Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Masjid Ar-Rahmat Libatkan Berbagai Tokoh dalam Pengelolaan dan Kegiatan Sosial


Dakwahpost. Com, Bandung - Masjid Ar-Rahmat terus berupaya menjadi pusat ibadah dan kegiatan sosial bagi masyarakat di lingkungan perumahan. Hal tersebut disampaikan oleh perwakilan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dalam wawancara mengenai tokoh penting, kegiatan sosial, serta harapan pengurus terhadap masjid. Wawancara ini membahas peran berbagai pihak dalam pengelolaan Masjid Ar-Rahmat, termasuk kontribusi pengembang, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan sivitas akademika. 

Dalam wawancara, narasumber menjelaskan bahwa pengelolaan Masjid Ar-Rahmah melibatkan berbagai kalangan masyarakat. Ia menyampaikan, "Tokoh" atau figur penting sebetulnya cukup banyak. Di antaranya adalah tokoh masyarakat, tokoh agama, serta saya sendiri sebagai wakil DKM.” Secara tidak langsung, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan dan pengelolaan masjid didukung oleh kerja sama berbagai pihak, bukan hanya pengurus DKM.

Selain pengelolaan, kegiatan keagamaan di Masjid Ar-Rahmat juga didukung oleh para ustaz dan ustazah yang mengisi kegiatan rutin. Narasumber menjelaskan bahwa para penceramah bertugas mengisi kegiatan tarawih, salat Jumat, dan pengajian. Ia juga mengungkapkan, “Salah satu tugas saya adalah mencari ustaz maupun ustazah untuk mengisi kegiatan-kegiatan rutin di masjid ini.” Hal tersebut menunjukkan adanya upaya pengurus untuk menjaga keberlangsungan kegiatan keagamaan bagi jemaah.

Dalam sejarah pembangunannya, pihak pengembang memiliki kontribusi penting dalam merealisasikan pembangunan masjid. Narasumber menjelaskan bahwa keberadaan masjid sebelumnya telah tercantum dalam site plan perumahan, tetapi ketika warga mulai menempati kawasan tersebut, masjid belum dibangun. Ia menuturkan, “Keberadaan masjid merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi warga.” Secara tidak langsung, pernyataan itu menegaskan bahwa masjid di dalam kompleks perumahan dibutuhkan untuk memudahkan warga menjalankan ibadah, terutama warga lanjut usia yang kesulitan jika harus pergi ke masjid di luar kompleks.

Tidak hanya berfokus pada kegiatan ibadah, Masjid Ar-Rahmat juga melaksanakan kegiatan sosial untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Narasumber menyampaikan bahwa pengurus pernah membagikan paket sembako kepada panti sosial di daerah Rancamanyar. Selain itu, kegiatan santunan anak yatim piatu dan kaum dhuafa rutin dilaksanakan, khususnya bagi anak-anak di lingkungan sekitar. Ia menjelaskan, “Jumlah penerimanya kurang lebih 20 orang.” Bantuan tersebut bersumber dari uang kencleng masjid serta sumbangan para agnia atau orang yang memiliki kemampuan untuk berbagi rezeki, yang kemudian disalurkan dalam bentuk santunan maupun bingkisan.

Di sisi lain, pengurus Masjid Ar-Rahmat berharap semakin banyak warga yang melaksanakan salat lima waktu secara berjemaah di masjid. Narasumber mengungkapkan harapannya agar masjid tersebut dapat menjadi seramai Masjid Jogokariyan, terutama ketika salat Subuh. Ia menyatakan, “Harapannya, masjid selalu dipenuhi jemaah dalam pelaksanaan salat lima waktu.” Menurut penjelasan narasumber, jumlah jemaah harian saat ini dapat mencapai lebih dari dua saf atau sekitar 40 orang, sedangkan jumlah warga perumahan diperkirakan mencapai 400 orang. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pengurus mengajak masyarakat untuk lebih aktif memakmurkan masjid.

Reporter: Putri Zalfa Aulia, KPI/3D

Masjid Istiqomah Cibiru Asri 2, Ruang Ibadah dan Kebersamaan Warga


Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Istiqomah yang berada di Komplek Cibiru Asri 2, kawasan Cibiru, Bandung, menjadi salah satu tempat ibadah yang berpotensi mempererat hubungan antarwarga. Keberadaan masjid di lingkungan perumahan tidak hanya berfungsi sebagai tempat melaksanakan salat, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk membangun kebersamaan dan memperkuat nilai-nilai keislaman.


Salah satu hal yang dapat menjadi daya tarik Masjid Istiqomah adalah kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat di lingkungan perumahan. Masjid dapat menjadi tempat bagi warga untuk saling mengenal, berinteraksi, dan menjaga hubungan baik melalui kegiatan keagamaan bersama.


Selain digunakan untuk beribadah, masjid lingkungan juga berpotensi menjadi tempat pembinaan keislaman bagi anak-anak dan generasi muda. Kegiatan seperti belajar membaca Al-Qur'an, pengajian, dan peringatan hari besar Islam dapat menjadi sarana untuk menanamkan nilai agama sejak dini.


Keterlibatan warga dalam memakmurkan masjid juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan keagamaan. Melalui kerja sama antara pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), remaja, dan masyarakat, masjid dapat menjadi tempat yang terbuka bagi berbagai kegiatan positif.


Kegiatan sosial, seperti berbagi kepada warga yang membutuhkan dan santunan anak yatim, juga dapat menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap sesama apabila dilaksanakan oleh pengurus dan jamaah. Kegiatan semacam ini memperlihatkan bahwa nilai-nilai Islam tidak hanya diwujudkan melalui ibadah, tetapi juga melalui tindakan yang bermanfaat bagi orang lain.


Dengan suasana lingkungan yang dekat dengan kehidupan warga, Masjid Istiqomah berpotensi menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan dan membangun masyarakat yang religius. Keaktifan pengurus dan partisipasi jamaah menjadi faktor penting agar masjid terus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.


Reporter: Muhammad Rayyan Al Fatah, KPI/3C

Iman dan Akhlak Jadi Pesan Utama Khutbah Jumat

 

Dakwahpos.com, Bandung—Ustaz Furqon Saeful Aziz menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga iman dan memperbaiki akhlak dalam kehidupan sehari-hari melalui khutbah Jumat. Pesan tersebut menekankan bahwa ibadah perlu tercermin dalam perilaku baik terhadap keluarga dan masyarakat.


Ustaz Furqon menjelaskan bahwa rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi juga perlu diwujudkan dengan menggunakan nikmat Allah untuk hal-hal yang diridai-Nya. Menurutnya, ketakwaan menjadi bekal utama bagi setiap Muslim dalam menjalani kehidupan.


Selain itu, ia mengingatkan jemaah agar mengevaluasi diri dan melihat sejauh mana ibadah telah memperbaiki sikap mereka. Salat dan membaca Al-Qur’an semestinya membantu seseorang menahan amarah, menjaga ucapan, serta memperlakukan orang lain dengan santun.


“Iman yang benar tidak berhenti di dalam hati, iman harus memiliki buahnya, dan buah daripada keimanan itu adalah akhlak di dalam kehidupan kita sehari-hari,” ujar Ustaz Furqon Saeful Aziz saat diwawancarai pada Rabu (28/10/2026).


Ustaz Furqon juga menekankan pentingnya menjaga lisan karena perkataan yang buruk dapat merusak persaudaraan dan hubungan keluarga. Ia mengajak umat Islam untuk menghindari fitnah, tidak menyakiti sesama, serta membiasakan diri berkata baik atau memilih diam.


Menurutnya, akhlak yang baik perlu dimulai dari lingkungan terdekat, terutama di rumah. Seseorang tidak cukup bersikap ramah kepada orang lain di luar rumah, tetapi juga harus berbicara dengan lembut dan menghormati anggota keluarganya.


Pesan khutbah tersebut mengajak jemaah untuk memperbaiki kualitas ibadah sekaligus hubungan sosial. Umat Islam diharapkan menjaga keimanan, memperbaiki akhlak, dan saling memaafkan dalam kehidupan sehari-hari.


Reporter: Muhammad Rayyan Alfatah, KPI/3C

Jangan Merasa Selesai Ketika Berhasil Tetapi Merasa Berhasilah ketika Selesai



Dakwahpos.com - Bandung. Menyeimbangkan kesibukan korporasi, bisnis mandiri, dan pengabdian sosial berhasil dibuktikan oleh Bapak Dedi Sobari. Di tengah rutinitasnya yang padat, beliau tetap konsisten mengemban amanah sebagai pengurus DKM Masjid Al-Islam di bidang pendidikan dan pemberdayaan demi menggerakkan kemajuan umat.

Lahir dan besar di Bandung, rekam jejak pendidikannya tergolong cemerlang, mulai dari SMAN 4 Bandung hingga menyelesaikan D3 Telekomunikasi ITB. Hingga kini, beliau tetap melakoni mobilitas tinggi dengan bekerja setiap hari di bidang teknologi, koneksi, dan manajemen di PT Sharp Electronics Indonesia.

Komitmen sosialnya juga meluas ke ranah filantropi serta unit usaha kuliner (*franchise*) yang dikelolanya. Menariknya, bisnis F&B tersebut sengaja dihadirkan sebagai wadah pemberdayaan pemuda khususnya anak yatim dan dari keluarga broken home agar memiliki lapangan kerja serta ruang sosial yang sehat.

Di struktur DKM Masjid Al Islam, Bapak Dedi memegang tiga program utama: pembinaan Pemuda Masjid, TPQ Al Islam, dan Sanlat di Lamargas Residence Margaasih. Tujuannya jelas: mendidik anak-anak, menggerakkan pemuda dan ibu-ibu, serta menghidupkan masjid sebagai jantung peradaban.

Dalam praktiknya, beliau dikenal sangat sat-set dan sigap bergerak cepat, bahkan tak ragu turun tangan langsung untuk urusan operasional tanpa harus menunggu momentum seremonial. Dukungan akses sosial dan manajerial yang kuat membuat program-program masjid berjalan optimal.

Dalam berkarya, beliau memegang prinsip hidup: “Jangan merasa selesai saat berhasil, tetapi merasa berhasillah saat Anda selesai.” Kepada generasi muda, beliau berpesan agar tidak gengsian dan terhindar dari mental fatigue akibat ilusi informasi tanpa aksi nyata.


Reporter: Fadil Robbani | KPI 3B


Pentingnya Mempelajari Sunnah, Ustaz Abu Qotadah: Jalan Keselamatan dan Kebahagiaan Umat Islam


Dakwahpos.com, Bandung- Pengajian tentang pentingnya mempelajari sunnah Rasulullah saw. dilaksanakan di Masjid Al-Aziz, Soekarno-Hatta, pada Minggu pukul 09.00–12.00 WIB. Dalam kajian tersebut, Ustaz Abu Qotadah menjelaskan kedudukan sunnah sebagai pedoman kehidupan umat Islam serta pentingnya berpegang teguh pada ajaran Rasulullah saw.

Ustaz Abu Qotadah menyampaikan bahwa mempelajari sunnah merupakan jalan keselamatan dan kebahagiaan bagi seorang muslim. Sunnah tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari akidah, akhlak, siasah, hingga muamalah.

“Mempelajari sunnah itu merupakan jalan keselamatan, jalan kebahagiaan, dan menjadi sebab seseorang masuk ke dalam surga,” ungkapnya dalam kajian tersebut.

Ia menjelaskan bahwa pengutusan Rasulullah saw. merupakan nikmat besar dari Allah Swt. Rasulullah diutus untuk membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa manusia dari syahwat dan syubhat, serta mengajarkan Al-Kitab dan hikmah. Oleh karena itu, mempelajari sunnah menjadi bagian penting dalam memahami ajaran Islam.

Lebih lanjut, Ustaz Abu Qotadah mengaitkan pentingnya mempelajari sunnah dengan kewajiban meneladani Rasulullah saw. sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 21. Menurutnya, meneladani Nabi tidak cukup hanya dengan mengaku mencintai beliau, tetapi juga harus disertai pemahaman terhadap tuntunan yang telah diajarkan.

“Bagaimana mungkin seseorang bisa meneladani Nabi, sedangkan sunnah Nabi sendiri tidak dipelajari?” jelasnya.

Dalam kajian tersebut, ia juga membahas hadis Irbad bin Sariyah yang berisi wasiat Rasulullah saw. agar umat Islam berpegang teguh pada sunnah beliau dan sunnah Khulafa Rasyidin. Perintah untuk menggenggam sunnah dengan kuat, sebagaimana diibaratkan menggigitnya dengan gigi geraham, menunjukkan pentingnya mempertahankan ajaran agama di tengah perselisihan dan berbagai fitnah.

“Rasulullah memerintahkan agar kita berpegang teguh pada sunnah beliau dan sunnah Khulafa Rasyidin yang mendapat petunjuk,” tuturnya.

Selain itu, Ustaz Abu Qotadah menjelaskan bahwa pengertian sunnah dapat berbeda sesuai dengan disiplin ilmu yang membahasnya. Dalam ilmu fikih, sunnah dipahami sebagai amalan yang dianjurkan dan tidak sampai pada derajat wajib. Sementara itu, menurut Ahlul Hadis, sunnah mencakup segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah saw. baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat beliau.

Ia turut menyoroti kedudukan Ahlul Hadis yang berperan dalam menjaga kemurnian ajaran Islam melalui upaya mempelajari, meneliti, dan memelihara riwayat hadis. Menurutnya, umat Islam perlu memahami sumber ajaran agama dengan benar agar tidak keliru dalam mengikuti tuntunan Rasulullah saw.

Melalui pengajian tersebut, jamaah diajak untuk lebih mendalami sunnah dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman terhadap Al-Qur’an dan sunnah diharapkan dapat menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menjalankan agama sekaligus meneladani Rasulullah saw. secara benar.

Reporter: Nauri Ramadhani Khoerunnisa KPI/3C

 

Khatib Ajak Jamaah Memahami Adab Makan dan Minum sesuai Tuntunan Islam


Dakwahpos.com, Bandung- Pada Ahad, 25 Oktober 2026, khatib dalam ceramah keagamaan di Masjid Al-Hidayah Pasirbiru, Cibiru mengajak jamaah untuk memahami adab makan dan minum sesuai tuntunan Islam. Dalam penyampaiannya, khatib membahas hadis mengenai makan dan minum sambil berdiri serta pentingnya memahami dalil agama secara menyeluruh agar tidak keliru dalam mengambil kesimpulan.


Khatib menjelaskan bahwa Islam mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk kebiasaan makan dan minum. Ia menguraikan hadis yang membahas larangan makan dan minum sambil berdiri. “Bukan hanya minum, tapi jangan makan dan jangan minum,” jelas khatib ketika menerangkan cakupan hadis tersebut.

Dalam ceramahnya, khatib menyinggung hadis yang berkaitan dengan larangan makan dan minum sambil berdiri. Menurutnya, hadis tersebut perlu dipahami dengan memperhatikan penjelasan para ulama agar jamaah tidak terburu-buru dalam menentukan hukum suatu perbuatan.

Khatib juga menjelaskan bahwa hukum dalam Islam memiliki beberapa ketentuan, termasuk haram dan makruh. Ia mengingatkan jamaah agar tidak langsung menetapkan hukum hanya berdasarkan satu bagian hadis. “Dalam Islam itu ada haram, ada makruh,” jelasnya ketika menerangkan bahwa larangan dalam ajaran Islam perlu dipahami berdasarkan kaidah dan penjelasan ulama.

Oleh karena itu, jamaah diimbau untuk mempelajari hadis melalui sumber yang tepercaya dan merujuk kepada penjelasan ulama yang memiliki keilmuan dalam bidang agama. Hal ini penting agar pemahaman terhadap ajaran Islam tidak didasarkan pada penafsiran pribadi yang terbatas.

Khatib juga mengingatkan jamaah agar tidak tergesa-gesa dalam menarik kesimpulan dari suatu dalil. Ia menekankan pentingnya memahami latar belakang hadis serta pendapat para ulama sebelum menentukan hukum suatu perbuatan. “Keliru lamun urang gampil nu ngambil kesimpulan,” tegasnya, mengingatkan jamaah agar tidak mudah menetapkan hukum tanpa memahami penjelasan ulama terlebih dahulu. Dengan begitu, pemahaman agama dapat menjadi lebih tepat dan tidak menimbulkan kekeliruan.

Selain membahas adab makan dan minum, ceramah tersebut turut menyinggung pentingnya menjaga kesehatan sebagai bagian dari upaya memelihara diri. Khatib mengaitkan pembahasan tersebut dengan pentingnya memperhatikan manfaat dan dampak suatu kebiasaan terhadap kesehatan tubuh.

Melalui ceramah tersebut, jamaah diharapkan dapat menerapkan adab makan dan minum sesuai tuntunan Islam sekaligus meningkatkan kehati-hatian dalam memahami dalil agama. Dengan demikian, ajaran Islam dapat diamalkan secara tepat berdasarkan pemahaman yang baik dan merujuk pada sumber keilmuan yang tepercaya.

Reporter: Shofia Salsabila, KPI/3C

Inilah Sosok di Balik Pembangunan Area Baru Masjid Ar-Rahman Arcamanik

Dakwahpos.com, Bandung - Ketua DKM Masjid Ar-Rahman, Arcamanik, Bapak Widyo Isworo, pada wawancara yang dilakukan pada Kamis (22/10/2026), menjelaskan siapa saja yang bergerak dalam pembangunan area terbaru dari Masjid Ar-Rahman, Arcamanik, Bandung.

Ia menjelaskan, orang yang melatar belakangi dari pembangunan area yang baru dari Masjid Ar-Rahman ini adalah Ketua DKM terdahulu, yakni Bapak Haji Aswad. Yang dimana, sebagaimana yang diceritakan oleh Bapak Widyo, ia mengadakan rapat bersama para warga sekitar RW 09, perihal apakah perlu memperbaiki masjid yang lama atau membangun area masjid yang baru. Dan pada akhirnya, terpilih opsi kedua pada 2018, dan langsung membentuk kepanitiaan pembangunan masjid yang baru tersebut.

Bapak Widyo pun menuturkan, bahwa yang bergerak dalam kepanitiaan pembangunan Masjid Ar-Rahman yang baru ini diantaranya ada Alm. Dr. Mumun Syaban, seorang dosen di Universitas Langlang Buana yang menjadi ketua panitia pembangunannya, dan memanfaatkan jejaring rekan dosennya itu untuk membuat desain awal dari masjid tersebut.

“Beliau memanfaatkan jaringan rekan dosennya untuk membuat desain awal masjid”, tuturnya.

Berikutnya, desain tersebut disempurnakan oleh warga setempat sekitar Masjid Ar-Rahman. Lalu, ada Bapak Rudi dan Bapak Made, yang berinisiatif untuk memposisikan Masjid di area tengah lahan. Selain itu, Bapak Made juga yang menggaet sponsor dari temannya yang berasal dari Yaman, untuk menyumbang rangka besi bangunan. Lalu ada Bapak Anis yang bertugas untuk mewujudkan desain dan juga sebagai pengawas pelaksanaan pembangunan Masjid, serta Bapak Amir, yang dikatakan oleh Bapak Widyo sebagai mantan pegawai Pekerjaan Umum, yang mengawasi pengerjaan teknik sipilnya.

Namun, pembangunan area baru ini tidak selamanya berjalan dengan mulus. Salah satu kendalanya adalah dari lahan Masjid Ar-Rahman ini, yang merupakan fasilitas umum dari yang awalnya adalah sebuah gudang developer perumahan. Ia menjelaskan, bahwa dalam surat keterangan dari developernya disebutkan, bahwa ‘fasilitas umum diserahkan kepada warga sebagai tempat ibadah yang berlokasi di Jalan Purbamanik’.

“Namun, ketika dicek ke Pemerintah Kota (Pemkot), ternyata developer belum melaporkannya, sehingga status fasum ini menjadi aset Pemkot Bandung, sementara bangunan di atasnya dibangun oleh warga. Kami kemudian mengajukan agar lahan ini tetap dijadikan masjid, dan pemerintah menyetujuinya”, ujar Pak Widyo.

Pembangunannya sendiri berlangsung dari 2018 hingga rampung pada tahun 2023. Selama itu juga, berbagai dinamika muncul selama proses pembangunan berlangsung. Dari pandemi Covid-19 hingga belum terkumpulnya dana dari warga, yang menjadi sebab mundurnya rampungnya pembangunan area baru masjid Ar-Rahman.

“Awalnya direncanakan selesai dalam 3 sampai 5 tahun, atau seharusnya selesai pada tahun 2023. Namun terjadi kemunduran karena pandemi Covid-19 dan dana dari warga tidak bisa terkumpul sekaligus. Rencana anggarannya hampir mencapai Rp 4 miliar. Saat ini, dana yang sudah berhasil terkumpul mendekati angka Rp 3 miliar”, tuturnya.

Meski begitu, antusiasme dari warga juga turut membantu dalam pembangunan masjid baru ini. Dari bermusyawarah dalam menentukan bentuk desain dari masjid terbaru, membantu menyumbangkan perangkat sholat, dan lain sebagainya.

“Semua pihak, baik pengurus maupun warga muslim di RW 09, merasa terlibat dan memiliki masjid ini bersama-sama. Kami memosisikan diri sebagai penyalur kebaikan yang menawarkan peluang amal jariah. Dengan niat amal jariah, banyak warga yang akhirnya berinisiatif sendiri, misalnya patungan untuk membeli karpet dan kebutuhan lainnya”, ungkapnya.

Reporter : Muhammad Habil Apri Gholi, KPI 3/D

Uploaded Image

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos