Reporter: Raka Dean Zakiansyah 3/D


Salah seorang pemuda masjid setempat, Abdul Aziz, mengaku senang melihat suasana salat Jumat yang ramai, terlebih dengan banyaknya anak-anak yang turut hadir. Menurutnya, hal itu menandakan anak-anak mulai terbiasa datang ke masjid sejak dini.
“Sebagai pemuda masjid, saya justru senang melihat hal seperti ini, karena artinya anak-anak mulai terbiasa datang ke masjid sejak kecil,” ujar Abdul Aziz, pemuda Cibiru Wetan yang rutin salat Jumat di masjid tersebut.
Ia mengakui masih ada anak-anak yang bercanda atau mengobrol ketika khatib menyampaikan khotbah. Namun, ia menilai hal itu wajar karena mereka masih dalam proses belajar.
“Tinggal bagaimana kita sebagai orang yang lebih dewasa bisa mengarahkan dan memberi contoh yang baik kepada mereka,” tuturnya.
Menurut Abdul Aziz, kehadiran anak-anak bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan, melainkan kabar baik bagi masa depan masjid. Syaratnya, tetap ada bimbingan agar pelaksanaan salat Jumat berlangsung tertib dan khusyuk.
Reporter: Alpiyan Pasha, KPI/3D
Dalam penyampaiannya, ia menjelaskan secara mendalam bahwa sikap istikamah merupakan cermin utama dari kuatnya keimanan seseorang. Untuk memperkuat argumentasi tersebut, ia mengutip sebuah hadis shahih riwayat sahabat Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi. Dalam riwayat itu, beliau pernah meminta nasehat ringkas namun padat dari Rasulullah SAW mengenai ajaran Islam. Menjawab permintaan tersebut, Rasulullah SAW memberikan pesan yang sangat mendasar namun memiliki makna mendalam bagi setiap muslim.
"Istikamah yang sejati itu dilandasi oleh keimanan. Orang yang beristikamah adalah mereka yang teguh pendirian dalam menjalankan kewajiban dari Allah SWT serta mampu menghadapi godaan setan," ujar Ustaz Wahyudi di hadapan para jamaah.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa ibadah kepada Allah SWT tidak memiliki batas waktu atau jeda selama seseorang masih bernapas, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Hijr ayat 99. Selain ibadah (mahḍah) seperti salat, ia juga mengimbau jamaah untuk mengubah rutinitas harian, seperti makan dan tidur, itu menjadi bernilai ibadah di mata Allah SWT dengan cara mencontoh sunah Rasulullah SAW.
"Makan dengan tangan kanan, membaca doa, serta berhenti sebelum kenyang adalah contoh sederhana bagaimana aktivitas harian kita bisa bernilai pahala," tambahnya.
Mengakhiri khutbahnya, ia menguraikan keutamaan bagi orang yang beristikamah, di antaranya akan didampingi malaikat saat sakratulmaut, dihilangkan rasa takut dan sedihnya, serta mendapatkan perlindungan langsung dari Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat. Ia juga membagikan empat langkah praktis agar umat Islam dapat menjaga istikamah, yakni memurnikan niat, berislam secara menyeluruh (kaffah), memulai amalan kebaikan dari hal kecil secara konsisten, serta memperbanyak doa memohon ketetapan hati.
Rangkaian ibadah salat Jumat di Masjid Nurul Ilmi tersebut berlangsung dengan lancar, tertib, dan penuh kekhusyukan hingga akhir doa penutup.
Reporter: Alpiyan Pasha, KPI/3D
Dalam ceramahnya, Ustaz Nurdin menjelaskan bahwa persoalan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Seseorang dapat menghadapi berbagai kesulitan secara bergantian, mulai dari persoalan ekonomi hingga kegelisahan dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, umat Islam diajak untuk menyikapi setiap permasalahan dengan sabar, berikhtiar, dan memohon pertolongan kepada Allah Swt..
Ustaz Nurdin mengutip Surah At-Talaq ayat 2-3 yang menjelaskan bahwa Allah Swt. akan memberikan jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa serta memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Pesan tersebut menjadi pengingat bagi jemaah agar senantiasa menjaga ketakwaan ketika menghadapi kesulitan dan tidak hanya menggantungkan harapan pada kemampuan diri sendiri.
Selain berikhtiar, jemaah juga diingatkan untuk membiasakan diri berdoa ketika menghadapi kegelisahan dan kesedihan. Dalam ceramahnya, Ustaz Nurdin menyampaikan doa agar Allah Swt. menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari diri seorang hamba. Doa tersebut menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual dalam memohon ketenangan dan pertolongan kepada Allah Swt..
Pembahasan selanjutnya menyoroti pentingnya menjaga amal saleh dalam kehidupan sehari-hari. Ustaz Nurdin menjelaskan bahwa amal saleh tidak terbatas pada salat, membaca Al-Qur'an, maupun menghadiri majelis ilmu. Berbagai perbuatan baik dalam kehidupan keluarga dan lingkungan masyarakat juga perlu dilakukan dengan niat yang tulus dan penuh keikhlasan.
Ia turut mencontohkan pentingnya membantu sesama, menjalankan tanggung jawab dalam keluarga, serta menjaga hubungan baik dengan tetangga. Melalui contoh tersebut, jemaah diajak memahami bahwa kesempatan berbuat baik dapat ditemukan dalam aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, nilai-nilai ibadah tidak hanya diwujudkan melalui ritual keagamaan, tetapi juga melalui perilaku yang membawa kebaikan bagi orang lain.
Ustaz Nurdin juga mengingatkan jemaah agar senantiasa melakukan introspeksi terhadap keimanan dan amal perbuatannya. Menurut pesan yang disampaikan dalam ceramah, seorang muslim perlu memperhatikan kesungguhan dalam beribadah, menjauhi perbuatan dosa, dan menjaga keteguhan iman hingga akhir hayat. Hal ini menjadi bagian dari upaya memperbaiki diri sekaligus meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah Swt..
Melalui pengajian rutin Kamisan tersebut, jemaah diajak untuk menjadikan takwa, doa, keikhlasan, dan amal saleh sebagai pedoman dalam menghadapi persoalan kehidupan. Pesan yang disampaikan diharapkan dapat mendorong umat Islam untuk terus memperbaiki diri serta menerapkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.
Reporter: Najma Nur Fajriyah Kamal, KPI/3C
Dalam representasi khutbah tersebut, khatib menjelaskan bahwa ketakwaan menjadikan seorang hamba sebagai sumber sekaligus maksud dari kebaikan dan keberuntungan di dunia maupun di akhirat. Allah Swt. berjanji akan memberikan petunjuk, menghapus segala kesalahan, dan mengampuni dosa-dosa bagi hamba-Nya yang bertakwa.
Landasan tersebut mempertegas firman Allah Swt. dalam Surah Al-Anfal ayat 29 yang mengingatkan umat-Nya untuk senantiasa bertakwa. Melalui ayat tersebut Allah berfirman bahwa ketaqwaan akan memberikan Furqan atau kemampuan membedakan antara yang hak dan yang batil, serta mendatangkan rahmat dan karunia yang besar.
Lebih lanjut, khatib mengingatkan jemaah sidang Jumat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi atau permasalahan hidup agar terus-menerus menyampaikan dan meningkatkan ketakwaan. Kadangkala rezeki atau jalan keluar terasa tersumbat dikarenakan kualitas ketaqwaan yang belum maksimal dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini selaras dengan janji Allah Swt. dalam Surah At-Talaq ayat 2 - 3 bahwa barangsiapa yang bertakwa kepada-Nya, niscaya Allah akan membukakan jalan keluar dari segala kesempitan. Selain itu, Allah juga akan memberikan rezeki dari arah yang tidak pernah disangka-sangka oleh hamba-Nya.
Khatib kembali menegaskan bahwa kemuliaan yang hakiki menurut Allah Swt. tidak dilihat dari ras, kekayaan, kemiskinan, maupun penampilan fisik seperti ketampanan atau kecantikan. Standar kemuliaan seseorang di sisi Allah semata-mata diukur dari siapa yang paling bertakwa di antara mereka.
Oleh karena itu, seluruh jemaah diajak untuk terus berusaha menjadi hamba yang senantiasa menjaga ketakwaan, memohon kekuatan dan kesehatan agar istikamah dalam beribadah, serta berharap keberkahan selalu menyertai kehidupan bersama.
Reporter: Rifqi Alfiansyah