Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Bahaya Penyalahgunaan Ilmu: Kajian Subuh DKM Ar-Rohman Peringatkan Kerusakan Dunia Akibat Ulama yang Rusak

Dakwahpos.com, Bandung - DKM Ar-Rohman Pasir Biru kembali melaksanakan pengajian ahad subuh yang di adakan pada tanggal 11/10/2026 pukul 04.30-05.30, pengajian ini di adakan rutin sejak setiap bulan.

Para jemaah khususnya ibu-ibu nampaknya bertambah, biasanya hanya di hadiri oleh kurang dari 20 orang tetapi sekarang jumlahnya bertambah hingga 23 orang, di harapkan kedepannya semakin bertambah jemaah Masjid  Ar-Rohman Pasir Biru ini.

Pengajian ini di awali dengan membahas kitab ihya ulumuddin "Ada golongan dari umatku apabila mereka itu soleh maka manusia seluruhnya akan soleh, dan apabila mereka itu rusak maka seluruhnya akan rusak, siapakah itu? para pemimpin dan ulama," ujar Ustaz Mohamad Munir mengutip dari kitab ihya ulumuddin, (11/10/2026).

Ulama yang rusak disini merupakan ulama yang mempunyai banyak ilmu tapi digunakan untuk kepentingan dunia saja. Pemimpin dan ulama mempunyai power, kita sebagai manusia akan mengikuti pemimpin. "Maka jika pemimpinnya tidak benar, berarti pengikutnya pun sama," ujar Ustaz Mohamad Munir, (11/10/2026).

Maka dari itu, ulama sebaiknya tidak mendekati pemimpin, seharusnya pemimpin yang mendekati ulama.

Ustaz Mohamad Munir menggaris bawahi jika ulama mendekati pemimpin maka termasuk asrotu saah, tunggulah kiamat.  Tidak hanya itu, ustaz Suwanto mengatakan "Bahwa ada yang lebih menakutkan dan mengkhawatirkan lebih dari dajjal, siapakah itu? ulama-ulama yang menyesatkan," (11/10/2026 ).

Bahayanya orang yang mempunyai ilmu, ketika seseorang mempunyai ilmu dia menyalahgunakannya dan itu lebih besar bahayanya. Maka dari itu, berhati-hati terhadap ulama dan pemimpin karena jika ulama dan pemimpinnya rusak maka dunia akan rusak pula.



Reporter : Mahesa Almaliki Hidayat KPI/3A
WhatsApp Image 2026-10-19 at 19.22.59.jpeg

Masjid Al-Ikhlas Gang Bakhti Cipadung Tumbuh dari Surau Wakaf

Dakwahpos.com, Bandung — Masjid Al-Ikhlas yang terletak di Jalan Manisi, Gang Bakti V, RT 04 RW 09, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung menyimpan perjalanan sejarah panjang sejak dekade 1980-an. Bangunan yang kini menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat tersebut berawal dari sebuah surau sederhana di atas tanah wakaf, Sabtu (17/10/2026).

Ketua DKM Masjid Al-Ikhlas, Idas Baihaqi menceritakan bahwa pendirian rumah ibadah ini dirintis sekitar tahun 1984. Pembangunan masjid terwujud setelah seorang warga bernama Amas menginfaqkan tanahnya untuk memfasilitasi kebutuhan sholat masyarakat setempat.

"Awalnya masih mushola kecil. Karena warga sekitar juga belum banyak yang mampu secara ekonomi, proses pembangunan dan pengelolaannya pun masih banyak dibantu oleh warga dari luar RT," ujar Idas saat diwawancarai di Kompleks Masjid Al-Ikhlas, Cipadung.

Perkembangan masjid memasuki babak baru pada pertengahan dekade 1990-an. Seiring meningkatnya jumlah jemaah, pengurus DKM bersama warga melakukan renovasi total pada tahun 1995. Perluasan bangunan berlanjut hingga lantai dua dan tiga pada tahun 2005 guna menampung kapasitas jemaah yang terus bertambah.

Pada tahun 2022, lantai tiga masjid dialihfungsikan menjadi Pos PAUD Cempaka yang beroperasi hingga saat ini. Keberadaan PAUD tersebut murni difasilitasi tempat oleh pihak DKM dan tidak terikat secara struktur administrasi kepengurusan masjid.

Selain menjadi sarana sholat lima waktu, Masjid Al-Ikhlas secara konsisten menjadi wadah pendidikan Al-Qur'an bagi anak-anak sejak tahun 1989. Pada masa-masa awal, kegiatan mengajar ngaji serta kepengurusan masjid banyak dibantu oleh mahasiswa yang bermukim di rumah-rumah kontrakan sekitar Cipadung.

"Dulu mahasiswa sekitar sini ikut memakmurkan masjid, jadi imam, dan mengajar ngaji. Setelah mereka lulus, estafet pengajaran diteruskan oleh warga. Alhamdulillah, tradisi mengaji anak-anak dan pengajian warga bertahan sampai sekarang," tutur Idas.

Reporter : Shane Alldevant Ferrary/KPI 3-A

Uploaded Image

Ustaz Maqbul Ajak Jemaah Perkuat Takwa dan Utamakan Bekal Akhirat


Dakwahpos.com, Bandung - Kesempatan beramal saleh dalam Islam seperti awan yang berlalu. Jika tidak segera diraih, ia akan hilang. Sementara prestasi meraih ridha Allah memiliki harga mahal yang harus dibayar dengan kesungguhan dan pengorbanan. Pesan ini disampaikan oleh Ustaz Nandan dalam khutbah Jumat yang berlangsung di Masjid Nurul Huda Bandung (2026/11/13).

‎

‎Ustaz Nandan menekankan bahwa kesempatan bukan hanya tentang kekayaan materi, tetapi juga kesempatan untuk mencari ilmu yang benar. Ia mengingatkan bahwa mengambil ilmu harus bersumber dari Imam atau ulama yang terpercaya dan berpegangan pada dalil yang kuat.

‎

‎"Walaupun kita adalah pakar yang berilmu tinggi, jika tidak berdasarkan pada dalil yang kuat, itu tidak bisa diterima," ujar khatib.

‎

‎Khatib menjelaskan, semakin seseorang memanfaatkan kesempatan beramal, semakin banyak pula yang harus dikorbankan. Jalan menuju prestasi dan kebeningan amal tidak pernah mudah.

‎

‎Ustaz Nandan melanjutkan, setiap pencapaian besar dalam Islam selalu ada harganya. Prestasi tertinggi, yaitu meraih ridha Allah dan surga-Nya, harus dibayar dengan kesungguhan, pengorbanan waktu, harta, dan jiwa dalam ketaatan.

‎

‎"Jika kita tidak berharga dalam pandangan Allah, nanti kita akan merasa sangat tidak berharga di akhirat kelak. Kita akan merugi, kita akan menyesal," tegasnya.

‎

‎Oleh karena itu, ia mengajak jamaah memanfaatkan sisa waktu yang ada dan berprestasi dalam ketaatan. Ia memberikan contoh prestasi ketaatan, yaitu berprestasi dalam menegakkan shalat fardhu, berprestasi dalam mencari ilmu dari sumber yang benar, dan berprestasi dalam kesabaran menghadapi ujian.

‎

‎Sebagai penutup, Ustaz Nandan berdoa agar Allah menjadikan jamaah termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai memanfaatkan kesempatan dan ikhlas dalam membayar harga ketaatan.

‎

‎Reporter: Kafka Firdaus Aidil Ahka, KPI/3C

Ustaz Nandan Ingatkan Jemaah untuk Berprestasi dalam Ketaatan kepada Allah

 


Dakwahpos.com, Bandung - Kesempatan beramal saleh dalam Islam seperti awan yang berlalu. Jika tidak segera diraih, ia akan hilang. Sementara prestasi meraih ridha Allah memiliki harga mahal yang harus dibayar dengan kesungguhan dan pengorbanan. Pesan ini disampaikan oleh Ustaz Nandan dalam khutbah Jumat yang berlangsung di Masjid Nurul Huda Bandung (2026/11/19).

‎

‎Ustaz Nandan menekankan bahwa kesempatan bukan hanya tentang kekayaan materi, tetapi juga kesempatan untuk mencari ilmu yang benar. Ia mengingatkan bahwa mengambil ilmu harus bersumber dari Imam atau ulama yang terpercaya dan berpegangan pada dalil yang kuat.

‎

‎"Walaupun kita adalah pakar yang berilmu tinggi, jika tidak berdasarkan pada dalil yang kuat, itu tidak bisa diterima," ujar khatib.

‎

‎Khatib menjelaskan, semakin seseorang memanfaatkan kesempatan beramal, semakin banyak pula yang harus dikorbankan. Jalan menuju prestasi dan kebeningan amal tidak pernah mudah.

‎

‎Ustaz Nandan melanjutkan, setiap pencapaian besar dalam Islam selalu ada harganya. Prestasi tertinggi, yaitu meraih ridha Allah dan surga-Nya, harus dibayar dengan kesungguhan, pengorbanan waktu, harta, dan jiwa dalam ketaatan.

‎

‎"Jika kita tidak berharga dalam pandangan Allah, nanti kita akan merasa sangat tidak berharga di akhirat kelak. Kita akan merugi, kita akan menyesal," tegasnya.

‎

‎Oleh karena itu, ia mengajak jamaah memanfaatkan sisa waktu yang ada dan berprestasi dalam ketaatan. Ia memberikan contoh prestasi ketaatan, yaitu berprestasi dalam menegakkan shalat fardhu, berprestasi dalam mencari ilmu dari sumber yang benar, dan berprestasi dalam kesabaran menghadapi ujian.

‎

‎Sebagai penutup, Ustaz Nandan berdoa agar Allah menjadikan jamaah termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai memanfaatkan kesempatan dan ikhlas dalam membayar harga ketaatan.

‎

‎Reporter: Kafka Firdaus Aidil Ahka, KPI/3C

Raih Ridha Allah, Ustaz Nandan Ajak Jemaah Manfaatkan Kesempatan Beramal Saleh


Dakwahpos.com, Bandung - Ustaz Maqbul mengajak seluruh jamaah, khususnya kaum Muslimin, untuk menjadikan setiap waktu sebagai peluang emas beramal saleh dan memupuk keyakinan yang kokoh dalam menjalankan ajaran Islam. Pesan ini disampaikan dalam khutbah Jumat yang berlangsung di Masjid Nurul Huda Bandung (25/9/2026).

‎

‎Dalam khutbah pertamanya, khatib menekankan bahwa bekal terbaik bagi seorang Muslim adalah takwa, yang diwujudkan melalui kesadaran memanfaatkan setiap waktu. Ia mengisahkan cerita inspiratif tentang seorang sahabat Nabi Muhammad yang berprofesi sebagai petani dengan keterbatasan penghasilan.

‎

‎Sahabat tersebut, kata khatib, justru menggunakan waktu luangnya untuk medapatkan amal mulia dengan menjadi pembantu Nabi yang tugasnya sehari-hari menyiapkan air wudu. Rasulullah kemudian menanyakan permintaannya sebagai balasan kebaikan.

‎

‎"Lama sekali Sahabat tersebut memikirkan permintaannya," ujar khatib. "Tetapi bagi Sahabat itu, kebutuhan dunia sudah terpenuhi dalam dirinya. Bagaimanapun dunia ini akhirnya akan dilipat."

‎Dengan keyakinan penuh, petani tersebut meminta kepada Nabi, "Aku hanya ingin dekat denganmu di surga yang tertinggi."

‎

‎Nabi Muhammad kemudian menjawab, "Wahai Sahabat, bacalah aku, yaitu dengan memperbanyak sujud." Kisah ini menjadi teladan bagaimana seseorang yang hatinya dibuka oleh Allah akan menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman hidup, dan mengarahkan keinginan tertingginya pada akhirat, bukan dunia.

‎

‎Melanjutkan khutbahnya, khatib mengingatkan bahwa menjalankan Islam tidaklah mudah. Keimanan sering kali diuji, bahkan berpotensi bertentangan dengan kehidupan sehari-hari atau mengancam stabilitas ekonomi. Namun, ia menegaskan bahwa orang yang hatinya telah diberikan Allah untuk Islam akan memiliki keyakinan kokoh bahwa setiap takdir Allah mengandung hikmah.

‎

‎"Orang yang meyakini hidup ini tidaklah sia-sia, hari demi hari itu harus kita pikirkan, apa yang telah kita siapkan untuk akhirat," tegasnya.

‎

‎Khatib juga menyoroti pentingnya tanggung jawab terhadap keluarga, bukan hanya pada diri sendiri. Ia mengingatkan para ayah dan pemimpin keluarga agar tidak sibuk dengan diri sendiri lantas melalaikan tanggung jawab keluarga, yang bisa berakibat buruk di Hari Kiamat kelak. Keluarga harus ditanamkan agar cocok dengan aturan Allah Swt.

‎

‎Sebagai penutup, khatib berpesan agar jamaah berhati-hati jika merasa sulit melaksanakan perintah Allah, namun justru gembira dan mudah melakukan larangan-Nya.

‎

‎"Kita yakini, Al-Qur'an itu Maha Benar. Jauh dari petunjuk Allah itu tidak akan pernah merasakan kenikmatan dan kelapangan hidup apapun keadaannya," tutupnya.

‎

‎Reporter: Kafka Firdaus Aidil Ahka, KPI/3C

Raih Ridha Allah, Ustaz Nandan Ajak Jemaah Manfaatkan Kesempatan Beramal Saleh


Dakwahpos.com, Bandung - Ustaz Maqbul mengajak seluruh jamaah, khususnya kaum Muslimin, untuk menjadikan setiap waktu sebagai peluang emas beramal saleh dan memupuk keyakinan yang kokoh dalam menjalankan ajaran Islam. Pesan ini disampaikan dalam khutbah Jumat yang berlangsung di Masjid Nurul Huda Bandung (25/9/2026).

‎

‎Dalam khutbah pertamanya, khatib menekankan bahwa bekal terbaik bagi seorang Muslim adalah takwa, yang diwujudkan melalui kesadaran memanfaatkan setiap waktu. Ia mengisahkan cerita inspiratif tentang seorang sahabat Nabi Muhammad yang berprofesi sebagai petani dengan keterbatasan penghasilan.

‎

‎Sahabat tersebut, kata khatib, justru menggunakan waktu luangnya untuk medapatkan amal mulia dengan menjadi pembantu Nabi yang tugasnya sehari-hari menyiapkan air wudu. Rasulullah kemudian menanyakan permintaannya sebagai balasan kebaikan.

‎

‎"Lama sekali Sahabat tersebut memikirkan permintaannya," ujar khatib. "Tetapi bagi Sahabat itu, kebutuhan dunia sudah terpenuhi dalam dirinya. Bagaimanapun dunia ini akhirnya akan dilipat."

‎Dengan keyakinan penuh, petani tersebut meminta kepada Nabi, "Aku hanya ingin dekat denganmu di surga yang tertinggi."

‎

‎Nabi Muhammad kemudian menjawab, "Wahai Sahabat, bacalah aku, yaitu dengan memperbanyak sujud." Kisah ini menjadi teladan bagaimana seseorang yang hatinya dibuka oleh Allah akan menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman hidup, dan mengarahkan keinginan tertingginya pada akhirat, bukan dunia.

‎

‎Melanjutkan khutbahnya, khatib mengingatkan bahwa menjalankan Islam tidaklah mudah. Keimanan sering kali diuji, bahkan berpotensi bertentangan dengan kehidupan sehari-hari atau mengancam stabilitas ekonomi. Namun, ia menegaskan bahwa orang yang hatinya telah diberikan Allah untuk Islam akan memiliki keyakinan kokoh bahwa setiap takdir Allah mengandung hikmah.

‎

‎"Orang yang meyakini hidup ini tidaklah sia-sia, hari demi hari itu harus kita pikirkan, apa yang telah kita siapkan untuk akhirat," tegasnya.

‎

‎Khatib juga menyoroti pentingnya tanggung jawab terhadap keluarga, bukan hanya pada diri sendiri. Ia mengingatkan para ayah dan pemimpin keluarga agar tidak sibuk dengan diri sendiri lantas melalaikan tanggung jawab keluarga, yang bisa berakibat buruk di Hari Kiamat kelak. Keluarga harus ditanamkan agar cocok dengan aturan Allah Swt.

‎

‎Sebagai penutup, khatib berpesan agar jamaah berhati-hati jika merasa sulit melaksanakan perintah Allah, namun justru gembira dan mudah melakukan larangan-Nya.

‎

‎"Kita yakini, Al-Qur'an itu Maha Benar. Jauh dari petunjuk Allah itu tidak akan pernah merasakan kenikmatan dan kelapangan hidup apapun keadaannya," tutupnya.

‎

‎Reporter: Kafka Firdaus Aidil Ahka, KPI/3C

Ustaz Nandan Tekankan Pentingnya Mengorbankan Waktu dan Harta demi Meraih Ridha Allah

 


Dakwahpos.com, Bandung – DKM Nurul Huda menggelar Sholat Jumat yang diisi dengan khutbah oleh Ustaz Saeful Ihkam. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (11/9/2026) itu mengangkat tema tentang pentingnya memanfaatkan masa muda.

‎

‎Dalam khutbahnya, Ustaz Saeful Ihkam menekankan bahwa masa muda adalah anugerah berharga yang sering disia-siakan. Beliau menyoroti perbedaan kesadaran beribadah antara pemuda dan orang dewasa.

‎

‎"Orang dewasa yang menyadari keterbatasan waktu justru lebih giat dalam beribadah. Mereka telah merasakan kelemahan fisik dan keterbatasan usia," ujar Ustaz Ihkam.

‎

‎Ustaz Ihkam menjelaskan bahwa pemuda yang taat beribadah akan meraih kedudukan istimewa. Salah satunya adalah termasuk dalam golongan yang akan dinaungi Allah di hari kiamat.

‎

‎"Seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah akan mendapatkan kedudukan istimewa," ungkapnya.

‎

‎Beliau juga menekankan bahwa masjid harus menjadi rumah kedua bagi para pemuda. Ibadah di masjid merupakan sumber kekuatan spiritual untuk menghadapi tantangan hidup.

‎

‎"Jadikan masjid sebagai tempat untuk menemukan ketenangan, kedamaian, dan kekuatan," pesannya.

‎

‎Pada khutbah kedua, Ustaz Ihkam mengajak jamaah untuk saling mendukung dalam kebaikan. Keimanan yang kuat akan membimbing setiap muslim untuk selalu berbuat baik.

‎

‎"Marilah kita senantiasa memupuk iman dan takwa dalam diri kita. Jadikan setiap detik sebagai kesempatan emas untuk beramal shalih," serunya.

‎

‎Kegiatan Sholat Jumat berjalan dengan khidmat dan diikuti oleh jamaah dengan penuh antusias. Khutbah ditutup dengan doa untuk seluruh umat Islam.

‎

‎Reporter: Kafka Firdaus Aidil Ahka, KPI/3C

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos