Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Menghidupkan Masjid, Membangun Kebersamaan Warga melalui Pengajian Rutin di Masjid Nurul Ikhsan, Cipadung

Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Nurul Ikhsan, Cipadung, terus berupaya mempererat kebersamaan antarwarga melalui berbagai kegiatan keagamaan yang positif. Salah satu kegiatan andalan yang rutin diselenggarakan adalah pengajian mingguan ibu-ibu yang dipimpin oleh Ustadzah Iis Kartika, atau yang akrab disapa "Teteh" oleh para jamaah.

Pengajian ini merupakan agenda rutin mingguan yang biasanya diselenggarakan setiap hari Sabtu pada pukul 13.00 WIB. Susunan acara kegiatan ini diawali dengan membaca Asmaul Husna bersama-sama, kemudian dilanjutkan dengan membaca Al-Qur'an, dan diakhiri dengan pemberian materi.

Materi yang disampaikan tidak hanya berfokus pada ilmu fiqih dan ilmu tajwid saja. Lebih dari itu, terkadang ketika mendekati hari-hari besar Islam, pengajian ini juga diisi dengan latihan qasidah untuk tampil di panggung yang dilatih langsung oleh Ustadzah Iis.

Kehadiran kegiatan ini memiliki dampak positif bagi seluruh warga sekitar karena mereka bisa menjalin silaturahmi antarwarga dan juga belajar ilmu-ilmu baru yang belum pernah didapatkan sebelumnya.

Reporter: Amelia Amanda/ KPI3C

Uploaded Image

Bangun Generasi Qurani lewat Pendidikan Agama di Manisi


Dakwahpos.com, Bandung- Kegiatan pendidikan Al-Qur'an di Masjid Ilaa Khoiri Ummah Manisi, Bandung, membagi pembelajaran anak ke dalam dua sesi, yakni Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) pada sore hari dan Madrasah Diniyah Takmiliyah Ula (MDTU) pada malam hari. Pembagian ini diterapkan untuk menyesuaikan waktu dan materi pembelajaran dengan usia serta jenjang pendidikan anak.

Ustaz Fitroh Radiyansyah Nasution, S.H., menjelaskan bahwa sesi TPQ diperuntukkan bagi anak berusia 4sampai7 tahun. Kegiatan tersebut berlangsung pada sore hari, sedangkan sesi MDTU dimulai pukul 17.30 hingga 20.20 WIB dan diikuti siswa kelas I hingga kelas VI sekolah dasar.

Dalam pelaksanaannya, kedua sesi tersebut dikelola oleh enam mahasiswa. Mereka bertugas mendampingi anak-anak belajar mengaji dan mengikuti kegiatan pendidikan agama. Menurut Ustaz Fitroh, para pengajar perlu meluangkan waktu sejak sore hingga malam untuk mendampingi kegiatan tersebut.

Untuk menjaga semangat belajar anak, pengajar menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi. Ustaz Fitroh mengatakan bahwa metode Ummi digunakan dalam pembelajaran membaca Al-Qur'an, tetapi tidak selalu diterapkan karena sebagian anak terkadang merasa bosan atau belum memahami materi.

“Jadi di sini walaupun resmi, tapi di sini juga ada kayak bermainnya, ujar Ustaz Fitroh dalam wawancara pada Jumat (23/10/2026).

Ia menjelaskan bahwa kegiatan bermain disisipkan di antara pembelajaran. Anak-anak yang mengikuti TPQ, misalnya, diajak bernyanyi, sedangkan peserta MDTU juga mendapatkan permainan sebagai selingan agar tidak mudah bosan.

Selain pembelajaran membaca Al-Qur'an, MDTU memiliki kurikulum yang mengacu pada Kementerian Agama. Materi yang diajarkan meliputi fikih, akidah akhlak, bahasa Arab, sejarah kebudayaan Islam (SKI), serta Al-Qur'an Hadis. Peserta didik juga mengikuti evaluasi pembelajaran, seperti ujian tengah semester, ujian akhir semester, dan penilaian akhir tahun.

Ustaz Fitroh menerangkan bahwa MDTU merupakan pendidikan nonformal, meskipun materi dan evaluasinya memiliki kemiripan dengan pembelajaran di madrasah ibtidaiyah (MI). Perbedaannya terletak pada status pendidikan: MI merupakan pendidikan formal, sedangkan MDTU termasuk pendidikan nonformal.

Di samping pelajaran akademik, lembaga tersebut memiliki program unggulan berupa tahfiz Al-Qur'an dan pengembangan karakter. Program karakter menitikberatkan pembinaan adab dan akhlak peserta didik, sementara program tahfiz mendorong anak-anak untuk menghafal Al-Qur'an.

Ustaz Fitroh menyampaikan bahwa sejumlah peserta didik telah menyelesaikan hafalan Juz 29 dan Juz 30. Peserta yang menuntaskan hafalan tersebut nantinya akan mengikuti wisuda tahfiz. Selain itu, wisuda juga diselenggarakan setiap tahun sebagai bagian dari kegiatan pendidikan.

Melalui pembagian sesi, variasi metode pembelajaran, serta program tahfiz dan pengembangan karakter, kegiatan TPQ dan MDTU diharapkan dapat mendukung anak-anak dalam mempelajari Al-Qur'an sekaligus membangun adab dan akhlak sejak dini.

Reporter: Alya Hamidah KPI/3C

Kenali Sejarah Masjid Ilaa Khoiri Ummah Manisi sejak 1998


Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Ilaa Khoiri Ummah di Manisi, Bandung, mulai dibangun pada 1998 sebagai masjid pertama di kawasan tersebut. Setelah sempat terhenti selama dua tahun, pembangunan kembali dilanjutkan pada 2000. Sejak awal, masjid ini direncanakan memiliki tiga lantai untuk menunjang kebutuhan ibadah masyarakat. Namun, keterbatasan dana dan sejumlah kendala lainnya menyebabkan pembangunan belum rampung hingga 2026.

Ustaz Fitroh Radiyansyah Nasution, S.H., selaku Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), menjelaskan bahwa gagasan pembangunan masjid berasal dari mahasiswa terdahulu yang kemudian berdiskusi dengan sejumlah tokoh masyarakat. Pak Tatang dan Pak Abu turut mendukung pendirian masjid tersebut melalui sumbangan dana. Pembangunan dilakukan untuk menyediakan tempat ibadah bagi masyarakat setempat yang saat itu belum memiliki masjid.

Dalam perkembangannya, masjid tersebut sempat memiliki keterkaitan dengan salah satu organisasi kemasyarakatan (ormas). Namun, pengelolaannya kemudian diserahkan kepada masyarakat. Ustaz Fitroh menegaskan bahwa masjid tersebut diwakafkan untuk kepentingan bersama, bukan semata-mata untuk kelompok tertentu. Ia menjelaskan, “Ini sebenarnya diwakafkan oleh orang itu kepada masyarakat.”

Nama Ilaa Khoiri Ummah juga memiliki makna yang berkaitan dengan tujuan pendirian masjid. Menurut Ustaz Fitroh, nama tersebut mengandung harapan agar masjid menjadi tempat yang membawa kebaikan bagi umat dan jemaah. Makna tersebut sejalan dengan fungsi masjid sebagai tempat beribadah sekaligus ruang bagi masyarakat untuk menjalankan kegiatan keagamaan.

Perjalanan Masjid Ilaa Khoiri Ummah tidak selalu berjalan lancar. Setelah pembangunan awal, masjid sempat terbengkalai hingga 2015. Pada masa itu, kegiatan salat wajib berjemaah dan pengajian belum terkoordinasi dengan baik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan masjid tidak hanya menghadapi persoalan pembangunan fisik, tetapi juga tantangan dalam menghidupkan kegiatan keagamaan.

Perubahan mulai dilakukan pada 2016 melalui penataan kembali kegiatan masjid. Pada tahun yang sama, Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) didaftarkan ke Kementerian Agama hingga menjadi lembaga pendidikan nonformal yang resmi. Masjid Ilaa Khoiri Ummah juga telah terdaftar sebagai masjid jami. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam perkembangan masjid, terutama dalam memperkuat perannya sebagai tempat ibadah dan pendidikan agama.

Meskipun kegiatan keagamaan mulai berkembang kembali, pembangunan fisik masjid masih menghadapi hambatan. Rencana pembangunan lantai kedua yang dimulai pada 2016 belum dapat diselesaikan. Padahal, sejak awal, bangunan tersebut direncanakan memiliki tiga lantai. Menurut Ustaz Fitroh, keterbatasan biaya menjadi salah satu penyebab utama terhambatnya pembangunan.

Selain persoalan pendanaan, Fitroh mengungkapkan adanya kendala berupa kurangnya dukungan dari sejumlah pihak. Perbedaan pandangan mengenai kepemilikan masjid turut mempersulit upaya melanjutkan pembangunan. Ia menjelaskan bahwa meskipun masjid tersebut diperuntukkan bagi masyarakat, terdapat pihak yang menganggapnya sebagai milik organisasi tertentu.

Hingga 2026, Masjid Ilaa Khoiri Ummah masih menjalankan fungsi sebagai tempat ibadah dan pendidikan keagamaan bagi masyarakat Manisi. Perjalanan sejak pembangunan awal pada 1998 hingga pengaktifan kembali kegiatan pada 2016 memperlihatkan berbagai tantangan yang dihadapi masjid tersebut. Meskipun bangunannya belum selesai sesuai rencana, keberadaannya tetap menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat setempat.

 

Reporter: Alya Hamidah KPI/3C

Manusia Ibaratkan Pohon, Khatib Tegaskan Akhlakul Karimah Buah Keimanan Manusia

Dakwahpos.com, Bandung - Ustaz Zainal Abidin, menyampaikan bahwa manusia beriman ibarat pohon yang berakar iman, bercabang silaturahmi, dan berbuah akhlak mulia, dalam khotbah Jumat di Masjid Darussalam, Komplek Permata Biru, Jumat (30/10/2026).

Khatib mengawali khotbahnya dengan membacakan Surah Ibrahim ayat 24. Menurutnya, dalam ayat itu Allah Swt. mengumpamakan manusia yang hebat seperti pohon yang baik Ø´َجَرَØ©ٍ Ø·َÙŠِّبَØ©ٍ. Ia mengutip penjelasan Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud kalimat thayyibah adalah la ilaha illallah.

Ia menjelaskan bahwa orang beriman adalah orang yang berkomitmen pada aturan Allah. Ia mencontohkan kisah Rasulullah saw. yang menawarkan jalan ke surga kepada sahabat Abu Dzar Al-Ghifari, yakni berkomitmen pada empat kalimat: tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.

Khatib menerangkan bahwa tasbih berarti mensucikan Allah karena hanya Allah yang suci. Adapun tahmid, mengutip Syekh Ash-Shabuni, merupakan doa yang paling sempurna. Ketika dipuji, kata dia, cukup dijawab dengan alhamdulillah.

Ia menambahkan, kalimat-kalimat itu semestinya terucap spontan, misalnya subhanallah saat melihat gunung atau laut yang indah, dan astagfirullah saat melihat jalan yang buruk.

Khatib kemudian menguraikan tiga karakter pohon yang dijadikan perumpamaan manusia. Karakter pertama adalah akar, yang bagi manusia berarti iman.

“Kalau di pohon ada akar, manusia punya iman. Makanya iman itu harus kuat,” ujarnya.

Menurutnya, pohon tumbang bukan karena angin kencang atau hujan deras, melainkan karena akarnya lemah. Begitu pula orang yang menjual jabatan, harkat, harga diri, dan kehormatan, karena imannya lemah.

Karakter kedua adalah batang, cabang, ranting, dan daun. Ia menyebut bagian ini melambangkan hubungan baik dengan sesama. Manusia harus bersikap santun tidak hanya di masjid, tetapi juga di jalan, pasar, dan rumah.

Karakter ketiga adalah buah, yang menurut khatib berarti akhlak mulia. Ia menegaskan bahwa Allah tidak bisa disandiwarai oleh siapa pun. Menurutnya, percuma tampil hebat di masjid jika di luar masjid akhlaknya buruk.

“Yang Allah nilai adalah apa? Buah. Dan buah manusia adalah akhlakul karimah,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa manusia ibarat pohon yang berakar iman kuat, berdahan silaturahmi dan hubungan baik dengan sesama, serta berbuah akhlakul karimah. Akhlak mulia itu harus ditunjukkan kepada siapa pun, tidak hanya kepada pejabat atau orang hebat, tetapi juga kepada orang kecil. Karena itu, ia mengingatkan agar jemaah tidak merasa hebat dan sombong, sebab di sisi Allah semua manusia tidak berarti apa-apa.

Reporter: Farid Zakhir Muzhaffar, KPI/3D
Uploaded Image

Agar Hidup Mudah, Ustaz Taufik Rizaldi Ajak Jemaah Tak Kikir

Dakwahpos.com, Bandung- Ustaz Taufik Rizaldi mengajak jemaah tidak kikir setelah menerima penghasilan karena sikap itulah yang menentukan hidup mudah atau sulit. Ajakan itu ia sampaikan dalam khotbah Jumat di Masjid Al-A’raaf, Perumahan Permata Biru, Cinunuk, Kabupaten Bandung, Jumat (30/10/2026).

Ia mengawali khotbah dengan mengajak jemaah bersyukur karena masih diberi waktu untuk menambah amal saleh, memperbaiki kesalahan, dan bertobat. Taufik Rizaldi berharap jemaah menjaga ibadah Jumat dengan tidak tidur, tidak berbicara, dan tidak memainkan telepon genggam saat khotbah.

Memasuki pokok bahasan, ia menyoroti kewajiban suami dan ayah mencari nafkah. Menurutnya, bekerja untuk keluarga, orang tua, atau diri sendiri agar tidak meminta-minta termasuk jihad di jalan Allah (fisabilillah).

“Mencari nafkah merupakan ibadah yang sangat besar bahkan masuk kategori jihad fisabilillah,” ujar Taufik Rizaldi dalam khotbah Jumat (30/10/2026).

Syaratnya, pekerjaan itu tidak dicampuri kebohongan dan maksiat. Ia menambahkan, perbedaan jenis pekerjaan dan besar pendapatan bukan masalah karena tidak mungkin semua orang menjadi tukang, guru, atau pelaku pasar modal.

Yang membedakan, kata dia, adalah sikap setelah memperoleh penghasilan. Orang yang berbagi dan bertambah takwanya akan diberi kemudahan oleh Allah Swt., sedangkan orang yang kikir dan berlebihan membelanjakan hartanya untuk diri sendiri akan diberi jalan kesulitan. Ia mencontohkan orang yang memiliki beberapa mobil dan membeli baju puluhan juta rupiah padahal cukup yang ratusan ribu.

“Ternyata jalan kemudahan atau jalan kesulitan itu bukan dari hasil yang kita dapatkan, tetapi adalah dari sikap setelah apa yang didapatkan oleh kita,” ungkapnya.

Ia membandingkan keluarga sederhana yang anak-anaknya sehat, berpendidikan, dan hidup bahagia dengan keluarga berumah megah yang justru dilanda pertengkaran, perselingkuhan, hingga anak terjerat narkoba. Ia juga mengisahkan rumah megah yang dijual setelah pemiliknya wafat, serta seorang bapak berusia 61 tahun pemimpin proyek gedung 13 lantai di Jakarta yang meninggal sebelum gedung diresmikan.

“Mari kita manfaatkan waktu yang tersedia menjadi pribadi-pribadi yang mempunyai planning ke surga,” imbuhnya.

Di akhir khotbah, ia berdoa agar jemaah kelak disambut malaikat dengan salam dan dipersilakan masuk surga karena banyak beramal saleh semasa hidup.

Reporter: Asep Aprezal, KPI/3D
Uploaded Image

Di Bawah Pimpinan Haji Endi, Masjid Al-Hikmah Berkembang Pesat

Dakwahpos.com, Bandung - Haji Endi, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Hikmah, dinilai menjadi tokoh berpengaruh di balik pesatnya perkembangan masjid selama tiga tahun terakhir. Penilaian itu disampaikan marbut kang Soffan, Juma’at 30 Oktober 2026.

Menurutnya, Haji Endi telah menjabat sekitar tiga tahun dan kini memasuki periode kedua. Kepengurusan DKM diganti setiap tiga tahun sekali, dan Haji Endi terpilih kembali.

“Alhamdulillah 3 tahun belakangan memang perkembangannya pesat,” ujar kang Soffan, marbot Masjid Al-Hikmah Permata Biru.

Ia menyebut perkembangan itu terutama terlihat dari pembangunan masjid. Jumlah jamaah ikut bertambah, dan tidak ada bangunan lama yang dipertahankan karena masjid ini tergolong baru.

“Dulunya masjid ini kecil, kayak musala ya,” tuturnya.

Di tingkat pengurus, Haji Endi dibantu seorang pengurus bidang keamanan, Delfi. Soffan sebagai marbot dibantu Rahmat dan Engkos, sementara ia mengaku baru mengenal sebagian pengurus karena masih baru bertugas. Peran kang Soffan sendiri mencakup menjaga kebersihan masjid dan menjadi muazin. Sesekali ia juga menjadi imam dan khatib.

Menurutnya, yang membedakan Al-Hikmah dari masjid lain adalah pengelolaan kebersihan. Pekerjaan itu tidak dibebankan pada satu atau dua marbot, tetapi dibagi kepada banyak pengurus, mulai dari membersihkan karpet, kaca, toilet, hingga halaman.

“Jadi banyak yang terlibat, melibatkan banyak orang,” katanya.

Selain salat, masjid ini menggelar pengajian ba’da Subuh pada hari Ahad dan pengajian malam Senin. Ada pula majelis taklim ibu-ibu dan TPQ untuk anak-anak.

Reporter: M. Alif Ramdhan Sohibul Fahmi, KPI/3D

 

Masjid Al-Barokah Berdiri Sejak 1998, Jadi Sarana Ibadah Masyarakat Cilebut Indah

Dakwahpos.com, Bogor – Masjid Al-Barokah yang berada di Kompleks PWI Jaya RW 08, Cilebut Indah, Bogor, telah berdiri sejak 1998. Keberadaan masjid ini menjadi sarana ibadah bagi masyarakat sekitar sekaligus tempat untuk mempererat kebersamaan melalui kegiatan keagamaan.

Berdasarkan wawancara dengan Ibu Atik pada Minggu (25/10/2026), Masjid Al-Barokah didirikan untuk memfasilitasi kebutuhan ibadah masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Kehadiran masjid diharapkan dapat menjadi tempat bagi warga untuk melaksanakan salat berjamaah dan beribadah bersama.

Keberadaan masjid tersebut juga didukung oleh dokumen susunan panitia pembangunan Masjid Al-Barokah yang bertanggal 2 Juni 1998. Dokumen tersebut mencantumkan susunan kepanitiaan pembangunan masjid di Perumahan PWI Jaya, Cilebut Indah, Bogor, sebagai salah satu bukti dokumenter terkait pembangunan masjid pada tahun tersebut.

Dalam foto dokumen, Bachroni tercatat sebagai ketua panitia pembangunan, sedangkan Ir. Kadresiyanto S. tercantum sebagai sekretaris I. Selain itu, terdapat sejumlah bagian kepanitiaan yang menangani kebutuhan pembangunan, mulai dari usaha dana, pelaksanaan pembangunan, hingga keamanan.

Perjalanan Masjid Al-Barokah juga tidak terlepas dari keterlibatan pengurus yang menjalankan tanggung jawab dalam mengelola masjid. Dalam wawancara tersebut, Ibu Atik menceritakan pengalamannya yang pernah menjadi sekretaris dan wakil ketua dalam kepengurusan masjid.

Ia juga menyebutkan Haji Sugeng Pamuji sebagai ketua sebelumnya dan Haji Sentot Susetyo sebagai ketua yang menjabat saat wawancara berlangsung. Pergantian kepengurusan tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengelolaan Masjid Al-Barokah dalam menjalankan kegiatan ibadah dan pelayanan kepada jamaah.

Menurut Ibu Atik, tujuan utama pendirian masjid tidak hanya menyediakan tempat ibadah, tetapi juga mendorong masyarakat untuk beribadah bersama dan memakmurkan masjid. Upaya tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai kegiatan keagamaan yang diselenggarakan bagi jamaah.

Keberadaan Masjid Al-Barokah di Kompleks PWI Jaya RW 08 hingga kini menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat setempat. Melalui fungsi sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan keagamaan, masjid ini diharapkan terus memberikan manfaat bagi warga sekitar.

Reporter: Salwa Mufidatuzzahwa, KPI 3

SEJARAH MASJID | MASJID | DAKWAH

 



 

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos