Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Masjid Al-Istiqomah Cinunuk, Masjid Bersejarah Penentu Waktu Salat di Cileunyi

Dakwahpos.com, Bandung – Masjid Al-Istiqomah Cinunuk merupakan salah satu tempat ibadah tertua di kawasan Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Masjid dua lantai yang berlokasi di Jalan Pandanwangi No. 24 RT 02/RW 14 ini berdiri sejak tahun 1992 di bawah naungan Yayasan Istiqomah.
 
Sejak awal berdiri, masjid ini menjadi pusat penentu waktu salat fardu bagi masyarakat sekitar. Keberadaannya saat itu menjadi satu-satunya masjid di kawasan tersebut, sehingga warga dari luar daerah pun berbondong-bondong datang untuk beribadah.

"Makanya di Kabupaten Bandung yang terkenal itu Masjid Al-Istiqomah, jadi banyak orang luar yang hadir ke masjid ini," ujar Ustaz Kamaluddin selaku Ketua DKM Al-Istiqomah.

Selain bernilai sejarah, Masjid Al-Istiqomah dilengkapi berbagai fasilitas penunjang kenyamanan jemaah. Fasilitas tersebut meliputi pemisahan tempat wudu laki-laki dan perempuan, pengawas CCTV, pendingin udara, mukena, sarung, hingga penyediaan air minum gratis seperti air putih, teh, dan kopi.
 
Untuk menjaga kemakmuran masjid, DKM Al-Istiqomah aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Kegiatan tersebut di antaranya pengajian majelis taklim ibu-ibu, program tahsin Al-Qur'an, kajian keislaman, serta penyaluran bantuan amal bagi masyarakat.

Reporter: Ika Syaufika, KPI/3D

Uploaded Image

Pengabdin Ustaz Mimbar Tingkatkan Solidaritas Jamaah Masjid Babussalam Sitanggal

 


Dakwahpos.com, Brebes- Ustaz Mimbar, Wakil Takmir Masjid Babussalam Sitanggal, terus mengabdikan diri melalui kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat. Sejak dipercaya menjadi bagian dari kepemgurursan pada 2015, ia aktif mengisi pengajian ibu-ibu setiap Senin malam Selasa serta mendukung kegiatan masjid untuk mempererat silahturahmi dan meningkatkan kepedulian sosial jamaah.


Menurut Ustaz Mimbar, mengabdi di lingkungan masjid merupakan kesempatan bagi seorang muslim untuk mencurahkan waktu, tenaga, dan pemikiran demi kemakmuran masjid. Ia meyakini bahwa waktu luang akan lebih bermafaat apabila diguakan untuk kegiatan yang membawa kebaikan bagi masyarakat.


Berbagai kegiatan rutin dilaksanakan di Masjid Babussalam Sitanggal, mulai dari Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) bagi anak-anak, pengajian kitab setelah salat Magrib, hingga pengajian ibu-ibu. Dalam kegiatan tersebut, Ustaz Mimbar mendapat jadwal mengisis pengajian setiap Senin malam Selasa Secara bergiliran bersama pengisi lainnya.


Ia menilai anusiasme masyarakat terhadap kegiatan keagamaan cukup tinggi. Para jamaah bahkan datang sebelumn pengajian dimulai, sebagian di antaranya mengisi waktu dengan mebaca selawat dan melaksanakan tahlilan sebelum kegiatan utama berlangsung.


Bagi Ustaz Mimbar, hal yang paling berkesan selama mengabdi adalah tumbuhnya kebersamaan di antara jamaah. Ketika ada jamaah yang sakit atau tertimpa musibah, masyarakat berinisiatif menjenguk dan bertakziah bersama. Menurutnya, kebiasaan tersebut menjadi bukti bahwa kegiatan masjid mampu menumbuhkan kepedulian dan mempererat persaudaraan.


Meski demikian, kegiatan pengajian terkadang menghadapi kendala, salah satunya berkaitan dengan biaya penyediaan makanan ringan bagi jamaah. Namun, Ustaz Mimbar menegaskan bahwa keterbatasan ekonomi tidak seharusnya menjadi penghalang untuk mengikuti pengajian. Baginya, hal terpenting adalah kemauan untuk hadir, belajar agama, dan berkumpul bersama.


Dalam menjalankan dakwah, Ustaz Mimbar berpegang pada prinsip bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Prinsip tersebut menjadi motivasinya untuk terus mengabdi dan berkontribusi bagi masyarakat melalui kegiatan masjid, sekaligus menjaga hubungan baik antarsesama jamaah.


Ia juga berharap generasi muda turut berperan aktif dalam memakmurkan Masjid Babussalam Sitanggal. Menurutnya, keterlibatan para remaja dan pemuda sangat penting untuk meneruskan kegiatan keagamaan yang telah berjalan. Regenerasi pengurus diperlukan agar keberlangsungan kegiatan masjid tetap terjaga dan dapat berkembang pada masa mendatang.


Ustaz Mimbar berharap Masjid Babussalam Sitanggal terus menjadi pusat ibadah, pembelajaran agama, dan kegiatan sosial yang mempererat silaturahmi masyarakat. Melalui semangat pengabdian dan keterlibatan generasi muda, ia berharap tradisi kebersamaan serta kepedulian sosial jamaah dapat terus terpelihara dan diwariskan kepada generasi berikutnya.


Reporter: Nafa Rahmah Hidayah, KPI/3C

Masjid Baitul Muttaqien Cinunuk Tumbuh Berkat Gotong Royong Warga

Dakwahpos.com, Bandung — Masjid Baitul Muttaqien di Komplek Permata Biru, Cinunuk, berkembang dari tempat ibadah sederhana yang dibangun melalui swadaya masyarakat sekitar 1995 menjadi masjid yang menampung sekitar 200 jemaah.

Wakil Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baitul Muttaqien, Mulyhardi, menjelaskan bahwa pada awal berdirinya, tempat ibadah tersebut masih berupa musala kecil dengan kapasitas terbatas. Pembangunannya berawal dari kebutuhan masyarakat akan tempat beribadah yang lebih dekat dengan lingkungan tempat tinggal mereka.

Seiring bertambahnya jumlah penduduk di kawasan Permata Biru, kebutuhan terhadap tempat ibadah juga meningkat. Warga kemudian bersama-sama mengembangkan musala tersebut agar dapat digunakan untuk kegiatan keagamaan yang lebih luas, termasuk pelaksanaan salat Jumat.

Perkembangan masjid berlanjut sekitar 2014–2015 ketika masyarakat berupaya memperluas area bangunan. Perluasan dilakukan melalui pembelian sebidang lahan atau rumah milik warga dengan dana yang dihimpun secara swadaya. Upaya tersebut membuat masjid memiliki ruang yang lebih luas untuk menampung jemaah.

Menurut Mulyhardi, perkembangan Masjid Baitul Muttaqien tidak terlepas dari keterlibatan masyarakat sejak awal pembangunan hingga pengelolaannya. Kontribusi tersebut datang dari berbagai warga yang bergotong royong sesuai kemampuan masing-masing, sehingga sejarah masjid tidak hanya berkaitan dengan satu tokoh, tetapi juga dengan usaha bersama masyarakat.

Dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, pengelolaan masjid dilakukan oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang dibentuk melalui musyawarah masyarakat. Kepengurusan ini bertugas mengatur kegiatan masjid serta berkoordinasi dengan unsur masyarakat setempat dalam mendukung aktivitas keagamaan dan sosial.

Selain menjadi tempat ibadah, Masjid Baitul Muttaqien juga diharapkan menjadi ruang yang menjaga kerukunan masyarakat. Perbedaan pemahaman dan praktik keagamaan di antara jemaah tidak seharusnya menjadi penghalang untuk saling menghormati dan menjaga kebersamaan.

Ke depan, Masjid Baitul Muttaqien diharapkan terus berperan dalam kegiatan ibadah, pembelajaran agama, serta penanaman nilai-nilai Islam kepada generasi muda. Semangat gotong royong yang mengiringi perkembangan masjid sejak awal diharapkan tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Reporter : Fatir Mahmud Sidiq KPI/3B

Khatib Ajak Jamaah Ikhlas Beramal Tanpa Mengharap Pujian

Dakwahpos.com, Bandung — Khatib Jumat, Irfan Rahman Maulana, mengajak jamaah Masjid Baitul Muttaqien, Cinunuk, untuk menjaga keikhlasan dalam beramal tanpa menggantungkan nilai kebaikan pada pujian manusia melalui khutbah Jumat pada Jumat (2/10/2026). Pesan tersebut disampaikan sebagai pengingat agar umat Islam senantiasa meluruskan niat dan mengharapkan rida Allah Swt. Dalam setiap perbuatan.

Dalam khutbahnya, Irfan menjelaskan bahwa kehidupan yang serba cepat sering kali membuat seseorang menjalani berbagai aktivitas tanpa sepenuhnya menyadari tujuan dari perbuatannya. Karena itu, umat Islam perlu melatih kesadaran diri dan mengingat bahwa Allah Swt. Senantiasa mengetahui setiap amal yang dilakukan.

Ia juga mengingatkan bahwa keikhlasan merupakan bagian penting dalam beribadah. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5, yang menerangkan perintah untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.

Lebih lanjut, Irfan menyoroti kebiasaan sebagian orang yang tanpa sadar mengharapkan pengakuan atas kebaikan yang dilakukan. Menurutnya, seseorang perlu berhati-hati agar pujian manusia tidak menggeser tujuan utama dalam beramal, yaitu memperoleh rida Allah Swt.

Dalam khutbah tersebut, ia juga menyampaikan kisah sahabat Ma’an bin Yazid yang berkaitan dengan sedekah dan niat. Kisah tersebut mengandung pelajaran bahwa nilai suatu amal tidak hanya dilihat dari hasil yang tampak, tetapi juga dari niat yang mendasarinya.

Irfan menjelaskan bahwa manusia hanya dapat melihat sesuatu yang tampak, sedangkan Allah Swt. Mengetahui niat yang tersembunyi di balik setiap perbuatan. Oleh karena itu, umat Islam tidak perlu menjadikan pengakuan manusia sebagai ukuran utama dalam menilai kebaikan yang telah dilakukan.

Ia turut mengingatkan bahwa keikhlasan dapat membantu seseorang tetap teguh dalam berbuat baik meskipun tidak mendapatkan pujian atau balasan. Dengan demikian, semangat untuk membantu sesama dan menjalankan kewajiban tidak semestinya bergantung pada penilaian orang lain.

Khutbah Jumat tersebut diikuti sekitar 150 jamaah di Masjid Baitul Muttaqien, Cinunuk. Melalui pesan yang disampaikan, jamaah diajak untuk terus memperbaiki niat, menjaga keikhlasan, serta menjadikan rida Allah Swt. Sebagai tujuan utama dalam setiap amal.

Reporter : Fatir Mahmud Sidiq KPI 3B 

 

Jauhi Empat Golongan Celaka, Khutbah Ustaz Aji Di Masjid Al-Ukhuwwah Panyileukan

 

Dakwahpos.com, Bandung – Masjid Al Ukhuwwah Panyileukan kembali menggelar salat Jumat berjamaah pada Jumat (9/10/2026). dalam khutbahnya, Ustaz Aji menyampaikan tema mengenai ciri-ciri orang yang celaka dalam pandangan Allah. Tema ini diangkat agar jemaah dapat menjauhi sifat-sifat yang dapat merugikan diri sendiri.

Dalam khutbahnya di Masjid Al Ukhuwwah Panyileukan, Ustaz Aji menjelaskan bahwa kata “celaka” atau wail dalam Al-Qur’an menggambarkan kebinasaan dan kecelakaan. Hal ini menimpa mereka yang melanggar perintah Allah dan berlaku durhaka. Ustaz Aji merinci empat golongan yang termasuk orang celaka berdasarkan dalil Al-Qur’an dan hadis.

Golongan pertama adalah orang kafir, yaitu mereka yang menutup hatinya dari petunjuk Allah. Ustaz Aji menegaskan bahwa kekafiran membuat manusia suka berselisih dan berburuk sangka kepada Allah. “Allahlah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi, dan kecelakaanlah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih,” ujar Ustaz Aji mengutip QS Ibrahim ayat 2, Jumat (9/10/2026).

Golongan kedua adalah orang musyrik yang menyekutukan Allah, termasuk riya dalam beribadah. Ustaz Aji memperingatkan bahwa kemusyrikan dapat menghapus pahala amal saleh. Salah satu dampak buruknya adalah tidak menunaikan zakat dan tidak percaya pada hari akhirat.

Selanjutnya, golongan ketiga adalah orang yang mengatasnamakan akidah untuk menyelewengkan Al-Qur’an. Ustaz Aji menjelaskan bahwa ada manusia yang berusaha memalsukan makna ayat sesuai hawa nafsu. “Maka kecelakaan yang besarlah orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri lalu dikatakannya ini dari Allah,” ungkap Ustaz Aji menyitir QS Al-Baqarah ayat 79.

Golongan keempat adalah orang-orang zalim, yaitu mereka yang menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Kezaliman bisa terjadi kepada Allah, diri sendiri, maupun orang lain. Ustaz Aji menekankan bahwa kezaliman adalah perbuatan tercela yang akan mendatangkan kecelakaan besar di dunia dan akhirat.

Di akhir khutbahnya, Ustaz Aji mengajak seluruh jemaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Beliau berharap agar jemaah dapat memahami isi khutbah dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Mudah-mudahan yang kita dengar ini, Allah beri kita kepahaman dan kita kuatkan niat untuk mengamalkan,” tutup Ustaz Aji.

Reporter: Mochammad Chubaib Nur Farisyi/KPI 3B

Berdiri Sejak 2013, Masjid Darussalam Panyileukan Berawal dari Wilayah yang Belum Memiliki Masjid

Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Darussalam Panyileukan mulai dibangun pada 2013 dengan peletakan batu pertama yang diprakarsai oleh Haji Asep Mulyadi. Pembangunan masjid tersebut dilatarbelakangi kondisi wilayah sekitar yang saat itu belum memiliki masjid, sehingga masyarakat membutuhkan tempat ibadah yang lebih dekat. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Pengurus Masjid Darussalam, Ustaz Muhammad Dodo Suhada, dalam wawancara pada Jumat (9/10/2026).

Ketua pengurus Masjid Darussalam, Ustaz Muhammad Dodo Suhada, menjelaskan bahwa sebelum pembangunan dimulai, wilayah tersebut masih berupa persawahan dan masjid yang tersedia berada cukup jauh dari permukiman warga. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat berupaya mendirikan masjid di wilayah tersebut.

“Ini masjid di Darussalam itu berdirinya tahun 2013” ujar Ustaz Muhammad Daud Suhada saat diwawancarai mengenai sejarah Masjid Darussalam.

Dalam proses awal pembangunan, Haji Asep Mulyadi berperan sebagai perintis sekaligus penggagas pembangunan masjid. Bersama sejumlah pengurus dan masyarakat, ia berupaya mewujudkan pembangunan melalui penggalangan dana dari para donatur, termasuk masyarakat yang mendukung pendirian masjid.

“Yang menjadi inisiatornya Pak Haji Asep Mulyadi,” tutur Ustaz Muhammad Daud Suhada ketika menjelaskan sosok yang memprakarsai pembangunan Masjid Darussalam.

Proses pembangunan masjid dilakukan secara bertahap karena membutuhkan dana yang cukup besar. Tahap awal pembangunan meliputi pengurukan tanah untuk meninggikan permukaan lahan yang sebelumnya merupakan sawah. Langkah tersebut dilakukan agar bangunan masjid tidak mudah terdampak banjir. Setelah itu, pembangunan dilanjutkan melalui dukungan para donatur dan keterlibatan pengurus lainnya.

“Pertama yang diuruk, meninggikan. Tadinya kan sawah, jadi perlu bangunan itu jangan sampai nanti kebanjiran,” jelas Ustaz Muhammad Daud Suhada mengenai tahap awal pembangunan masjid.

Meskipun pembangunannya dilakukan secara bertahap, rancangan bangunan masjid telah dipersiapkan sejak awal. Bangunan tersebut direncanakan memiliki tiga lantai, dengan lantai pertama digunakan sebagai gedung dakwah, lantai kedua sebagai ruang masjid, dan lantai ketiga sebagai ruang tambahan untuk menampung jamaah ketika jumlah pengunjung meningkat.

Reporter: Muhammad Evan Valerian, KPI/3B

 

Pengurus Masjid Nurul Ikhsan: Mengabdi dan Makmurkan Masjid Lewat Dakwah serta Kegiatan Remaja

Dakwahpos.com,Bandung-Semangat memakmurkan masjid terus dijaga oleh para pengurus Masjid Nurul Ikhsan. Berawal dari cita-cita luhur sang ayah yang mendirikan masjid sebagai wadah tempat anak-anak belajar mengaji dan beribadah, kini amanah pengolahan masjid tersebut dilanjutkan oleh sang anak dengan penuh dedikasi.
 
Narasumber pengurus masjid mengungkapkan bahwa dirinya memiliki latar belakang pendidikan di Pesantren Al Falah dan Pesantren Sukamanah. Pendidikan agama tersebut kemudian diperkuat dengan menyelesaikan studi di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah UIN. Bekal ilmu yang didapatnya kini didedikasikan penuh untuk mengajar dan mengelola berbagai kegiatan keagamaan di Masjid Nurul Ikhsan.
 
Awal mulanya sang ayah mendirikan masjid ini agar anak-anak bisa mengaji sebagai amal ibadah. Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren dan bangku kuliah dakwah, narasumber langsung mengambil peran untuk mengurus serta mengajar jamaah di masjid tersebut.
 
Dalam menjalan fungsinya, Masjid Nurul Ikhsan secara konsisten menghadirkan berbagai ragam kegiatan keagamaan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Selain pengajian mengaji harian yang rutin dilaksanakan, terdapat pula kegiatan pengajian yasinan setiap hari Kamis malam selepas waktu salat Magrib. Sementara itu, bagi kelompok ibu-ibu, pengajian rutin diselenggarakan setiap hari Sabtu mulai pukul 13.00 WIB hingga menjelang waktu salat Asar.
Tidak hanya fokus pada ibadah ritual, Masjid Nurul Ikhsan juga aktif merangkul generasi muda melalui organisasi Ikatan Remaja Masjid (IRMA). Guna menyalurkan minat seni islami para pemuda, masjid ini turut membentuk kelompok seni musik marawis yang dibina dan dilatih secara langsung oleh sang pengurus masjid. Keberadaan Masjid Nurul Ikhsan diharapkan terus menjadi pusat siar Islam, tempat menimba ilmu keagamaan, serta wadah positif bagi kegiatan masyarakat dan pemuda di lingkungan sekitar.

Reporter: Amelia Kartika/ KPI 3C

Uploaded Image

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos