Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Pesan Jemaah Syukuri Nikmat dan Waktu Hidup

Dakwahpos.com, Bandung- Seorang khatib menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya bersyukur atas nikmat serta memanfaatkan waktu hidup sebelum datangnya kematian dalam pelaksanaan khotbah Jumat di Masjid Istiqomah, Jumat (11/09/2026).

Dalam khotbahnya, khatib menegaskan bahwa akhir kehidupan setiap manusia adalah kematian yang pasti terjadi. Prestasi setinggi apapun tidak akan membuat manusia hidup abadi di dunia.

Tokoh-tokoh besar sejarah seperti Buya Hamka, Soekarno, dan B.J. Habibie menjadi teladan nyata. Mereka memiliki jabatan serta kecerdasan luar biasa namun pada akhirnya tetap wafat meninggalkan dunia.

Ia juga menganalogikan kehidupan di dunia ibarat seorang perantau yang kelak akan kembali ke kampung halaman. Oleh sebab itu, setiap umat Islam diimbau agar senantiasa mempersiapkan bekal akhirat berupa amal saleh.

Selain itu, narasumber mengingatkan jemaah agar tidak menghabiskan seluruh waktu hanya untuk mengejar harta duniawi semata. "Kerugian terbesar manusia adalah ketika Allah menitipkan waktu namun tidak dimanfaatkan untuk beramal saleh," ujar khatib khotbah Jumat, Ustadz Furqon Saeful Aziz, saat diwawancarai usai ibadah, Jumat (11/09/2026).

Harta benda yang dikumpulkan tidak akan dibawa mati melainkan hanya tiga helai kain kafan. "Jangan habiskan hidup untuk mencari sesuatu yang tidak akan dibawa selamanya," ungkap Ustadz Furqon Saeful Aziz, Jumat (11/09/2026).

Reporter: Muhammad Rayyan Al Fatah, KPI/3C

Lampiran :

Uploaded Image

Waspada Dosa Syamata, Kajian NGOPI Al-Ikhlas Bumi Harapan Sentil Pengguna Medsos

Dakwahpos.com, Bandung- Kajian rutin NGOPI (Ngobrol Perkara Islam) di Masjid Al-Ikhlas Bumi Harapan, Cibiru kembali digelar dengan mengupas materi larangan syamata atau menampakkan kegembiraan di atas musibah orang lain, pada Selasa 23/9/2026. Kajian ini dibimbing langsung oleh Ustaz Nurudin S.Kom. di hadapan para jamaah.

Dalam pemaparannya, Ustaz Nurudin mengingatkan jamaah untuk berhati-hati dalam bermedia sosial. Beliau melarang keras tindakan mengunggah status kebahagiaan atau pamer harta saat lingkungan sekitar sedang tertimpa musibah karena berpotensi melukai hati orang lain.

"Makanya nanti kalau ada musibah apapun tahan dulu, jangan upload apa-apa, lebih baik yang keluar adalah doa untuk meringankan penderitaan saudara kita," ujar Ustaz Nurudin usai mengisi materi, Selasa 23/9/2026.

Beliau juga menambahkan bahwa rasa syukur (tasyakur) atas sebuah nikmat sejatinya cukup dilakukan dengan mengucapkan Alhamdulillah dan diiringi dengan peningkatan amal ibadah.

Antusiasme jamaah dalam menyimak materi adab keseharian ini tidak terlepas dari intensitas pembinaan di Masjid Al-Ikhlas. Saat ini, masjid tersebut tidak hanya menjadi tempat salat, melainkan telah berkembang menjadi pusat pendidikan umat.

Pengurus DKM bahkan telah membranding rumah ibadah ini sebagai "Masjid Pelita Ilmu". Hal ini dikarenakan padatnya jadwal kajian keislaman yang rutin digelar hampir setiap hari, mulai dari kajian tafsir, fikih, hingga tahsin.

"Kita branding masjid ini sebagai Masjid Pelita Ilmu sejak tahun 2024 karena kajiannya sangat padat dan menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat lingkungan sini," ungkap salah satu pengurus DKM Masjid Al-Ikhlas, Selasa 23/9/2026.

Menariknya, masjid yang bernaung di bawah Yayasan Pelita Ikhlas Insani ini sangat toleran dan tidak fanatik pada satu aliran saja. Semua jamaah dari berbagai latar belakang organisasi bebas beribadah dan mengikuti kajian perbandingan empat mazhab di sini.

Selain membina orang dewasa, pengurus juga menyiapkan regenerasi melalui Barisan Dakwah Remaja (Badar) Al-Ikhlas. Para remaja yang terdiri dari tiga generasi (SD, SMP, dan SMA/Kuliah) ini aktif diberdayakan, salah satunya melalui program jemput infak setiap akhir pekan.

Reporter: Farah Novita Maharani, KPI/3C
Kajian Masjid Al-Ikhlas Bumi Harapan-Farah Novita Maharani.jpeg

Keterbatasan Ruang Tak Halangi Aktivitas Keagamaan Warga di Masjid Nurul Ikhsan, Cipadung

Dakwahpos.com, Bandung- Keterbatasan fisik dan luas bangunan bukanlah penghalang untuk menyebarkan syiar Islam dan memakmurkan tempat ibadah. Hal inilah yang terpancar dari aktivitas keagamaan di Masjid Nurul Ikhsan. Meski berdiri di atas ruang yang tergolong sempit, masjid ini memiliki agenda keagamaan yang padat serta antusiasme warga yang begitu tinggi.
Ustadzah Iis, salah seorang pengelola sekaligus pengajar di Masjid Nurul Ikhsan, mengungkapkan bahwa ruang masjid yang terbatas disiasati dengan pembagian kelas dan jadwal yang tertata rapi agar seluruh jamaah dari berbagai kalangan tetap dapat tertampung.
Aktivitas Padat Setiap Hari
Semangat memakmurkan masjid terlihat dari padatnya rutinitas pengajian anak-anak. Setiap hari ba'da Magrib hingga Isya, tidak kurang dari 50 anak-anak mulai dari jenjang TK hingga SMP berkumpul untuk belajar Al-Qur'an. "Kalau anak-anak itu kegiatannya full setiap hari ba'da Magrib. Meskipun hari Minggu sekolah libur, anak-anak tetap masuk ngaji. Karena ruangannya terbatas, kita bagi jadi dua kelas ada yang di bawah dan di atas supaya pembelajaran lebih efektif dan terpegang," ujar Ustadzah Iis. Untuk pengajaran anak-anak, Ustadzah Iis dibantu oleh tim pengajar yang terdiri dari keluarga ustaz serta mahasiswa yang bertugas sebagai marbot masjid.
Program Pemberantasan Buta Huruf Al-Qur'an untuk Ibu-Ibu
Tidak hanya anak-anak, jamaah ibu-ibu pun memiliki agenda rutin mingguan setiap hari Sabtu mulai pukul 13.00 WIB hingga menjelang Asar. Fokus utama program untuk ibu-ibu saat ini adalah memberantas buta huruf Al-Qur'an. "Target awal ibu-ibu di sini fokus belajar baca Qur'an dulu, mulai dari makhrajul huruf sampai ke tajwid. Pembelajarannya bertahap, lalu di satu jam terakhir sebelum Asar diisi ceramah atau kajian fikih, tauhid, hingga sejarah dari ustaz," jelas Ustadzah Iis. Sementara itu, untuk jamaah bapak-bapak, kegiatan pengajian rutin dan pembacaan Surah Yasin digelar setiap malam Jumat ba'da Magrib hingga pukul 20.00 WIB.
Semarak Peringatan Hari Besar Islam (PHBI)
Selain rutinitas harian dan mingguan, Masjid Nurul Ikhsan juga aktif mengagendakan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) setiap tahunnya. Berbagai kegiatan rutin digelar, mulai dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diisi dengan kreasi anak-anak dan marhabaan, Pawai Obor pada bulan Muharram, hingga Pesantren Kilat dan perlombaan Islami saat bulan Ramadan.
Dukungan dan partisipasi aktif dari masyarakat sekitar menjadi kunci utama berjalannya seluruh program keagamaan ini. Masyarakat senantiasa memberikan apresiasi dan rasa gotong royong dalam setiap acara yang diselenggarakan oleh pihak masjid.
Kisah dari Masjid Nurul Ikhsan ini membuktikan bahwa ukuran sebuah bangunan tidak membatasi besarnya semangat warga untuk terus menuntut ilmu dan menjaga nyala syiar Islam di lingkungannya.
Reporter: Amelia Amanda KPI/3C
Uploaded Image

“Ustaz Azis Ramadhan Ingatkan Jamaah agar Tak Mengukur Amal dari Kehidupan Dunia”

Dakwahpos.com, Bandung — Masjid Al-Hidayah Cibiru menggelar salat Jumat pada Jumat, 18 September 2026, dengan Ustaz Azis Ramadhan, M.Pd.I., sebagai khatib. Dalam khutbahnya, Ustaz Azis mengajak jamaah untuk tidak menjadikan kondisi ekonomi, kesehatan, maupun kesejahteraan dunia sebagai satu-satunya ukuran atas balasan dari amal ibadah. Ia menekankan pentingnya bersabar, istiqamah dalam kebaikan hingga akhir hayat, serta mengajak orang lain untuk bersama-sama menuju jalan hidayah.

Ustaz Azis menjelaskan bahwa setiap amal yang dilakukan manusia, baik maupun buruk, akan mendapatkan balasan dari Allah SWT secara sempurna pada hari kiamat. Menurutnya, seseorang yang telah melakukan banyak ketaatan tidak selalu langsung mendapatkan perubahan dalam kehidupan dunia, sementara orang yang melakukan kemaksiatan terkadang belum mendapatkan hukuman secara langsung. Ia mengingatkan jamaah bahwa kehidupan dunia merupakan ujian dan balasan yang sempurna atas amal manusia akan diberikan di akhirat. “Bisa jadi ketika Allah tidak memberikan kebaikan bagi ekonomi kita atau hidup kita, kesejahteraan kita, bukan berarti amal itu tidak ada gunanya, bukan berarti Allah tidak suka sama kita, namun hidup ini adalah ujian dan Allah akan memberikan balasan itu seutuhnya kelak di yaumil kiamah,” tutur Ustaz Azis.

Dalam khutbahnya, Ustaz Azis juga mengingatkan jamaah bahwa keberhasilan seorang hamba tidak hanya ditentukan oleh kondisi kehidupannya di dunia, tetapi juga oleh keselamatannya di akhirat. Ia mengutip Surah Ali Imran ayat 185 yang menjelaskan bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian dan balasan amal akan disempurnakan pada hari kiamat. Menurutnya, orang yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga merupakan orang yang memperoleh keberuntungan yang sesungguhnya.

Ustaz Azis kemudian menekankan pentingnya menjaga amal kebaikan hingga akhir kehidupan. Menurutnya, seseorang tidak dapat memastikan dirinya lebih dahulu masuk surga dibandingkan orang lain hanya berdasarkan penampilan atau banyaknya aktivitas ibadah yang terlihat. Setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk terus menjaga keistiqamahan dalam beribadah sampai kematian datang. “Perjuangan kita untuk jadi orang saleh harus bertahan sampai kapan? Sampai mati,” tegasnya.

Selain menjaga keistiqamahan diri, Ustaz Azis mengajak jamaah untuk turut membantu orang-orang di sekitarnya agar dapat merasakan hidayah. Ajakan tersebut dapat dilakukan kepada saudara, tetangga, maupun teman yang belum merasakan nikmatnya berada di jalan kebaikan. Ia menjelaskan bahwa mengajak seseorang kepada jalan petunjuk merupakan bagian dari amal yang memiliki nilai pahala, terlebih apabila orang yang diajak kemudian mengamalkan kebaikan tersebut.

“Barangkali ada di antara saudara kita, tetangga kita, teman-teman kita yang mungkin belum bisa merasakan nikmatnya hidayah. Mari kita ajak bersama-sama untuk menuju jalan hidayah,” ujar Ustaz Azis kepada jamaah.

Pesan tersebut diperkuat dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang disampaikan dalam khutbah, bahwa orang yang mengajak kepada jalan petunjuk dan kemudian petunjuk tersebut diamalkan akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya. Ustaz Azis mengajak jamaah untuk tidak hanya berusaha memperoleh kebaikan bagi diri sendiri, tetapi juga mengajak orang lain agar dapat bersama-sama memperoleh kebaikan dan kenikmatan yang dijanjikan Allah SWT.

Khutbah Jumat di Masjid Al-Hidayah Cibiru tersebut ditutup dengan doa agar jamaah senantiasa diberikan keteguhan iman, menjadi orang yang mendapatkan petunjuk sekaligus mampu memberikan petunjuk kepada orang lain. Melalui khutbah tersebut, jamaah diingatkan untuk terus beramal saleh, bersabar ketika hasil kebaikan belum terlihat dalam kehidupan dunia, menjaga keistiqamahan hingga akhir hayat, serta mengajak orang-orang di sekitarnya untuk bersama-sama menuju jalan yang diridai Allah SWT.

Reporter: Shofia Salsabila – KPI 3C
Uploaded Image

Benahi Mindset Kaya dan Miskin dalam Kajian NGOPI Masjid Al-Ikhlas Bumi Harapan

Dakwahpos.com, Bandung- Kajian rutin bertajuk NGOPI (Ngobrol Perkara Islam) yang membahas tema "Si Kaya dan Si Miskin" sukses digelar di Masjid Al-Ikhlas, Bumi Harapan, pada Selasa (15/9/2026). Kegiatan ini menghadirkan Ustaz Nurudin untuk membedah konsep kekayaan sejati dalam pandangan Islam.
 
Dalam kajian yang berlangsung interaktif tersebut, Ustaz Nurudin menganalogikan proses hisab di akhirat layaknya pemeriksaan koper di bandara. 1 koper orang miskin dan 30 koper orang kaya, Meskipun orang miskin dengan harta sedikit akan dihisab lebih cepat, orang kaya berpotensi membawa nilai manfaat yang jauh lebih besar jika hartanya digunakan untuk kebaikan.

“Bagaimana jika 30 koper tersebut isinya bantuan obat-obatan, makanan, dan pakaian untuk korban bencana alam di NTT? Meski pemeriksaan di bandara lebih lama, nilainya jauh lebih bermanfaat. Allah tidak sekadar melihat sedikit-banyaknya harta, melainkan isi dan keikhlasan imannya,”ujar Ustaz Nurudin usai mengisi materi kajian.

Lebih lanjut, Ustaz Nurudin menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan umatnya untuk hidup miskin. Beliau justru sangat melarang umatnya menjadi miskin yang kehilangan harga diri hingga terjerumus pada perbuatan meminta-minta.

Menurutnya, kekayaan sejati dalam pandangan Islam adalah memiliki hati yang qanaah atau senantiasa merasa cukup atas pemberian Allah. Oleh karena itu, setiap muslim dianjurkan memiliki amalan unggulan di hadapan Allah sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Dalam menyampaikan dakwahnya, materi ceramah tersebut disusun secara terstruktur dengan merujuk pada kitab Riyadhus Shalihin yang dikontekstualisasikan dengan kehidupan masa kini serta dipadukan dengan gaya santai Ustaz Nurudin. Pendekatan interaktif ini membuat jamaah sangat antusias, bahkan bapak-bapak yang hadir tidak ragu untuk ikut bersahutan dan melontarkan pertanyaan di tengah kajian.

“Pembahasan yang paling berkesan dari kajian ini adalah pentingnya memiliki sifat qanaah serta senantiasa bersyukur atas berapa pun rezeki yang kita peroleh setiap harinya,” ungkap Pak Thariq salah satu jamaah.

“Saya merasa sangat tercerahkan dengan kajian malam ini, dan saya ingin berupaya menjadi orang kaya yang bertakwa sekaligus senantiasa qanaah,” ungkap, Pak Irawan perwakilan jamaah usai mengikuti kajian.

Selain agenda Kajian NGOPI yang rutin digelar, Masjid Al-Ikhlas Bumi Harapan juga aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan pembinaan umat lainnya, mulai dari kajian hadis, tahsin Al-Qur'an, hingga pelatihan pemulasaraan jenazah.
WhatsApp Image 2026-09-17 at 20.03.43.jpeg
Reporter: Farah Novita Maharani, KPI/3C

Pesan khutbah Jum’at dari masjid Nurul Ikhsan, Cipadung: “Perintah Beribadah Tanpa Henti Hingga Ajal Menjemput”

Dakwahpos.com, Bandung-Khatib di Masjid Nurul Ikhsan, Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, menyampaikan pesan dakwah mengenai pentingnya beribadah secara istiqomah dan tanpa henti kepada puluhan jamaah dalam pelaksanaan salat Jumat pada Jumat (11/09/2026). Ibadah salat Jumat yang berlangsung khusyuk tersebut menggarisbawahi bahwa kewajiban beribadah seorang muslim berlaku sepanjang waktu (kullal waqti), baik dalam kondisi senang maupun susah, hingga maut (al-mawt) datang menjemput. Penekanan ini disampaikan dengan merujuk pada tafsir Surat Al-Hijr ayat 99 guna membentengi umat dari pemahaman keliru yang menganggap kewajiban salat dapat gugur apabila seseorang telah mencapai tingkat keyakinan atau makrifat tertentu. Khatib menyampaikan materi tersebut secara sistematis dengan menjelaskan bahwa dalam kondisi sakit sekalipun, tata cara ibadah salat telah diatur agar tetap dilaksanakan sesuai batas kemampuan fisik seorang hamba.
Dalam uraian khotbahnya, khatib menjelaskan bahwa mayoritas ulama tafsir ternama seperti Salim, Mujahid, dan Al-Hasan Al-Basri sepakat menafsirkan kata al-yaqin pada firman Allah "Wa'bud rabbaka hatta ya'tiyakal-yaqin" sebagai kematian. Berdasarkan penjelasan Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di, ayat tersebut menuntut setiap muslim untuk mengisi seluruh perjalanan hidupnya dengan ketaatan yang konsisten, baik melalui ibadah wajib maupun ibadah sunah. Khatib juga menegaskan bahwa menganggap kewajiban salat bisa gugur saat seseorang merasa sudah yakin atau mencapai tingkatan makrifat merupakan bentuk pemahaman yang sesat dan tidak pernah diajarkan oleh para ulama. Oleh karena itu, umat Islam diimbau untuk terus menjaga salat lima waktu serta memanfaatkan sisa usianya untuk beribadah tanpa menunggu usia tua atau kondisi sekarat.
Guna memperkuat pesan dakwahnya, khatib secara langsung membacakan hadis riwayat Imran bin Husain radhiyallahu 'anhuma mengenai keringanan tata cara salat bagi orang yang sedang sakit, "Kerjakanlah salat sambil berdiri. Jika tidak mampu, maka kerjakanlah sambil duduk. Kalau tidak mampu lagi, maka kerjakanlah salat sambil berbaring." Khatib juga mengutip langsung sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dari Aisyah radhiyallahu 'anha tentang amalan yang paling dicintai Allah, "Sesungguhnya ibadah yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah ibadah yang rutin dilakukan walaupun jumlahnya itu sedikit." Selain menyampaikan kutipan langsung tersebut, khatib secara tidak langsung menerangkan bahwa syariat Islam tidak pernah menghapus kewajiban salat bagi orang yang sakit selama akal dan nyawanya masih ada. Beliau mengingatkan jamaah bahwa jika berdiri tidak memungkinkan, shalat dapat dilakukan dengan duduk, berbaring, atau bahkan isyarat.
Rangkaian ibadah salat Jumat di Masjid Nurul Ikhsan Cipadung tersebut diakhiri dengan panjatan doa bersama yang dipimpin oleh khatib untuk keselamatan, keteguhan iman, serta keistiqomahan umat Islam agar diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Meskipun berada di pemukiman padat di dalam gang, antusiasme jamaah yang memadati ruang utama hingga selasar masjid menunjukkan bahwa Masjid Nurul Ikhsan terus menjadi pusat pembinaan spiritual dan syiar Islam yang hidup bagi warga Cipadung, Cibiru
Uploaded Image

Ustaz Hasan Al Basri Ajak Jamaah Perbanyak Mengingat Kematian dalam Kajian Kitab Al-Jana'iz

Dakwahpos.com, Bandung – Jamaah Masjid Jami' Al-Jihad antusias mengikuti kajian rutin 
bertajuk "Keutamaan Banyak Mengingat Kematian dan Keagungan Kitab Al-Jana'iz (Bulughul 
Maram)" yang disampaikan Ustaz Hasan Al Basri di Masjid Jami' Al-Jihad, Jumat (18/09/2026).
Dalam ceramahnya, Ustaz Hasan Al Basri membuka kajian dengan mengajak jamaah meluruskan 
niat dalam menuntut ilmu. Ia menekankan bahwa kebaikan lahiriah mendatangkan cinta manusia, 
sedangkan kebaikan batiniah mendatangkan cinta Allah Swt. dan para malaikat. "Penilaian dari 
Allah itu jauh lebih penting daripada penilaian manusia," ucapnya.
Ustaz Hasan Al Basri melanjutkan pembahasan syarah Kitab Al-Jana'iz min Bulughil Maram karya 
Imam Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani. Menurutnya, kitab ini biasa ditempatkan setelah 
pembahasan salat karena kualitas salat seseorang turut menentukan keadaan kematiannya. Ia 
mengutip sabda Nabi Muhammad saw. bahwa perkara pertama yang dihisab pada hari kiamat 
adalah salat. Ia juga menjelaskan makna kata Al-Jana'iz sebagai bentuk jamak dari jenazah, yang secara bahasa 
berarti orang yang tertutup kain kafan. Menurutnya, hal itu bermakna bahwa aib dan harta 
seseorang akan tertutup begitu ia wafat, lalu beralih kepada ahli waris.
Memasuki hadis pertama, Ustaz Hasan Al Basri mengutip riwayat Abu Hurairah radhiyallahu anhu 
yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dan An-Nasa'i. "Perbanyaklah mengingat pemutus 
kelezatan, yaitu kematian," jelasnya, mengutip sabda Rasulullah saw. Ia menegaskan bahwa 
perintah tersebut berlaku bagi seluruh umat tanpa memandang usia maupun jenis kelamin.
Ustaz Hasan Al Basri memaparkan hikmah pertama mengingat kematian, yaitu kesadaran bahwa 
usia manusia terbatas, rata-rata 60 hingga 70 tahun, sehingga waktu yang ada tidak boleh 
disiasiakan. Ia mengutip hadis riwayat Imam Al-Bukhari dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 
anhu, "Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa 
dan banyak menangis," katanya. Mendengar sabda tersebut, para sahabat disebutkan langsung 
menutup wajah sambil menangis.
Hikmah kedua, lanjutnya, adalah terjaganya hati dari kelalaian. Ia mencontohkan kisah Nabi 
Sulaiman alaihis salam dalam QS. Sad ayat 30-35 yang sempat lalai dari salat Asar karena terpukau 
kuda-kuda perangnya, hingga akhirnya menyembelih kuda tersebut demi menjaga ibadahnya. 
Ustaz Hasan Al Basri turut mengisahkan Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma yang menjual 
unta kesayangannya karena dianggap menyibukkan hati dari mengingat Allah.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyebutkan empat ciri calon penghuni surga, yaitu senantiasa 
memandang orang lain lebih baik dalam urusan akhirat, memandang orang lain lebih rendah dalam 
urusan dunia agar pandai bersyukur, melupakan kebaikan diri sendiri, serta selalu mengingat dosa 
agar terus bertobat.
Pada bagian akhir, Ustaz Hasan Al Basri menyampaikan hikmah ketiga berupa tiga kekuatan 
kebaikan yang didapat dari mengingat kematian, yakni menyegerakan tobat, hati yang qana'ah, dan 
semangat beribadah. Kajian Kitab Al-Jana'iz ini, katanya, akan berlanjut membahas adab dan tata 
cara mengurus jenazah sesuai tuntunan Nabi Muhammad saw. dan para sahabat. Kajian ditutup dengan doa kaffaratul majelis yang dipimpin Ustaz Hasan Al Basri bersama seluruh 
jamaah.
Reporter: Iqrain Syamadal Ali/KPI 3C
Uploaded Image

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos