Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Menapaki Jejak Pengabdian Zainal Muttaqin: Dari Pesantren hingga Kiprah Keagamaan Tingkat ASEAN


Dakwahpos.com, Bandung - Zainal Muttaqin, akademisi sekaligus tokoh agama yang lahir pada 10 Juni 1966, memiliki rekam jejak panjang dalam bidang pendidikan keagamaan, organisasi kemasyarakatan, dan pengembangan syiar Islam. Kiprahnya meliputi keterlibatan dalam berbagai organisasi, pengalaman sebagai dewan juri Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dan Musabaqah Qiraatul Kutub tingkat nasional hingga ASEAN, serta perannya sebagai Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Ikomah UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Hal tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya yang dibahas dalam wawancara pada Selasa, 27 Oktober 2026, di ruang DKM Masjid Ikomah.

Dalam perjalanan pendidikannya, Zainal menempuh pendidikan di berbagai pesantren dan perguruan tinggi, termasuk Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati Bandung, yang kini dikenal sebagai Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Latar belakang pendidikan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan intelektualnya, khususnya dalam bidang keislaman dan pengembangan pengetahuan agama.

Selain aktif dalam dunia pendidikan, Zainal juga memiliki pengalaman dalam organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan. Ia terlibat dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan Nahdlatul Ulama (NU). Pengalaman berorganisasi tersebut memperluas kiprahnya dalam kehidupan sosial sekaligus memperkuat keterlibatannya dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan dan keagamaan.

Kontribusi Zainal juga terlihat melalui keterlibatannya sebagai dewan juri dalam ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dan Musabaqah Qiraatul Kutub di tingkat nasional hingga ASEAN. Kepercayaan tersebut menjadi bagian dari pengalaman profesionalnya dalam bidang keagamaan, terutama yang berkaitan dengan kompetisi membaca Al-Qur'an dan kajian kitab-kitab Islam.

Saat ini, Zainal diamanahi sebagai Ketua DKM Masjid Ikomah UIN Sunan Gunung Djati Bandung sejak September 2024. Posisi tersebut menjadi bagian dari pengabdiannya dalam lingkungan kampus, khususnya melalui pengelolaan masjid dan kegiatan keislaman. Masjid tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga memiliki peran penting dalam menunjang kehidupan spiritual sivitas akademika dan masyarakat sekitar.

Perjalanan pendidikan, pengalaman organisasi, serta keterlibatannya dalam berbagai kegiatan keagamaan menunjukkan luasnya ruang pengabdian Zainal Muttaqin. Melalui perannya sebagai akademisi dan Ketua DKM Masjid Ikomah, ia menjadi bagian dari lingkungan yang menghubungkan pendidikan, kehidupan bermasyarakat, dan pengembangan nilai-nilai keislaman di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.



Reporter: Khatamul Aulad Sabakinkin Adzikri KPI 3B


Khotib Masjid Al-Munawwarah Gegebage Ajak Jamaah Cinta Rasulullah


Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Al-Munawwarah Gegebage menjadi saksi bagaimana khotbah Jumat disampaikan dengan pesan mendalam tentang pentingnya menumbuhkan cinta kepada Rasulullah saw. Dalam khotbahnya, khatib mengawali dengan mengingatkan jamaah akan limpahan kenikmatan utama yang pernah didapat, yakni kenikmatan iman dan Islam. Langkah kaki para jamaah menuju rumah Allah diyakini menjadi penggugur dosa sekaligus pembuka pintu rahmat dan ampunan (maghfirah) Allah Swt.

Khatib kemudian menonjolkan tiga tanda utama cinta kepada Nabi. Mengutip hadis Rasulullah saw, “Man ahabban kana ma'a fil-jannah” (Barang siapa yang mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga), ia menegaskan bahwa setiap muslim wajib menumbuhkan rasa cinta kepada Nabinya. Cinta tersebut tidak cukup berhenti pada ucapannya, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Tanda pertama adalah mencintai para ulama dan orang bertakwa. Para ulama disebut sebagai warasatul anbiya atau pewaris para nabi. Mencintai ulama dan orang-orang yang teguh menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya merupakan cerminan dari kecintaan kepada Rasulullah. Khatib juga menyinggung tradisi mengagungkan kelahiran Nabi (Maulid) yang dicontohkan para ulama sebagai ikhtiar agar diwafatkan dalam keadaan membawa iman dan Islam.

Tanda kedua adalah memperbanyak bacaan shalawat. Sesuai ungkapan bahwa seseorang akan sering menyebut apa yang dicintainya, seorang muslim yang mencintai Rasulullah akan selalu membasahi lidahnya dengan salawat serta mengkaji kisah teladan beliau. Salawat menjadi bukti merekat batin antara umat dan Nabinya.

Tanda ketiga, yang disebut sebagai tanda cinta tertinggi, adalah menghidupkan sunah-sunah Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-hari. Dengan meneladani perilaku dan mengamalkan sunah, seorang muslim berharap diakui sebagai umatnya dan mendulang syafa'atul 'uzma (syafaat yang agung) di hari kiamat.

Khotbah tersebut juga menekankan bahwa momentum shalat Jumat menjadi sarana penguatan rasa cinta kepada Rasulullah saw. Umat ​​Islam diharapkan mampu membawa nilai-nilai kebaikan tersebut dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

Khatib diakhiri khotbahnya dengan doa agar seluruh jamaah senantiasa diberi keteguhan iman dan ketakwaan. Harapan besar yang disampaikan agar keberkahan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat dapat dicapai melalui penguatan cinta kepada Rasulullah.

Melalui pesan khotbah ini, jamaah Masjid Al-Munawwarah Gegebage diajak untuk tidak hanya memahami cinta kepada Rasulullah sebagai pengetahuan, tetapi juga menjadikannya sebagai landasan amal dalam kehidupan sehari-hari.

Wartawan: Muhammad Zakky Alkhoeri, KPI/3C

Dari Gotong Royong Orang Tua Mahasiswa, Masjid Iqomah Menjadi Bagian Penting Sejarah Kampus

 

Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Ikomah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung memiliki sejarah panjang yang tidak terlepas dari perjalanan berdirinya Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Berawal dari bangunan sederhana dengan kapasitas sekitar 500 orang, masjid ini tumbuh melalui semangat kebersamaan dan kontribusi orang tua mahasiswa hingga menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan di lingkungan kampus. Sejarah tersebut disampaikan oleh Zainal Muttaqin, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Ikomah, dalam wawancara pada Selasa, 27 Oktober 2026, di ruang DKM Masjid Iqomah.

Menurut Zainal, keberadaan masjid ini bermula seiring dengan berdirinya IAIN. Pada masa awal, bangunan masjid masih berukuran relatif kecil dan memiliki daya tampung sekitar 500 jamaah. Seiring perkembangan kampus dan kebutuhan masyarakat akademik terhadap fasilitas ibadah, masjid ini menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung aktivitas keagamaan mahasiswa dan sivitas akademika.

Pada 1984, masjid tersebut secara resmi menggunakan nama Masjid Ikomah. Nama Ikomah merupakan akronim dari "Ikatan Keluarga Orang Tua Mahasiswa" yang mencerminkan keterlibatan orang tua mahasiswa dalam sejarah pendirian dan pembangunan masjid. Penamaan ini sekaligus menjadi pengingat atas semangat gotong royong yang melandasi keberadaan masjid sejak awal.

Proses pembangunan Masjid Iqomah dilakukan melalui partisipasi bersama, terutama dengan melibatkan orang tua mahasiswa. Pendanaan dihimpun dari berbagai sumbangan, termasuk kontribusi orang tua mahasiswa serta bantuan dari pihak luar. Zainal juga menceritakan keterlibatannya dalam memberikan sumbangan melalui mekanisme pemotongan dana yang berlangsung selama kurang lebih empat hingga lima tahun. Hal tersebut menggambarkan besarnya peran kolektif dalam mendukung pembangunan masjid pada masa itu.

Dalam perjalanan sejarahnya, kepengurusan DKM Masjid Iqomah telah mengalami beberapa kali pergantian kepemimpinan. Zainal Muttaqin tercatat sebagai ketua DKM yang ketujuh, berdasarkan perkiraan riwayat kepengurusan yang disampaikannya. Ia mulai menjabat pada September 2024 dan melanjutkan pengelolaan masjid dengan tanggung jawab menjaga keberlangsungan fungsi serta kegiatan keagamaan di lingkungan kampus.

Sejarah Masjid Ikomah menunjukkan bahwa keberadaan sebuah masjid tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi juga pada dukungan, kepedulian, dan kebersamaan berbagai pihak. Dari bangunan sederhana yang didirikan pada masa awal IAIN hingga menjadi bagian dari kehidupan kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Masjid Ikomah menyimpan jejak partisipasi orang tua mahasiswa dan perjalanan panjang pengabdian umat. Nilai kebersamaan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah yang terus melekat pada masjid hingga saat ini.



Reporter: Khatamul Aulad Sabakinkin Adzikri KPI 3B


Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah: Memori Perjuangan di Masjid Darul Ma'arif

Dakwahpos.com, Bandung — Masjid Darul Ma'arif menyimpan sejarah panjang tentang perjuangan para ulama dan perkembangan dakwah Islam di masyarakat. Sejarah tersebut disampaikan oleh Ustaz Sofyan Yahya Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Darul Ma'arif.

Menurut Ustaz Sofyan Yahya, masjid ini sejak dahulu menjadi tempat beribadah, menuntut ilmu agama, dan berkumpulnya para ulama.

Sejarah masjid ini berkaitan dengan sejumlah tokoh agama terdahulu, salah satunya Mama K.H Najmudin. Para ulama juga menjadikan masjid sebagai tempat bermusyawarah dan membahas persoalan keagamaan serta kehidupan masyarakat.

“Dulu, masjid ini sering menjadi titik kumpul para ulama,” tutur Ustaz Sofyan Yahya.

Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini menjadi tempat belajar agama bagi para santri dan masyarakat. Kegiatan tersebut diteruskan dari generasi ke generasi sehingga tradisi keagamaan tetap terjaga.

Dalam perkembangannya, bangunan masjid telah mengalami beberapa kali perubahan. Ustaz Sofyan Yahya memperkirakan pembangunan atau perubahan bangunan dilakukan sekitar lima kali. Tanah masjid juga dikaitkan dengan wakaf dari tokoh yang dikenal sebagai Buyut Surti atau Mbah Ibu.

Namun, tahun pendirian dan sosok pendiri pertama Masjid Darul Ma'arif belum diketahui secara pasti. Sejumlah informasi sejarah masih diwariskan melalui cerita lisan para sesepuh.

Ustaz Sofyan Yahya juga menceritakan bahwa kawasan tersebut pernah mengalami masa penjajahan dan peperangan. Kisah-kisah tersebut menjadi bagian dari perjalanan sejarah masjid dan masyarakat di sekitarnya.

Hingga kini, Masjid Darul Ma'arif tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah perkembangan dakwah Islam. Kisah para ulama terdahulu diharapkan tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

Reporter: M Wafie Awwab, KPI/3C
WhatsApp Image 2026-10-27 at 12.15.28.jpeg

Mengenal Ky. Hj. Shopian Yahyah: Sosok Kiai Dermawan Darul Ma'arif yang Selalu Dinanti Jamaah

Bandung, Dakwahpos.com – Ky. Hj. Shopian Yahyah merupakan salah satu pendiri pondok pesantren Darul Ma'arif sehingga beliau dijadikan sebagai panutan bagi para santri dan jama'ah. Selain sebagai pendiri beliau pun sering berceramah di hari-hari yang sudah ditentukan. dan beliau juga menggunakan pendekatan yang dapat di terima oleh masyarakat sehingga setiap jadwal-nya ceramah beliau tidak pernah sepi.

Selain adanya masjid dan pesantren Darul Ma'arif pun memiliki yayasan mulai dari Paud, MI, MTS dan MA. Darul Ma'arif sudah banyak dikenal oleh daerah-daerah lain karena sang kyai yang menyebarkan nya dermawan.

Ky. Hj. Shopian Yahya selalu menyampaikan isi ceramah yang mudah di pahami oleh para jama'ah, karena beliau menyesuaikan dengan mayoritas jama'ah yang hadir di pengajian rutin. Pengajian rutin yang beliau hadiri setiap hari kamis siang yaitu pengajian ibu-ibu dan hari jum'at pagi untuk pengajian bapak-bapak.

 Pada pertemuan pengajian rutinan hari jum'at Ky. Hj. Shopian Yahya membahas tentang sifat-sifat manusia yang melalaikan perintah allah ketika sedang sukses dan tekun beribadah ketika kesusahan. Topik-topik yang biasa beliau sampaikan memang sesuai dengan kenyataan yang biasa dilakukan oleh banyak orang, sehingga orang-orang yang mendengarkan pun merasa di ingatkan.

Kesimpulan dari isi ceramah Ky. Hj. Shopian Yahya yaitu kita harus tetap taat dan tetap melaksanakan perintah allah. Di kondisi apa pun, ketika sukses kita harus tetap mengingat allah yang memberikan rezeki tersebut dan ketika susah pun kita mengingat allah yang akan memberikan jalan dari sebuah masalah.

 
Reporter: M Wafie Awwab, KPI/3C
WhatsApp Image 2026-10-27 at 11.44.16.jpeg

Bentengi Anak Muda dari Kemurkaan Allah, Ustaz Sofyan Yahya Tekankan Pentingnya Lingkungan Islami

Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Darul Ma’arif, 02 Oktober 2026 - Pengajian bulanan yang sangat dinanti di Masjid Darul Ma’arif berlangsung pada hari Jum'at tanggal02 Oktober 2026. Acara ini dihadiri oleh jama'ah dari warga yang rumahnya masih dekat dengan area Masjid Darul Ma'arif, yang datang untuk mendengarkan kuliah agama yang disampaikan oleh Ustaz Sofyan Yahya, dengan tema yang mendalam, "Kemarahan atau Murka Allah Terhadap Pelanggaran dan Kedurhakaan"

Pengajian bulanan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep "Kemarahan atau Murka Allah Terhadap Pelanggaran dan Kedurhakaan" dalam Islam. Ustaz Sofyan Yahya, seorang ulama yang sangat dihormati, membahas tema ini berdasarkan ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Beliau juga memberikan contoh-contoh dari kehidupan sehari-hari tentang perilaku yang dapat memicu kemurkaan Allah,

dikutip dari perkataan beliau "bencana-bencana seperti banjir, badai, puting beliung dan sebagainya itu tidak akan pernah terjadi kecuali karena dosa-dosa dan maksiat yang dilakukan" Ustaz Sofyan Yahya, (02/10/2026).

beliau juga berkata bahwa "Wabah LGBT menjadi salah satu penyebab dari kemurkaan Allah, apalagi di era aplikasi ini seperti tiktok sudah sangat permisif tentang konten LGBT" Ustaz Sofyan Yahya, (02/10/2026).

Pesan yang disampaikan dalam pengajian ini adalah pentingnya ketaatan kepada Allah dan taqwa dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Umat Islam diingatkan bahwa menjauhi dosa dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah adalah kunci untuk mendapatkan keridhaan-Nya,

Mengutip dari perkataan Ustaz Sofyan Yahya "Kita sebagai orang beriman dan orang tua harus menjaga anak muda untuk terus aktif dalam kegiatan seputar keislaman karena hal itu menjadi penyelamat bagi kita dan keturunan kita nanti"

Sebelum penutupan pengajian, jama'ah diajak untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi dan tanya jawab tentang tema yang dibahas. Ini memberikan kesempatan kepada mereka untuk lebih memahami dan menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Pengajian bulanan di  Masjid Darul Ma’arif pada tanggal 02 Oktober 2026, dengan tema "Kemarahan atau Murka Allah Terhadap Pelanggaran dan Kedurhakaan" oleh Ustaz Sofyan Yahya, telah memberikan wawasan mendalam kepada jama'ah. Semoga pesan dan pengajarana dari pengajian ini menginspirasi mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan berpenuh taqwa, menjauhi perbuatan yang dapat memicu kemurkaan Allah SWT, dan mendapatkan keridhaan-Nya.

Reporter: M Wafie Awwab, KPI/3C
WhatsApp Image 2026-10-27 at 11.21.56.jpeg

Sejarah Masjid Al-Ihsan Cluster Papandayan Grand Kahuripan, dari Bangunan Sederhana Hingga Masjid yang Lebih Luas

 


Dakwahpos.com, Bogor- Di tengah perkembangan Perumahan Grand Kahuripan, Masjid Al-Ihsan di Cluster Papandayan menjadi salah satu tempat ibadah yang memiliki perjalanan panjang. Masjid ini tumbuh seiring bertambahnya jumlah warga yang menetap di cluster tersebut. Keberadaannya tidak lepas dari kebutuhan warga akan tempat beribadah yang dekat dengan perumahan. Kisah perkembangannya pun menarik untuk disimak sebagai bagian dari sejarah suatu kawasan.


Masjid Al-Ihsan dibangun sekitar tahun 2008, bersamaan dengan berdirinya Cluster Papandayan. Penyediaan tempat ibadah merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh pengembang perumahan. Oleh karena itu, keberadaan masjid sudah direncanakan sejak awal pembangunan kawasan. Hal ini menunjukkan bahwa tempat ibadah dipandang sebagai kebutuhan dasar bagi warga yang akan bermukim.


Pada masa awal, jumlah penghuni di Cluster Papandayan belum banyak. Oleh karena itu, kegiatan ibadah dipusatkan pada sebuah bangunan yang berada di dekat lapangan. Ukuran bangunan tersebut belum sebesar masjid yang ada sekarang. Meski begitu, bangunan itu cukup untuk menampung kebutuhan warga pada saat itu. Dari tempat sederhana inilah kegiatan ibadah warga pertama kali berjalan.


Seiring berjalannya waktu, jumlah warga yang menetap di Cluster Papandayan terus bertambah. Kebutuhan akan tempat ibadah yang lebih luas pun semakin terasa. Menjawab kebutuhan tersebut, pengembang perumahan menyediakan lahan yang lebih besar untuk pembangunan masjid. Langkah ini menjadi dasar bagi berdirinya masjid yang lebih layak.


Dengan lahan yang lebih luas, masjid dibangun agar lebih nyaman digunakan. Masjid juga dibangun agar dapat diakses oleh semua orang. Perubahan ini menjadi tidak penting dalam perjalanan Masjid Al-Ihsan. Dari bangunan sederhana di dekat lapangan, kini masjid mampu melayani lebih banyak jamaah.


Kini, Masjid Al-Ihsan menjadi bagian penting dari kehidupan warga Cluster Papandayan, Grand Kahuripan, Klapanunggal. Perjalanannya menunjukkan bahwa tempat ibadah tumbuh dan berkembang bersama masyarakat yang menempatinya. Dari masa awal yang sederhana hingga kini, masjid terus menjadi tempat berkumpul dan beribadah warga. Diharapkan masjid ini dapat terus terjaga dan memberi manfaat bagi seluruh warga.


Wartawan : Shafa Maulida KPI/3C

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos