Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Hanya Dua Pengajar, Pengajian Anak di Masjid Al-Barokah, Pasir Biru Kekurangan Guru

Dakwahpos.com – Bandung. Pengajian anak-anak di Masjid Al-Barokah, Pasir Biru, kekurangan tenaga pengajar, Kamis (05/11/2026). Kegiatan belajar mengaji di masjid hanya memiliki dua pengajar, yaitu Ustaz Asep Anwarullah dan Ustaz Ujang.

Keterbatasan pengajar terasa ketika Ustaz Ujang berhalangan karena sakit, sehingga Ustaz Asep harus mengajar seluruh murid seorang diri. Ustaz Asep melibatkan murid yang sudah tahap Al-Quran ketika mengajar sendiri, ia mendahulukan murid yang masih tahap Iqra, lalu dilanjutkan dengan murid yang sudah Al-Quran.

“Makanya kalau yang ngajarnya Bapak sendiri. Nah, yang kecil-kecil itu dibantu ngajarin sama yang gede-gede yang sudah tua,” Ujar Ustaz Asep Anwarullah

Murid sudah tahap Al-Qur’an diminta membantu mengajar murid yang masih Iqra, agar waktu belajar tetap terkejar. Saat kedua pengajar hadir, kelas dibagi, Ustaz Ujang mengajar murid Iqra, sedangkan Ustaz Asep mengajar murid yang lebih besar.

“Di samping supaya waktunya terkejar ya. Supaya ada waktu yang buat anak kecil dan juga mau mendidik ke anak yang gede bagaimana cara ngajarin adik-adiknya gitu,” Ucap Ustazz Asep Anwarullah.

Ustaz Asep menerangkan bahwa pengajian di masjid itu diikuti sekitar 50 murid, dengan jumlah kehadiran rutin sekitar 30 sampai 40 anak. Materi yang diajarkan tidak hanya membaca Al-Qur’an dengan metode Iqra 1 sampai 6, tetapi juga fikih, tauhid, dan hafalan juz 30.

“Sekarang memang tidak ada guru lain selain kami berdua, dan itu menjadi kendala,” kata Ustaz Asep Anwarullah.

Dengan jumlah murid dan materi tersebut, Ustaz Asep Anwarullah sebagai DKM Al-Barokah tetap berharap kegiatan belajar dapat berjalan dan murid tetap mendapat bimbingan dengan baik.

Reporter: Pahmi Padila Emi, KPI/3B

 

Ke Masjid-Masjid, Ustazah Ida dan Ustazah Nur Pimpin Bacaan Tawasul di Pengajian Ibu-Ibu

Dakwahpos.com – Bandung. Ustazah Ida dan Ustazah Nur pimpin bacaan tawasul dalam pengajian ibu-ibu di sejumlah masjid di sekitar tempat tinggal. Kegiatan itu dijalankan bersama ketika pengajian di masjid Al-Barokah, masjid Ar-Rahman, masjid Al-Ikhlas, dan masjid Al-Ittihad, Senin (02/11/2026).

Ustazah Nur Hidayah mengatakan bacaan tawasul itu dilantunkan sebelum tausiyah dari ustaz dimulai. Ustazah Ida sebagai pembaca tawasul rutin, sedangkan Ustazah Nur hanya menggantikan ketika ustazah Ida berhalangan hadir

“Kadang tausiahnya juga ya Ibu kalau ustaznya enggak ada, tapi ya kalau Ibu mah belajar aja,” Ucap Ustazah Nur

Ustazah Nur menyebut jumlah ibu-ibu yang bertugas biasanya bertiga atau berempat. Ibu Maman dan Ibu Euis juga turut membantu di Masjid Al-Ittihad, lalu bergiliran membaca tawasul di tiap masjid.

“Biasanya bersama Ustazah Ida,” Kata Ustazah Nur.

Ustazah Nur menyebut jadwal memimpin pembacaan tawasul di masjid-masjid sekitar, yaitu hari senin di masjid Al-Barokah, hari selasa di masjid Ar-Rahman, hari rabu di masjid Al-Ittihad dan hari sabtu di masjid Al-Ikhlas.

“Tidak ada bayaran. Saya belajar saja, supaya semangat belajar lagi,” kata Ibu Nurhidayah.

Ustazah Nur menegaskan bahwa kegiatan berkeliling itu dijalaninya tanpa bayaran dan semata-mata untuk belajar. Ibu Nur menyampaikan bahwa dirinya bertugas di masjid mana pun yang memiliki jadwal pengajian ibu-ibu. Dengan jadwal bergilir itu, Ustazah Nur bersama ibu-ibu lain menjaga agar bacaan tawasul tetap dibaca sebelum tausiyah di masjid-masjid sekitar.

Reporter: Pahmi Padila Emi, KPI/3B

 

Ustaz Asep Anwarullah: “Kematian Pasti Datang, Jadikan Pengingat untuk Beramal”

Dakwahpos.com – Bandung. Ustaz Asep Anwarullah menyampaikan ceramah tentang takdir, kematian, dan persiapan menghadapi kematian di Masjid Al-Barokah, Pasir Biru, Senin (02/11/2026). Ia mengajak jamaah untuk tingkatkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pembahasan kematian sebagai pengingat.

Ustaz Asep Anwarullah membuka cceramah dengan menjelaskan dua macam takdir, yaitu takdir mu’allaq dan takdir mubram. Takdir mu’allaq adalah ketentuan Allah yang melibatkan peran manusia melalui usaha atau ikhtiar dan doa, sedangkan takdir mubram adalah ketentuan mutlak Allah yang tidak dapat diubah oleh usaha manusia, seperti kelahiran, jenis kelamin, dan kematian, termasuk waktu serta tempatnya.

“Apa pun yang menimpa kita semua, itu semuanya berada dalam takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala,” kata Ustaz Asep Anwarullah.

Ustaz Asep Anwarullah menyampaikan bahwa usaha, termasuk mencari nafkah, merupakan perintah Allah yang bernilai ibadah dan harus disertai doa. Ia menjelaskan bahwa doa dikabulkan dalam beberapa bentuk, ada yang langsung diberikan, ada yang ditunda, dan ada yang dibalas di akhirat dengan pahala yang berlipat ganda.

“Usaha harus disertai doa, dan doa pun harus disertai usaha. Allah pasti mengabulkan doa, tetapi Allah akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya,” ujar Ustaz Asep Anwarullah.

Ustaz Asep Anwarullah menerangkan bahwa kematian merupakan akhir kehidupan di dunia dan awal kehidupan di alam barzah. Ia menceritakan kisah sahabat Utsman bin Affan yang menangis ketika mendengar penjelasan Nabi tentang kehidupan di alam kubur.

“Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian,” kata Ustaz Asep Anwarullah.

Ustaz Asep Anwarullah menyebut hal pertama yang dapat dipersiapkan adalah beramal sebaik mungkin, merujuk pada Surah Al-Mulk tentang Allah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa yang terbaik amalnya.

“Amal yang terbaik itu amal yang dilaksanakan secara istikamah, yaitu rutin dan terus-menerus, walaupun jumlahnya sedikit,” kata Ustaz Asep Anwarullah.

Ustaz Asep Anwarullah memberi contoh amal istikamah, seperti sedekah rutin, puasa Senin dan Kamis, serta tadarus Al-Qur’an. Ia menyampaikan amal yang pahalanya terus mengalir setelah wafat, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh, sehingga orang tua yang mengajarkan Al-Qur’an kepada anak dan cucu akan terus menerima pahalanya.

Reporter: Pahmi Padila Emi, KPI/3B

Tiga Tingkatan Khusyuk dalam Salat, dari Masih Belajar hingga Merasakan Kehadiran Allah Swt

Dakwahpos.com, Bandung- Pengajian di Masjid At-Taufiq Pasirbiru pada Sabtu, 24 Oktober, diisi dengan kajian keislaman yang membahas tentang tiga tingkatan khusyuk dalam salat. Dalam kajiannya, Ustazah Ai Nurjanah menjelaskan bahwa khusyuk dalam salat bukan sekadar menjalankan gerakan dan melafalkan bacaan saja, tetapi juga bagaimana kita memahami maknanya dan menyadari kedudukan diri kita di hadapan Allah Swt. Dalam kajian tersebut, Ustazah Ai Nurjanah menjelaskan bahwa kekhusyukan dalam salat memiliki tiga tingkatan, yaitu Khusyuk Mubtadiin, Khusyuk ‘Abidin, dan Khusyuk ‘Arifin dengan kriteria nya masing-masing.

Ustazah Ai Nurjanah menjelaskan lebih lanjut bahwa tingkatan pertama adalah khusyuk mubtadiin, yaitu tingkatan bagi orang yang masih belajar untuk membangun kekhusyukan dalam salat. Pada tahap ini, seseorang tersebut mungkin sudah melaksanakan salat dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an, tetapi belum sepenuhnya memahami makna bacaan yang dilafalkannya. Beliau mencontohkan bahwa bacaan seperti Subhana rabbiyal 'adzhim ketika rukuk terkadang hanya diucapkan saja tanpa disertai pemahaman terhadap maknanya.

Tetapi, meskipun belum mencapai kekhusyukan yang mendalam, seseorang tidak seharusnya berhenti untuk memperbaiki ibadahnya. Ustazah Ai Nurjanah menegaskan bahwa proses belajar itu harus dijalani secara bertahap karena kesalahan orang yang sedang belajar masih bisa diperbaiki dan masih diampuni oleh Allah Swt. Beliau juga mengingatkan agar umat Islam tidak merasa cukup dengan menyelesaikan salat saja, tetapi harus terus berusaha untuk memahami makna bacaan dalam salat.

Tingkatan khusyuk yang kedua adalah Khusyuk ‘Abidin, yaitu ketika seseorang mulai memahami makna bacaan salat yang diucapkannya. Ustazah Ai menjelaskan bahwa pemahaman tersebut dapat menumbuhkan kesadaran bahwa setiap bacaan salat yang kita baca merupakan bentuk doa dan permohonan kepada Allah. Beliau mencontohkan dengan menyebutkan makna Surah Al-Fatihah yang mengingatkan manusia akan kasih sayang Allah, sekaligus mendorong seseorang untuk menyadari kekurangan dirinya dan berharap agar memperoleh rahmat-Nya.

Sementara itu, tingkatan khusyuk yang ketiga adalah Khusyuk ‘Arifin, yaitu tingkatan yang dijelaskan melalui konsep musyahadah, yaitu kesadaran batin bahwa manusia senantiasa berada dalam pengawasan Allah Swt. Ustazah Ai Nurjanah mengibaratkan keadaan tersebut seperti keadaan seseorang yang sedang menghadapi persidangan, dalam situasi tersebut ia tidak akan berani bersikap sembarangan karena menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh banyak orang. Menurutnya, kesadaran terhadap pengawasan Allah bisa membantu seseorang dalam menjaga hati dan perilakunya, termasuk ketika muncul keinginan untuk mengalihkan perhatian ketika sedang salat.

Pesan terakhir yang disampaikan, Ustazah Ai Nurjanah mengajak kita untuk menjadikan salat sebagai sarana untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah Swt., bukan sekadar menggugurkan kewajiban kita. Memahami makna bacaan salat, menyadari setiap gerakan, dan juga melatih hati agar tetap tertuju kepada Allah merupakan bagian dari ikhtiar kita untuk menuju kekhusyukan. Dengan demikian, peningkatan kualitas salat dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni belajar memahami bacaan dan terus memperbaiki diri agar ibadah kita semakin bermakna.

Reporter: Sevilla Aulia, KPI/3C

 

Kajian Tafsir Al-An’am 109-110 Masjid Besar Al-Ikhlas Sagalaherang: Hidayah Adalah Hak Allah, Bukan Hasil Mukjizat


Dakwahpos.com, Subang- Penceramah Opik Hidayat menyampaikan kajian tafsir Surah Al-An’am ayat 109-110 di hadapan jamaah Masjid Besar Al-Ikhlas, Sagalaherang, Sabtu (31/10/2026). Kajian berbahasa Sunda tersebut sekaligus menandai berakhirnya pembahasan juz ke-7 Al-Qur’an dalam rangkaian kajian tafsir yang rutin digelar masjid itu.

Dalam penjelasannya, Opik menuturkan bahwa kedua ayat tersebut turun berkenaan dengan sikap para pemuka Quraisy di Mekah. Mereka bersumpah akan beriman apabila Rasulullah Muhammad SAW mendatangkan mukjizat seperti yang diberikan kepada nabi-nabi terdahulu. Namun, menurutnya, Allah menegaskan bahwa mukjizat sepenuhnya berada dalam kekuasaan-Nya dan bahwa mereka tetap tidak akan beriman meskipun tuntutan itu dipenuhi.

Mukjizat itu bukan hak Rasulullah, semuanya hanya milik Allah. Nabi Muhammad hanyalah utusan, ujar Opik menirukan jawaban yang diperintahkan Allah kepada Rasul-Nya.

Opik menguraikan bahwa kaum Quraisy, yang dikenal sebagai suku terpandang dan kaya di Jazirah Arab, menjadikan kisah para nabi sebagai tolok ukur. Mereka menyebut tongkat dan sembilan mukjizat Nabi Musa, kemampuan Nabi Isa menghidupkan orang mati, hingga unta Nabi Shalih. Menurutnya, tuntutan itu hanya dalih karena hati mereka sudah tertutup dari kebenaran.

Ia juga menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap sesuai kebutuhan, sehingga Rasulullah tidak dapat meminta wahyu kapan pun dikehendaki. Sebagai contoh, saat fitnah menimpa Siti Aisyah, Rasulullah harus menunggu turunnya wahyu dan tidak dapat memutuskan perkara itu seketika.

Untuk menggambarkan bahwa hidayah sepenuhnya urusan Allah, Opik mengisahkan Umar bin Khattab. Menurutnya, Umar semula berangkat menuju Darul Arqam untuk membunuh Rasulullah. Dalam perjalanan, ia mengetahui adiknya, Fatimah, telah memeluk Islam. Umar kemudian mendatangi rumah sang adik dan mendengar ayat-ayat Surah Thaha yang sedang dibaca, hingga hatinya terbuka dan ia bersyahadat.

Di awal ceramah, Opik mengajak jamaah mensyukuri bertambahnya umur dengan memperbanyak amal. Ia mengutip sabda Nabi tentang manusia terbaik, yaitu yang panjang umurnya dan baik amalnya. Tambah umur, tambah istiqamah dalam ibadah, katanya. Ia menyebut kajian tafsir tersebut telah berjalan sejak 2019 dan kini memasuki juz ke-8.

Menutup ceramahnya, Opik mengajak jamaah menjaga hidayah dan keimanan dengan memperbanyak doa agar hati tidak dipalingkan setelah mendapat petunjuk. Ia mengibaratkan iman seperti membawa telur yang harus dijaga hati-hati. Jamaah juga diingatkan agar tidak sibuk mengharapkan hal-hal luar biasa, tetapi memperkuat ibadah dan tobat.

Wartawan: Naura Haila, KPI/3C

Anak-Anak Antusias Mengaji di Masjid Jami Al-Husna


Dakwahpos.com, Bandung – Suasana penuh semangat terlihat saat anak-anak mengikuti kegiatan pengajian rutin di Masjid Jami Al-Husna. Kegiatan keagamaan ini dibimbing oleh tenaga pengajar tetap serta sejumlah pengajar bantu yang turut berpartisipasi.


Pengajian sore itu diawali dengan penyampaian nasihat singkat oleh salah seorang pengajar yang akrab disapa "bibi". Selepas memberikan pengarahan, Bibi langsung mengarahkan para santri untuk menempati empat kelompok belajar yang tersebar di setiap sudut masjid.


Masing-masing kelompok mendapatkan materi pembelajaran yang bervariasi sesuai tingkat kemampuan anak. Ada kelompok yang fokus melaksanakan murojaah, menghafal mufrodat, lalu dilanjutkan dengan setoran hafalan Al-Qur'an juz 30.


Kelompok lainnya tampak melatih bacaan salat secara bersama-sama untuk disimak oleh pengajar. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan membaca Al-Qur'an ayat demi ayat berdasarkan hanca atau bacaan terakhir masing-masing santri.


Selain itu, terdapat pula kelompok yang menerima materi dikte fikih dari pengajar. Murid-murid mencatat materi tersebut kemudian menghafalnya secara mandiri setelah selesai ditulis.


Kelompok terakhir diisi dengan aktivitas menulis ulang surat Al-Insyirah. Kegiatan tersebut kemudian disambung dengan mengaji Al-Qur'an sesuai hanca yang dicatat rapi pada buku laporan khusus santri yang dipegang oleh setiap santri.


Seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran ditutup dengan pelaksanaan salat Isya berjamaah di masjid. Selepas salat, para santri melafalkan doa bersama-sama, yakni doa memohon ampunan bagi kedua orang tua serta doa sapu jagat.


"Alhamdulillah anak-anak lagi semangat-semangatnya mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir," ujar salah seorang pengajar MDTA, Rabu (4/11/26).


Reporter: Amira Zahrunnisa, KPI/3C

Pengajian Muslimah Masjid Al-Inayah Bumi Harapan Cibiru Hadirkan Kajian Kesehatan


Dakwahpos.com, Bandung- Majelis taklim muslimah Masjid Al-Inayah Bumi Harapan mengadakan agenda pengajian dengan menghadirkan materi edukasi kesehatan. Isu kesehatan fisik yang tergolong jarang dibahas di mimbar majelis taklim ini dikemas secara khusus dalam kajian rutin jamaah muslimah sore hari di Masjid Bumi Harapan, Cibiru, pada Sabtu, (31/10/2026). Fokus utama kajian kali ini mengupas tuntas isu kesehatan yang kerap diabaikan namun krusial, yakni sarkopenia; kondisi penurunan massa dan kekuatan otot yang umumnya mulai mengintai usia 30 hingga 40 tahun ke atas.

Kegiatan yang diinisiasi oleh pengurus majelis taklim ini berlandaskan pada pentingnya menjaga kesehatan fisik sebagai bagian dari amanah ibadah. Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 195, diingatkan agar umat Islam tidak menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan dengan membiarkan tubuh jatuh sakit tanpa berobat. Acara sore itu semakin istimewa karena penceramah yang dihadirkan adalah dr. Fitri Subakti, seorang dokter profesional yang juga merupakan warga asli yang tinggal di Komplek Bumi Harapan. Kehadiran beliau memberikan kedekatan tersendiri bagi para jamaah yang hadir.

Dalam pemaparannya, dr. Fitri mengupas bahaya penyakit sarkopenia yaitu kondisi penurunan massa dan kekuatan otot yang mengintai usia 30 hingga 40 tahun ke atas serta memberikan solusinya langsung di lokasi kajian. Penyampaian materi berlangsung interaktif karena dr. Fitri tidak hanya berceramah, tetapi juga memperagakan dan mempraktikkan gerakan squat secara langsung di hadapan para jamaah majelis taklim.

Para jamaah diajak mempraktikkan teknik latihan kekuatan otot (strength training) sederhana menggunakan bantuan bangku, dengan menjaga posisi tulang belakang tetap lurus dan tangan sejajar lantai. Latihan squat sederhana ini dianjurkan untuk dilakukan secara rutin sepuluh kali pada pagi dan sore hari guna memperkuat otot paha dan betis, menjaga kepadatan sendi, serta melatih keseimbangan tubuh agar terhindar dari risiko jatuh.

Menariknya, dr. Fitri juga meluruskan mitos seputar olahraga harian di kalangan usia lanjut. Menurutnya, kebiasaan berjalan kaki hingga 10.000 langkah memang baik untuk sirkulasi darah, namun bisa memicu nyeri sendi jika tidak didukung oleh kekuatan otot paha dan betis yang memadai.

"Jika otot tidak terlatih dan mengecil, saat jalan kaki yang bekerja justru sendi dan tulang. Akibatnya, setelah berjalan lama, sendi dan tulang akan terasa sakit karena ototnya tidak menopang dengan baik," jelas dr. Fitri di hadapan para jamaah majelis taklim.

Selain latihan fisik, kajian ini juga merangkum empat pilar utama hidup sehat, meliputi pola makan kaya serat (prebiotik untuk mendukung bakteri baik Lactobacillus penghasil enzim tubuh), pengaturan menu sarapan tinggi protein guna menghindari lonjakan gula darah (spiking), waktu istirahat yang cukup selama 7 hingga 8 jam, serta pengelolaan stres melalui zikir dan senantiasa berfikir positif. Sesi ini diperkaya dengan tanya jawab interaktif, di mana jamaah antusias berkonsultasi seputar gejala menopause, penanganan emosi, hingga solusi konsumsi suplemen vitamin D3 yang tepat.

Di balik suksesnya penyelenggaraan acara sore itu, tersimpan dedikasi kuat dari para pengurus masjid. Ibu Ranie Mariani, selaku  pengurus Majelis Taklim Masjid Al-Inayah Bumi Harapan, menegaskan komitmennya untuk terus menghidupkan fungsi masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat edukasi umat yang solutif bagi kesehatan jasmani dan rohani masyarakat sekitar.

Wartawan: Dea Warohmah Ritonga, KPI/3C

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos