Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Khatib Masjid Nurul Hidayah Kuningan Anjurkan Jemaah Awali Aktivitas dengan Bismillah


Dakwahpos.com, Kuningan- Para Jemaah salat Jumat di Masjid Nurul Hidayah diingatkan untuk mengawali setiap aktivitas dengan membaca Bismillah agar kegiatan yang dilakukan mendapat keberkahan dari Allah Swt. Pesan tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat, Jumat (11/9/2026).

Dalam khutbah, jemaah diajak meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. Takwa juga diwujudkan melalui kebiasaan baik dalam setiap aktivitas sehari-hari.

Khatib menyampaikan bahwa membaca Bismillah menjadi salah satu bentuk mengingat Allah sebelum melakukan pekerjaan. Kebiasaan tersebut dinilai dapat memberikan nilai keberkahan dalam aktivitas yang dilakukan.

“Ketika sebuah aktivitas kita awali dengan kalimat Bismillah, maka akan ada nilai barokah di dalamnya. Barokah ada ziyadatul khair, ziyadatul nikmat, bertambahnya kebaikan, bertambahnya kenikmatan,” ujar khatib dalam khutbah Jumat, Jumat (11/9/2026).

Khatib juga memberikan contoh ketika seseorang hendak makan. Membaca Bismillah sebelum makan disampaikan sebagai bagian dari ajaran Rasulullah SAW agar makanan yang dikonsumsi membawa kesehatan dan keberkahan.

Selain itu, jemaah diingatkan bahwa membaca Bismillah tetap dianjurkan ketika seseorang lupa mengucapkannya sebelum makan. Dalam khutbah, jemaah juga diajak memohon perlindungan, rezeki, kesehatan, dan keberkahan dari Allah Swt.

Pesan khutbah tersebut menekankan pentingnya menjadikan Bismillah sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengingat Allah pada setiap langkah, umat Islam diharapkan dapat menjalani aktivitas dengan lebih baik dan bernilai ibadah.

Reporter: Aditya Putra M, KPI/ 3C


Khatib Jumat Masjid Al-Manshurin Ingatkan Jamaah Jaga Sholat 5 Waktu


Dakwahpos.com, Bandung – Pelaksanaan salat Jumat di Masjid Al-Manshurin, Jl. Sindangsari, Cipadung Kulon, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung, Jawa Barat 40614, pada 18 September 2026, diisi dengan khutbah oleh H. Agus Yahya yang membahas pentingnya menjaga salat lima waktu. Dalam khutbahnya, H. Agus Yahya mengingatkan jamaah untuk senantiasa menjaga salat sebagai salah satu kewajiban utama umat Islam serta menjadikannya sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam khutbah Jumat, khatib menyampaikan materi mengenai pentingnya menjaga salat lima waktu sebagai salah satu kewajiban utama bagi umat Islam. Salat menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim karena merupakan rukun Islam yang kedua setelah syahadat.

“Salat adalah rukun Islam yang kedua. Karena itu, sebagai seorang Muslim kita harus senantiasa menjaga dan melaksanakan salat lima waktu,” ujar khatib dalam khutbahnya.

Khatib menjelaskan bahwa menjaga salat tidak hanya berarti melaksanakannya, tetapi juga memperhatikan waktu dan ketepatan dalam menunaikannya. Setiap Muslim dianjurkan untuk membiasakan diri melaksanakan salat secara terus-menerus dan tidak meninggalkannya dalam keadaan apa pun.

“Jangan sampai kita meremehkan salat atau meninggalkannya. Salat harus kita jaga dan kita laksanakan secara terus-menerus karena salat merupakan kewajiban yang telah diperintahkan oleh Allah,” jelasnya.

Selain sebagai kewajiban, salat juga memiliki pengaruh terhadap perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Khatib menyampaikan bahwa orang yang menjaga salat hendaknya mampu menjadikan ibadah tersebut sebagai sarana untuk meningkatkan ketakwaan dan menjauhi berbagai perbuatan yang dilarang oleh Allah Swt.

“Allah telah menjelaskan bahwa sesungguhnya salat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Maka, jangan hanya salat secara lahiriah, tetapi hendaknya salat juga memberikan pengaruh kepada perilaku kita,” tuturnya. 

Menurut khatib, pelaksanaan salat yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi salah satu bentuk penjagaan diri dari perbuatan buruk. Oleh karena itu, umat Islam tidak seharusnya memandang salat hanya sebagai rutinitas harian, melainkan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Swt yang memiliki dampak terhadap kehidupan.

“Kalau kita benar-benar menjaga salat, insyaallah salat itu akan menjadi penjaga bagi diri kita dari berbagai perbuatan yang tidak baik,” katanya.

Khatib kemudian mengingatkan jamaah agar senantiasa memperhatikan pelaksanaan salat lima waktu di tengah kesibukan sehari-hari. Kesibukan dalam bekerja, belajar, maupun menjalankan aktivitas lainnya tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban tersebut.

“Apa pun kesibukan kita, jangan sampai membuat kita lalai terhadap salat. Ketika waktunya tiba, hendaknya kita segera menunaikan kewajiban kepada Allah,” pesan khatib kepada jamaah.

Pada akhir penyampaian materi, khatib mengajak jamaah untuk meningkatkan ketakwaan dengan menjaga salat lima waktu dan membiasakan diri melaksanakannya secara istiqamah. Pesan tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bagi jamaah agar lebih memperhatikan kualitas dan keberlangsungan ibadah salat dalam kehidupan sehari-hari.

“Mari kita sama-sama menjaga salat lima waktu, melaksanakannya dengan baik dan istiqamah. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk senantiasa taat kepada-Nya,” pungkasnya.

Reporter: Nazwa Salsabila

Ustaz Abdul Rosyad Sampaikan Makna Khutbah Hajah di Masjid Cikalama 2

z

Dakwahpos.com, Sumedang- Ustaz Abdul Rosyad mengajak jemaah memperkuat ketakwaan sekaligus berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah saat menyampaikan khutbah salat Jumat di Masjid Cikalama 2 Sumedang (25/09/2026). Melalui mimbar tersebut, ustaz Abdul Rosyad membawa kembali pesan berharga dari Khutbah Hajah yang dahulu sering disampaikan Rasulullah saw di berbagai momen penting.

Sejak awal khutbah, Ustaz Abdul Rosyad menekankan pentingnya berserah diri secara total kepada Allah Swt. Ia berpesan agar jamaah terus menjaga keimanan hingga akhir hayat.

“Hai sekalian orang-orang yang beriman, bertakwalah, hanya patuh dan tunduklah kepada satu-satunya pencipta segala sesuatunya yaitu Allah. Sebenar-benar patuh dan tunduk, dan jangan pernah kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan Islam,” ujar Ustaz Abdul Rosyad saat mengutip surah Ali ‘Imran ayat 102.

Setelah itu, ustaz Abdul Rosyad menerangkan bahwa takwa juga berwujud kepatuhan terhadap syariat halal-haram serta kepedulian terhadap sesama melalui tali silaturahmi. 

“Hai sekalian manusia, sekali lagi bertakwalah, hanya patuh dan tunduklah kepada Allah. Yang halal yang Ia halalkan, yang haram yang Ia haramkan, yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu yaitu Adam a.s. dan telah menciptakan dari jiwa yang satu istrinya Hawa dan telah banyak memberikan keturunan laki-laki juga perempuan dari keduanya. Sekali lagi bertakwalah kepada Allah dan jagalah hubungan silaturahim.Sesungguhnya Allah senantiasa mengawasi kalian,” ujar Ustaz Abdul Rosyad merujuk surah An-Nisa ayat 1. 

Melengkapi pesan khutbahnya, Ustaz Abdul Rosyad mengimbau jamaah untuk selalu menjaga tutur kata yang benar. Menurutnya, ucapan yang jujur dan santun menjadi kunci perbaikan amal serta pengampunan dosa dari Allah Swt. Pengutipan surah Al-Ahzab ayat 70-71 ini sekaligus menjadi pijakan untuk menegaskan rujukan utama beragama.

“Dan sebaik-baik petunjuk selain Al-Qur’an adalah petunjuk baginda Nabi Besar Muhammad saw. dan seburuk-buruk perbuatan dalam ibadah ialah tidak punya rujukan dari keduanya,” tegas Ustaz Abdul Rosyad.

Ia menutup penjelasan dengan mengingatkan jamaah agar tidak menciptakan hal baru tanpa rujukan wahyu dalam beribadah, karena setiap penyimpangan akan menyesatkan umat.

Reporter: Nasywan Ainnur Rohimah, KPI/3C

Ustaz Rosyad Ajak Jemaah Masjid Cikalama 2 Sumedang Hidupkan Sunnah Rasul


Dakwahpos.com, Sumedang- Ustaz Abdul Rosyad menyampaikan khutbah dalam pelaksanaan salat Jumat di Masjid Cikalama 2 Sumedang (11/09/2026). Ia mengajak jemaah untuk tidak sekadar mengaku mencintai Allah Swt. dan Rasulullah saw., tetapi membuktikannya melalui amalan dan sunah Rasul.

Menurut Ustaz Abdul Rosyad, cinta kepada Rasulullah saw. Tidak cukup hanya ditunjukkan melalui peringatan Maulid setiap tahun. Cinta tersebut, menurutnya, perlu diwujudkan dengan mengikuti sunah dan amalan yang dicontohkan Rasulullah saw. Ia menilai pengakuan cinta menjadi tidak berarti apabila amalan yang diajarkan Rasulullah justru ditinggalkan.

“Naon anu dipidamel ku Kanjeng Rasul kedah dituturkeun ku urang,” ujar Ustaz Abdul Rosyad. Ia mengajak jemaah untuk meneladani ibadah-ibadah yang dilakukan Rasulullah saw.

Ajakan tersebut kembali disampaikan  Ustaz Abdul Rosyad kepada jemaah. “Yuk buktoskeun kacintaan alurang ka Allah, kacintaan ka Kanjeng Rasul,” ujarnya.

Untuk membuktikan kecintaan tersebut, Ustaz Abdul Rosyad mengajak jemaah menjaga sejumlah amalan yang dicontohkan Rasulullah saw., seperti zikir, salat qabla dan ba’da, witir, dhuha, dan tahajud. Ia menggarisbawahi bahwa mengikuti amaliyah dan sunah Rasulullah saw. merupakan bentuk nyata kecintaan kepada Allah Swt. dan Rasulullah saw. 

Selain mengingatkan tentang amalan, Ustaz Abdul Rosyad juga menyampaikan bahwa rahmat dan magfirah Allah Swt. serta syafaat Rasulullah saw. menjadi harapan bagi umat Islam. Ia mengingatkan bahwa amal ibadah manusia memiliki keterbatasan, sehingga keselamatan tidak semata-mata bergantung pada amal yang dilakukan.

Menutup khutbahnya, Ustaz Abdul Rosyad berharap momentum Bulan Maulid dapat semakin menumbuhkan kecintaan jemaah kepada Allah Swt. dan Rasulullah saw. Ia juga mendoakan agar jemaah memperoleh rahmat dan magfirah dari Allah Swt. “Mudah-mudahan sing tambih cinta ka Gusti Allah, sing tambih-tambih kacintaan urang ka kanjeng rasul,” tuturnya.

Reporter: Nasywan Ainnur Rohimah, KPI/3C

 

Jamaah Lansia hingga Mahasiswa Ikuti Salat Asar Berjamaah di Masjid Besar Soreang


Dakwahpos.com, Soreang-  Aktivitas salat Asar berjamaah di Masjid Besar Soreang pada Kamis (24/9/2026) berlangsung dengan tertib dan khusyuk. Jamaah yang hadir didominasi oleh masyarakat lanjut usia, sementara sejumlah anak muda dan mahasiswa juga terlihat mengikuti salat berjamaah di masjid tersebut.

Menjelang pelaksanaan salat Asar, jamaah mulai berdatangan dan menempati bagian dalam masjid. Berdasarkan pengamatan, jamaah lanjut usia terlihat lebih banyak dibandingkan anak muda. Meski demikian, keberadaan mahasiswa dan anak muda tetap terlihat dalam kegiatan salat berjamaah tersebut.

Masjid Besar Soreang berada di kawasan yang berdekatan dengan lingkungan pendidikan dan keagamaan. Di sekitar masjid terdapat pesantren serta kawasan YAMISA yang menjadi lingkungan pendidikan. Lokasi tersebut membuat mahasiswa yang beraktivitas di sekitar YAMISA turut memanfaatkan Masjid Besar Soreang sebagai tempat untuk melaksanakan salat berjamaah.

Salah satu pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Besar Soreang, Fauzan Abdillah, mengatakan bahwa dirinya baru dilantik sebagai pengurus DKM. Fauzan juga merupakan mahasiswa semester lima jurusan Keperawatan dan saat ini sedang berada dalam masa libur perkuliahan.

“Sekarang kebetulan lagi libur kuliah, jadi lebih sering ke masjid dan ikut salat berjamaah. Kalau sudah mulai kuliah lagi, biasanya paling Magrib sama Isya yang bisa ke masjid karena dari siang sudah banyak kegiatan di kampus,” ujar Fauzan.

Menurut Fauzan, aktivitas perkuliahan membuat waktu untuk datang ke masjid menjadi lebih terbatas. Selama masa kuliah, ia lebih memungkinkan untuk mengikuti salat berjamaah pada waktu Magrib dan Isya setelah menyelesaikan aktivitasnya di kampus.

Fauzan menuturkan bahwa keberadaan mahasiswa di sekitar Masjid Besar Soreang turut membuat jamaah yang datang menjadi lebih beragam. Selain masyarakat sekitar, mahasiswa dan santri di lingkungan sekitar masjid juga dapat melaksanakan ibadah berjamaah di masjid tersebut.

Kegiatan salat Asar berjamaah pada Kamis itu berlangsung hingga selesai dalam suasana yang tenang. Masjid Besar Soreang menjadi salah satu tempat yang mempertemukan masyarakat dari berbagai kelompok usia dalam menjalankan ibadah dan aktivitas keagamaan.

 Reporter: Nauri Ramadhani, KPI/ 3C


Usia Bertambah, Bekal Akhirat Perlu Dipersiapkan Sejak Dini

 

Dakwahpos.com, Soreang- Khutbah Jumat yang berlangsung di Masjid Besar Soreang, Jumat (18/9/2026), disampaikan oleh H. Heri Haris Marwadi, S.Pd.I., M.H. Dalam khutbahnya, ia mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah terhadap perjalanan usia dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan usia yang diberikan Allah dengan memperbanyak amal saleh, meningkatkan ketakwaan, serta memperbaiki diri.

Dalam khutbahnya, H. Heri menjelaskan bahwa kehidupan manusia mengalami beberapa fase usia, mulai dari bayi, anak-anak, pemuda, dewasa hingga lanjut usia. Pertambahan usia seharusnya menjadi pengingat bagi setiap manusia untuk semakin dewasa dalam menjalani kehidupan dunia sekaligus mempersiapkan kehidupan akhirat.

“Setiap manusia memiliki jatah hidup di dunia yang pasti. Kedatangannya sangat mendadak dan tidak ada yang mengetahuinya,” ujar H. Heri dalam khutbahnya.

H. Heri juga mengingatkan jamaah mengenai makna memasuki usia 40 tahun. Menurutnya, usia tersebut merupakan fase ketika seseorang semakin matang dalam berpikir dan bertanggung jawab, sehingga seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah petunjuk kepadaku agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridai,’” tuturnya.

Selain usia 40 tahun, H. Heri juga membahas kehidupan pada usia lanjut. Ia menyampaikan bahwa semakin panjang usia seseorang, semakin besar pula kesempatan yang diberikan Allah untuk memperbaiki kekurangan, memperbanyak ibadah, serta mendekatkan diri kepada-Nya.

“Semakin panjang umur kita seharusnya bukan semakin jauh dari Allah, akan tetapi semakin tua seharusnya semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” katanya.

Menurut H. Heri, panjang umur bukan sekadar bertambahnya waktu hidup, melainkan bertambahnya kesempatan untuk melakukan kebaikan. Kesempatan tersebut dapat digunakan untuk bertobat, memperbaiki salat, membaca Al-Qur’an, meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti, menunaikan kewajiban, serta memperbanyak amal jariyah.

“Kalau hari ini kita masih diberi umur, itu bukan sekadar tambahan usia, itu adalah tambahan kesempatan,” ungkapnya.

H. Heri kemudian mengajak jamaah untuk menjadikan segala sesuatu yang dimiliki sebagai sarana beramal. Harta dapat digunakan untuk bersedekah, ilmu dapat diajarkan kepada orang lain, jabatan dapat digunakan untuk berkhidmah, sedangkan keluarga dapat dijadikan sebagai jalan menuju kebaikan dan surga.

“Kalau Allah memberi kita harta, jadikan sebagian sebagai sedekah. Kalau Allah memberi kita ilmu, ajarkan kepada orang lain. Kalau Allah memberi kita jabatan, gunakan untuk berkhidmah. Kalau Allah memberi kita keluarga, jadikan keluarga sebagai jalan menuju surga,” tuturnya. 

Menjelang akhir khutbah, jamaah diajak untuk tidak hanya membawa pengetahuan dari khutbah, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. H. Heri mengingatkan agar setiap orang mulai memperbaiki salat, kembali membaca Al-Qur’an, belajar memaafkan, meminta maaf atas kesalahan kepada sesama, serta menyelesaikan amanah yang masih belum ditunaikan.

“Kita tidak tahu berapa Jumat lagi yang akan kita temui. Mungkin masih banyak, tetapi mungkin juga inilah Jumat terakhir kita,” tegasnya. 

Khutbah ditutup dengan ajakan untuk mempersiapkan perjumpaan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. H. Heri mengingatkan jamaah bahwa tujuan hidup bukan sekadar memiliki umur yang panjang, tetapi menjalani umur dengan penuh keberkahan dan amal saleh hingga memperoleh husnul khatimah.

Reporter: Nauri Ramadhani Khoerunnisa, KPI/3C

 

Lima Keselamatan di Dunia dan Akhirat Disampaikan dalam Kajian di Masjid Besar Soreang

 




Dakwahpos.com, Soreang - Masjid Besar Soreang menjadi tempat berlangsungnya pengajian yang dihadiri warga sekitar pada Minggu (13/9/2026). Pengajian yang berlangsung sejak pagi hingga menjelang siang tersebut membahas lima keselamatan di dunia dan lima keselamatan di akhirat yang disampaikan oleh Ustadzah Ai.

Dalam kajian tersebut, Ustadzah Ai menjelaskan bahwa terdapat lima hal yang menjadi bagian dari keselamatan manusia selama berada di dunia. Kelima hal itu meliputi ilmu, ibadah, rezeki yang halal, sabar dalam menghadapi kesulitan, serta bersyukur atas nikmat Allah.

“Ilmu yang dimaksud bukan hanya sekadar mengetahui sesuatu, tetapi ilmu yang dapat diamalkan dan memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain,” ujar Ustadzah Ai. Ia juga menjelaskan bahwa ilmu diperlukan sebelum seseorang menjalankan ibadah agar ibadah tersebut dilakukan berdasarkan pemahaman yang benar.

Selain ilmu, ibadah menjadi bagian kedua dari keselamatan di dunia. Ibadah merupakan bentuk penghambaan kepada Allah yang diharapkan dapat membuat seseorang semakin dekat kepada-Nya dan memiliki sifat tawadu.

“Ibadah tidak seharusnya membuat seseorang merasa lebih baik dibandingkan orang lain,” ungkap Ustadzah Ai dalam kajian tersebut, Minggu (13/9/2026).

Keselamatan ketiga yang disampaikan adalah rezeki yang halal. Ustadzah Ai menekankan bahwa seseorang tidak hanya perlu memperhatikan banyak atau sedikitnya harta, tetapi juga cara memperoleh harta tersebut. Harta yang diperoleh dengan cara tidak halal tetap harus dipertanggungjawabkan meskipun digunakan untuk kegiatan kebaikan.

“Yang perlu diperhatikan bukan hanya banyak atau sedikitnya harta, tetapi juga cara memperoleh harta tersebut,” jelas Ustadzah Ai saat menyampaikan kajian di Masjid Besar Soreang, Minggu (13/9/2026).

Selanjutnya, keselamatan keempat adalah sabar dalam menghadapi kesulitan. Menurut Ustadzah Ai, kesabaran tidak berarti hanya berdiam diri tanpa melakukan usaha, tetapi harus disertai dengan ikhtiar. Ia mencontohkan bahwa menjaga jarak dan mengurangi kerumunan ketika menghadapi wabah dapat menjadi bagian dari usaha menjaga keselamatan.

“Kesabaran harus disertai dengan ikhtiar,” ujar Ustadzah Ai dalam kajian tersebut, Minggu (13/9/2026).

Keselamatan kelima di dunia adalah bersyukur atas nikmat Allah. Jamaah diajak untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan serta menjaga sikap rendah hati sebelum pembahasan dilanjutkan pada lima keselamatan di akhirat.

Lima keselamatan di akhirat yang disampaikan meliputi mendapatkan rahmat dan kelembutan ketika menghadapi kematian, ketenangan di alam kubur, keamanan ketika terjadi huru-hara di akhirat, ampunan Allah, serta dapat melewati Shirath dengan selamat.

“Selama masih hidup, manusia harus terus berusaha memperbaiki diri dan kembali kepada Allah,” pesan Ustadzah Ai kepada jamaah di akhir kajian.

Ia juga mengingatkan agar manusia tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun dan tidak menganggap ringan dosa yang dilakukan secara terus-menerus.

Di akhir kajian, jamaah diajak untuk terus meningkatkan ketakwaan dan tidak berhenti bertaubat kepada Allah. Pesan tersebut menjadi penutup kajian yang menekankan pentingnya memperbaiki diri dan kembali kepada Allah selama masih diberikan kesempatan untuk hidup.

Reporter: Nauri Ramadhani, KPI/3C



Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos