Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Sejarah Pondok Pesantren Salafy Ar-Raaid, Tumbuh Bersama Kawasan Pendidikan Cipadung


Dakwahpos.com, Bandung — Pondok Pesantren As-Salafi Ar-Raaid di Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, menyimpan perjalanan panjang dalam membina santri dan mahasiswa. Pesantren ini berdiri pada 5 September 2012 atau 18 Syawal 1433 H dan terus berkembang hingga sekarang.

Pesantren pusat berlokasi di Jalan A.H. Nasution, Gang Kujang, Kampung Cisalatri. Lokasinya sangat dekat dengan kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, sekitar lima menit berjalan kaki dari Kampus I. Karena itu, pesantren ini banyak dikenal sebagai tempat mondok mahasiswa.

Pesantren ini dipimpin oleh Ustazah Euis Susilawati bersama Pangersa Bapa. Dalam menjalankan kegiatan pesantren, pimpinan dibantu pengurus ustaz dan ustazah, di antaranya Ustazah Dini Amalia, Tiara Dwi, dan Ustaz Dhika Permana, serta jajaran pengurus lainnya.

Sejak awal, Ar-Raaid mengembangkan pendidikan salafi dengan pengkajian kitab kuning atau kitab turats. Pesantren ini berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan berpegang pada manhaj Ahlussunnah Waljamaah An-Nahdliyah. Pembinaan santri menekankan akhlak. Pesantren ini bahkan disebut sebagai “laboratorium akhlak”.

Dalam perkembangannya, Ar-Raaid tidak hanya membuka program pengajian bagi mahasantri. Pesantren ini juga mengelola SMP-SMA Unggulan yang memadukan kurikulum Kemendikbud, Kemenag, pesantren salafi, dan tahfidz Al-Qur’an. Sekolah tersebut berada di Komplek Patra Asri, Cipadung Wetan, Kecamatan Panyileukan. Pesantren juga menyediakan program santri non mukim bagi masyarakat yang ingin mengaji tetapi tidak bisa menetap di pondok.

Selain pembelajaran agama, santri dibekali pelajaran bahasa Arab dan Inggris serta pendidikan karakter. Amaliah khas Ahlussunnah Wal Jama’ah, seperti istighosah, shalawat, riyadhoh, dan ziarah wali, juga dilestarikan di pesantren ini.

Hingga kini, Ar-Raaid tidak hanya menjadi tempat tinggal mahasiswa, tetapi juga bagian dari perjalanan dakwah dan pendidikan Islam di Bandung Timur. Pesantren ini diharapkan terus melahirkan generasi berilmu dan berakhlak.

 

Reporter :Pili Alvina /KPI3A

 

Kajian Masjid Al-Furqon Ingatkan Makna Besar di Balik Perhatian Sederhana


 Dakwahpos.com, Bandung – Ustaz Rully menyampaikan materi tentang pentingnya menghargai perhatian sederhana yang dapat menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain dalam Kajian Malam Rabu di Masjid Al-Furqon, Desa Cipadung, pada 01/10/2026. Dalam kajian tersebut, ia menjelaskan bahwa hal-hal yang dianggap sepele oleh sebagian orang belum tentu memiliki arti yang kecil bagi orang lain.

Ustaz Rully menjelaskan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari sesuatu yang besar atau luar biasa. Terkadang, hal sederhana yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari justru memberikan kesan mendalam bagi seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki cara tersendiri dalam merasakan kebahagiaan.

Ia menggambarkan bahwa kegiatan sederhana, seperti berbincang dengan orang lain, dapat memberikan kebahagiaan tersendiri. Percakapan yang terlihat biasa mungkin tidak dianggap istimewa oleh sebagian orang, tetapi bisa berarti bagi orang yang menjalaninya.

“Ngobrol doang ya,” ujar Ustaz Rully ketika menggambarkan aktivitas sederhana yang kerap dianggap sepele. Melalui contoh tersebut, ia menjelaskan bahwa sesuatu yang terlihat biasa dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi orang lain.

Menurutnya, perhatian yang diberikan kepada seseorang dapat membuat orang tersebut merasa dihargai. Hal sederhana seperti meluangkan waktu untuk berbincang dapat menjadi bentuk kepedulian yang berarti, terutama ketika dilakukan dengan tulus.

Ustaz Rully juga menekankan pentingnya empati dalam berinteraksi dengan orang lain. Empati membuat seseorang berusaha memahami perasaan dan keadaan orang lain, sehingga tidak mudah menganggap remeh pengalaman yang dialami oleh orang di sekitarnya.

“Tapi orang yang dia ngomongkan, diberikan empati. Itu sudah luar biasa,” ungkap Ustaz Rully dalam ceramahnya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa memberikan empati melalui interaksi sederhana dapat memiliki arti yang besar bagi orang yang menerimanya.

Ia menjelaskan bahwa hal-hal sederhana yang menghadirkan kebahagiaan dan membawa kebaikan patut dihargai. Menurut materi yang disampaikan, pengalaman tersebut juga dapat menjadi salah satu cara untuk melatih diri dalam menumbuhkan sikap yang lebih baik terhadap sesama.

Dalam kehidupan sehari-hari, perhatian dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan sederhana, seperti mendengarkan cerita orang lain, meluangkan waktu untuk berbincang, atau menunjukkan kepedulian terhadap keadaan orang di sekitar. Tindakan tersebut tidak harus berupa sesuatu yang besar untuk dapat memberikan kesan positif.

Pembahasan ini juga menunjukkan bahwa setiap orang memiliki pengalaman dan perasaan yang berbeda. Oleh karena itu, sesuatu yang dianggap sepele oleh satu orang belum tentu memiliki arti yang sama bagi orang lain. Memahami perbedaan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antarmanusia.

Melalui kajian tersebut, Ustaz Rully menyoroti pentingnya menghargai perhatian sederhana dan menumbuhkan empati terhadap sesama. Kebaikan tidak selalu diukur dari besarnya tindakan, tetapi juga dari makna yang dirasakan oleh orang yang menerimanya.


Reporter: Sasyiza Rihhadatul 'Aisy/KPI 3B

Teladani Nabi Ibrahim, Iringi Amal Kebaikan dengan Doa kepada Allah Swt


 Dakwahpos.com, Bandung – Masjid Al-Furqon, Desa Cipadung, menggelar kegiatan ceramah keagamaan pada Jumat, 25/09/26. Dalam ceramah tersebut, penceramah mengajak jemaah untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam melakukan amal kebaikan, menjalankan ibadah, serta berdoa kepada Allah Swt. agar amal yang dilakukan dapat diterima oleh-Nya.

Penceramah menjelaskan bahwa orang-orang yang memiliki semangat dalam berbuat baik tidak hanya berusaha menjalankan ibadah, tetapi juga senantiasa memohon kepada Allah Swt. agar amal mereka diterima. Pesan tersebut disampaikan melalui kisah Nabi Ibrahim a.s. ketika mendapat perintah untuk membangun Ka'bah di Makkah, yang saat itu digambarkan sebagai tempat yang tandus dan panas.

Dalam ceramahnya, penceramah mengisahkan kesungguhan Nabi Ibrahim a.s. dalam menjalankan perintah Allah Swt. bersama putranya untuk membangun Ka'bah. Meskipun berada dalam kondisi lingkungan yang sulit, keduanya tetap menjalankan perintah tersebut sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Swt.

Penceramah kemudian menyoroti doa Nabi Ibrahim a.s. setelah melakukan amal tersebut. Kisah ini menjadi pengingat bahwa usaha dalam menjalankan perintah Allah perlu disertai dengan doa dan harapan agar amal yang telah dilakukan mendapatkan penerimaan dari-Nya.

“Terimalah amalku,” ujar penceramah ketika menjelaskan inti permohonan Nabi Ibrahim a.s. kepada Allah Swt. agar amalnya diterima. Pesan tersebut menekankan bahwa umat Islam tidak cukup hanya bersungguh-sungguh dalam beribadah, tetapi juga perlu memohon kepada Allah Swt. agar amal kebaikannya mendapatkan rida-Nya.

Melalui kisah Nabi Ibrahim a.s., jemaah diajak untuk tidak hanya berfokus pada banyaknya amal yang dilakukan, tetapi juga menjaga kesungguhan dalam beribadah dan membiasakan diri berdoa. Sikap tersebut mencerminkan kerendahan hati seorang hamba yang senantiasa mengharapkan penerimaan dari Allah Swt.

Penceramah juga mengingatkan pentingnya menjadikan doa sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Setiap amal kebaikan hendaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh, disertai niat yang baik, serta diiringi permohonan kepada Allah Swt. agar amal tersebut diterima.

Melalui ceramah keagamaan ini, jemaah diajak untuk meneladani kesungguhan Nabi Ibrahim a.s. dalam menjalankan perintah Allah Swt. sekaligus membiasakan diri berdoa setelah melakukan kebaikan. Dengan demikian, semangat beribadah tidak hanya diwujudkan melalui tindakan, tetapi juga melalui doa dan harapan akan rida Allah Swt.


Reporter: Sasyiza Rihhadatul 'Aisy/KPI 3B

Mengenal Bapak Sabar Samsudi, Ketua DKM Masjid Al-Muhajirin Cipadung


 Dakwahpos.com, Bandung – Bapak Sabar Samsudi merupakan Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Muhajirin, Cipadung. Sebelum dipercaya memimpin DKM, beliau terlebih dahulu aktif dalam kepengurusan masjid sejak 2014 sebagai bendahara seksi pembangunan. Perjalanan beliau menjadi Ketua DKM diceritakan dalam wawancara pada Selasa (13/10/2026).

Kesibukannya sebagai karyawan swasta sempat membuat beliau keberatan ketika terpilih melalui pemungutan suara masyarakat dari dua RT. “Awalnya memang terpaksa,” ungkapnya saat menceritakan awal dirinya dipercaya memimpin DKM. Setelah hampir 12 tahun mengemban tanggung jawab, Bapak Sabar sempat menyampaikan keinginan untuk berhenti pada awal 2026. Namun, beliau masih melanjutkan tugasnya karena belum ada yang bersedia menggantikan.

Bagi beliau, memakmurkan masjid bukan hanya tentang mengelola fasilitas, tetapi juga mengajak masyarakat untuk beribadah bersama. Berbagai kegiatan pun diupayakan untuk meningkatkan keterlibatan warga, termasuk generasi muda.

“Yang paling berat itu mengajak, karena yang mengajak harus ikut menjalani juga,” ujarnya.

Ke depan, Bapak Sabar berharap semakin banyak jemaah yang datang ke Masjid Al-Muhajirin, termasuk anak-anak dan generasi muda. Beliau ingin masjid semakin ramai dan menjadi ruang kebersamaan bagi masyarakat sekitar.


Reporter:  Siti Iklimah/KPI3B

Ahmad Sobari dan Perjalanan Panjang Mengabdi di Masjid At-Thoyyibah Cipadung


 Dakwahpos — Masjid At-Thoyyibah Cipadung memiliki perjalanan sejarah yang berkaitan dengan wakaf dan pembangunan yang dilakukan secara bertahap. Ahmad Sobari, yang mengenal masjid tersebut sejak kecil, menceritakan kembali sejarah pendirian hingga perubahan lokasi masjid dalam wawancara pada (08/10/2026).

Menurut Ahmad Sobari, masjid tersebut didirikan oleh ayahnya di atas tanah wakaf. Berdasarkan ingatannya, masjid telah ada sekitar tahun 1961–1963 dan pada 1972 masih berada di lokasi bawah. Sekitar tahun 1977, masjid kemudian berpindah ke lokasi yang ditempati sekarang.

“Saya dengar itu kan pendiri pertama itu adalah orang tua saya,” ujar Ahmad Sobari ketika menceritakan asal-usul Masjid At-Thoyyibah Cipadung.

Ahmad yang lahir pada 1969 masih mengingat keberadaan masjid ketika dirinya kecil. Sekitar tahun 1974, ia kerap dibawa ayahnya ke masjid yang saat itu masih berada di lokasi bawah. Ia juga mengingat proses pembangunan di lokasi sekarang, termasuk kedatangan material menggunakan truk untuk pengerjaan pondasi awal.

Dalam penuturannya, Ahmad menjelaskan bahwa ingatan masa kecil tersebut membuatnya mengetahui sebagian proses pembangunan masjid. Ia mengingat bagaimana material didatangkan dan pondasi mulai dikerjakan. Setelah bangunan berdiri, masjid mengalami beberapa kali perombakan seiring berjalannya waktu.

“Bikin pondasi yang pertama saya tahu karena kan waktu kecil. Ingat saya kecil. Ingat batunya dari mana datang truknya ke sini tahu saya gitu,” tutur Ahmad saat mengenang pembangunan masjid.

Ahmad juga menjelaskan bahwa tanah masjid merupakan tanah wakaf dari ayahnya, sementara perombakan berikutnya mendapat sumbangan dari masyarakat. Dengan demikian, perjalanan bangunan Masjid At-Thoyyibah Cipadung tidak hanya berkaitan dengan pendirinya, tetapi juga melibatkan warga yang turut membantu proses perbaikan.

Sejarah tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan masjid dijaga melalui wakaf dan keterlibatan masyarakat dari waktu ke waktu. Ahmad menuturkan bahwa tanah wakaf itu diperuntukkan bagi masjid, bukan untuk dimanfaatkan sebagai kepentingan pribadi keluarga. Hal ini sejalan dengan ucapannya, “Enggak boleh sama anak-anaknya dipakai.” Pesan tersebut mengingatkan pentingnya menjaga amanah wakaf agar masjid terus menjadi tempat ibadah dan memberi manfaat bagi masyarakat.


Reporter: Sultan Mauludin, KPI/3B

Menelusuri Sejarah Masjid At-Thoyyibah Cipadung, dari Tanah Wakaf hingga Lokasi Sekarang

 

Dakwahpos — Masjid At-Thoyyibah Cipadung memiliki perjalanan sejarah yang berkaitan dengan wakaf dan pembangunan yang dilakukan secara bertahap. Ahmad Sobari, yang mengenal masjid tersebut sejak kecil, menceritakan kembali sejarah pendirian hingga perubahan lokasi masjid dalam wawancara pada (08/10/2026).

Menurut Ahmad Sobari, masjid tersebut didirikan oleh ayahnya di atas tanah wakaf. Berdasarkan ingatannya, masjid telah ada sekitar tahun 1961–1963 dan pada 1972 masih berada di lokasi bawah. Sekitar tahun 1977, masjid kemudian berpindah ke lokasi yang ditempati sekarang.

“Saya dengar itu kan pendiri pertama itu adalah orang tua saya,” ujar Ahmad Sobari ketika menceritakan asal-usul Masjid At-Thoyyibah Cipadung.

Ahmad yang lahir pada 1969 masih mengingat keberadaan masjid ketika dirinya kecil. Sekitar tahun 1974, ia kerap dibawa ayahnya ke masjid yang saat itu masih berada di lokasi bawah. Ia juga mengingat proses pembangunan di lokasi sekarang, termasuk kedatangan material menggunakan truk untuk pengerjaan pondasi awal.

Dalam penuturannya, Ahmad menjelaskan bahwa ingatan masa kecil tersebut membuatnya mengetahui sebagian proses pembangunan masjid. Ia mengingat bagaimana material didatangkan dan pondasi mulai dikerjakan. Setelah bangunan berdiri, masjid mengalami beberapa kali perombakan seiring berjalannya waktu.

“Bikin pondasi yang pertama saya tahu karena kan waktu kecil. Ingat saya kecil. Ingat batunya dari mana datang truknya ke sini tahu saya gitu,” tutur Ahmad saat mengenang pembangunan masjid.

Ahmad juga menjelaskan bahwa tanah masjid merupakan tanah wakaf dari ayahnya, sementara perombakan berikutnya mendapat sumbangan dari masyarakat. Dengan demikian, perjalanan bangunan Masjid At-Thoyyibah Cipadung tidak hanya berkaitan dengan pendirinya, tetapi juga melibatkan warga yang turut membantu proses perbaikan.

Sejarah tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan masjid dijaga melalui wakaf dan keterlibatan masyarakat dari waktu ke waktu. Ahmad menuturkan bahwa tanah wakaf itu diperuntukkan bagi masjid, bukan untuk dimanfaatkan sebagai kepentingan pribadi keluarga. Hal ini sejalan dengan ucapannya, “Enggak boleh sama anak-anaknya dipakai.” Pesan tersebut mengingatkan pentingnya menjaga amanah wakaf agar masjid terus menjadi tempat ibadah dan memberi manfaat bagi masyarakat.


Reporter: Sultan Mauludin, KPI/3B

Bukan Sekadar Cinta, KH. Warsum Ajak Jamaah Teladani Akhlak Rasulullah


Dakwahpos.com, Bandung — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid At-Thoyyibah Cipadung pada (03/10/2026) menjadi momentum untuk mengingat kembali kecintaan kepada Rasulullah. Dalam tausiyahnya, KH. Warsum Winaryo mengajak jamaah untuk tidak hanya mencintai Nabi melalui ucapan, tetapi juga meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.

KH. Warsum menyampaikan bahwa kecintaan kepada Rasulullah dapat diwujudkan melalui shalawat dan usaha mengikuti keteladanan beliau. Menurutnya, rasa cinta kepada Nabi perlu terlihat dari bagaimana seseorang menerapkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan, bukan hanya melalui pengakuan bahwa dirinya mencintai Nabi.

Hal tersebut disampaikan KH. Warsum dengan mengatakan, “Tergantung karo akhlak orang, kumaha seberapa banyak, seberapa jauh kita melaksanakan Rasulullah.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah berkaitan dengan sejauh mana umat mampu mengikuti dan melaksanakan keteladanan beliau dalam kehidupan.

Menurut KH. Warsum, akhlak Rasulullah menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan oleh umat. Ia mengingatkan bahwa kecintaan kepada Nabi tidak cukup hanya dengan memperbanyak ucapan tentang cinta kepada Rasulullah, tetapi juga perlu diwujudkan melalui sikap dan perilaku yang baik.

“Akhlak teladan Kanjeng Rasul ini pedoman hidup,” ujar KH. Warsum. Ia menekankan bahwa keteladanan Rasulullah dapat dijadikan pedoman oleh umat dalam menjalani kehidupan, sehingga kecintaan kepada Nabi memiliki wujud nyata dalam akhlak sehari-hari.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa Maulid Nabi tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang Rasulullah, tetapi juga mengingat kembali akhlak yang beliau teladankan. Shalawat dan kecintaan kepada Nabi menjadi bagian dari upaya untuk terus mendekatkan diri kepada keteladanan Rasulullah.

Melalui peringatan Maulid Nabi, KH. Warsum mengajak jamaah untuk terus menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah sekaligus berusaha mengikuti akhlaknya. Sebagaimana disampaikannya, “Akhlak teladan Kanjeng Rasul ini pedoman hidup,” sehingga rasa cinta kepada Nabi diharapkan tidak berhenti pada ucapan, tetapi juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari.


Reporter: Sultan Mauludin, KPI/3B

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos