Dalam uraian khotbahnya, Ustaz Salim Slamet memfokuskan pembahasan pada pentingnya menjaga akidah serta mewujudkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Beliau menegaskan bahwa seorang muslim hendaknya tidak terjebak pada sikap materialistis yang mengabaikan bekal akhirat, yang dapat meninggalkan kewajiban-kewajiban hidup di dunia. Keduanya harus berjalan secara seimbang, selaras dengan prinsip wasathiyah (keseimbangan) yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.
Guna memperkuat pesan mengenai hakekat kehidupan dunia dan keterbatasannya, Ustaz Salim Slamet mengutip sebuah nasihat bernilai tinggi dari Rasulullah saw.:
"Silakan engkau hidup di alam dunia bebas semaumu, tetapi ingat engkau akan mati. Silakan engkau cintai apa yang ingin engkau cintai, tetapi ingat suatu saat engkau akan berpisah dengannya. Dan silakan engkau berbuat atau bekerja sesukamu, tetapi ingat suatu saat pekerjaanmu akan diminta pertanggungjawaban."
Menjelaskan kutipan tersebut, Ustaz Salim Slamet menyampaikan bahwa nasihat Rasulullah saw. itu mengandung tiga peringatan fundamental bagi setiap insan, yaitu kepastian kematian, perpisahan, dan pertanggungjawaban amalan. Kematian merupakan batas akhir dari kesempatan manusia mengumpulkan bekal di dunia. Berbeda dengan benda mati yang tidak dimintai pertanggungjawaban, manusia akan berhadapan dengan pengadilan Allah Swt. atas segala perbuatan yang pernah dilakukan selama hidup di bumi.
Lebih lanjut, Ustaz Salim Slamet menekankan bahwa keterikatan emosional manusia terhadap harta, kemegahan, pangkat, jabatan, hingga sanak keluarga pada akhirnya akan terputus oleh perpisahan fisik. Sehebat apa pun rasa cinta dan upaya manusia untuk mempertahankan kenikmatan duniawi, semuanya bersifat sementara. Hanya rasa cinta yang dilandasi karena Allah Swt. dan Rasul-Nya serta amal-amal saleh yang tulus yang bakal setia mendampingi dan menyelamatkan manusia di alam kubur hingga akhirat kelak.
Oleh sebab itu, dalam konteks muamalah dan pencarian nafkah sehari-hari, khatib mengingatkan agar seluruh jamaah senantiasa berhati-hati dan berpegang teguh pada aturan syariat Islam. Bekerja dan berusaha mencari rezeki di dunia adalah hal yang diprioritaskan dan dianjurkan, selama pekerjaan tersebut berada dalam koridor yang halal dan jujur. Aktivitas duniawi yang niatnya diluruskan untuk beribadah dan mencari rida Allah Swt. secara otomatis akan berbuah pahala serta menjadi bekal investasi yang bernilai di akhirat.
Sebelum mengakhiri khutbahnya, Ustaz Salim Slamet mengingatkan jamaah mengenai pentingnya menjaga keikhlasan agar segala ilmu dan amal ibadah yang telah dikerjakan tidak menjadi sia-sia. Beliau membawakan riwayat sabda Nabi Muhammad saw.:
"Setiap manusia itu akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu. Orang-orang yang berilmu pun akan binasa kecuali orang-orang yang mengamalkan ilmunya. Dan orang-orang yang mengamalkan ilmunya pun akan binasa kecuali orang-orang yang ikhlas dalam melaksanakannya."
Sebagai penutup rangkaian khotbah, Ustaz Salim Slamet mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa menata niat dalam setiap aktivitas, baik ibadah mahḍah (ibadah khusus) maupun ghairu mahḍah (kegiatan sosial dan bermasyarakat). Keikhlasan hati merupakan fondasi utama dan syarat mutlak diterimanya suatu amal di sisi Allah Swt. Dengan memadukan ilmu, pengamalan yang nyata, dan keikhlasan yang tulus, seorang muslim diharapkan mampu meraih kebahagiaan yang hakiki dan sejati, baik di alam dunia maupun di alam akhirat kelak.
Reporter: Muhammad Hafidz Abdul Ghoni, KPI/3C






