomor NIS-nya tidak akan hilang jadi terus berlanjut," ujar Bapak Yaya menekankan manfaat penting pendataan digital tersebut.

Dalam keterangannya, beliau mengonfirmasi bahwa kurikulum pengajian formal ini telah disesuaikan dengan standar Kemenag, mencakup materi Akidah Akhlak hingga Bahasa Arab.

Pembelajaran untuk santri kelas 2 SD ke atas dikonsentrasikan seusai Salat Magrib hingga Isya.

Mengenai dinamika mengajar generasi muda, Bapak Yaya mengakui adanya tantangan tersendiri dalam menjaga semangat belajar para santri. Pendekatan edukasi saat ini mengedepankan kesabaran dan pola pembinaan yang kondusif tanpa menerapkan hukuman fisik.

"Pendidikan tidak akan bisa berjalan tanpa ada kolaborasi antara orang tua dengan guru," tegas Bapak Yaya. Beliau sangat berharap orang tua dapat memberikan keteladanan (uswatun hasanah) dalam beribadah saat anak berada di rumah.

Reporter: Nur Qolbi, KPI/3D

Seni Rebana Ibu-Ibu Makmurkan Pengajian Masjid Baitul Huda Cipadung

 

Dakwahpos.com, Bandung- Kegiatan pengajian rutin majelis taklim ibu-ibu di Masjid Baitul Huda, Cipadung, terus berjalan aktif sebagai sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga. Acara yang digelar pada Rabu (14/10/2026) tersebut berlangsung semarak dan diikuti dengan penuh antusias oleh puluhan jemaah yang datang dari berbagai kawasan.

 

Salah satu anggota majelis taklim, Ibu Satirah, menyampaikan bahwa kegiatan mingguan ini menjadi ruang positif untuk mengisi waktu luang para ibu sekaligus memakmurkan masjid. Ia menegaskan bahwa keikutsertaan warga secara aktif sangat penting agar kegiatan keagamaan di lingkungan setempat dapat terus bertumbuh dan membawa manfaat bersama.

 

Ibu Satirah juga membeberkan bahwa jemaah yang terdata aktif dalam kelompok pengajian ini telah mencapai sekitar 70 hingga 80 orang. Menariknya, ia menyebutkan bahwa mayoritas jemaah yang hadir justru berdatangan dari luar lingkungan RT dan RW setempat demi menuntut ilmu agama.

 

"Adanya grup rebana ini jadi hiburan untuk kita, terutama saat peringatan hari besar Islam seperti Muludan atau Rajaban," ujar Ibu Satirah saat menceritakan peran kelompok seni musik islami yang selalu menjadi pembuka sebelum ceramah inti dimulai.

 

Grup rebana kebanggaan masjid ini tercatat pernah menyabet juara ketiga dalam kompetisi tingkat Kecamatan Cibiru. Untuk menjaga performa tanpa mengganggu aktivitas berdagang maupun mengurus rumah tangga, Ibu Satirah mengarahkan agar latihan rutin dikondisikan tiga hari sebelum jadwal tampil.

 

"Kami berharap generasi muda mau melanjutkan estafet kelestarian seni rebana ini dan terus memakmurkan masjid," tutur Ibu Satirah. Guna memperkaya syiar dakwah, pihak pengurus kini juga mulai menginisiasi latihan selawat hadroh yang dibimbing langsung oleh mahasiswa Muhammadiyah.

 

Reporter: Nur Qolbi, KPI/3D

Uploaded Image

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos