Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Masjid Rhadhatul Muttaqin Cibiru Wetan Ajak Berbagi Makanan Usai Salat Jumat


Dakwahpos.com, Bandung - Kegiatan pembagian makanan kepada jamaah dan masyarakat dilaksanakan setelah Salat Jumat di Masjid Rhadhatul Muttaqin Cibiru Wetan, Cileunyi, Bandung pada Jumat (18/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian sosial dengan membagikan makanan kepada masyarakat setelah melaksanakan ibadah Salat Jumat. Usai pelaksanaan Salat Jumat, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian makanan yang telah disiapkan sebelumnya.

Sejumlah orang terlihat membantu dalam proses pembagian makanan kepada jamaah dan masyarakat yang berada di sekitar masjid. Makanan dibagikan secara langsung kepada masyarakat yang hadir. Para penerima tampak mengambil makanan yang telah disediakan, sementara proses pembagian berlangsung di lingkungan sekitar masjid. 

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari suasana kebersamaan setelah pelaksanaan Salat Jumat. Jamaah tidak hanya berkumpul untuk melaksanakan ibadah, tetapi juga mengikuti kegiatan sosial berupa pembagian makanan kepada sesama.

Pembagian makanan juga menjadi salah satu bentuk sederhana dalam menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Melalui kegiatan berbagi, masyarakat dapat saling memberikan perhatian dan membantu satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam perspektif dakwah, kegiatan berbagi dapat menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan melalui tindakan nyata. Pesan tentang kepedulian kepada sesama tidak hanya disampaikan melalui perkataan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui perbuatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Kegiatan seperti ini juga dapat mempererat hubungan antara jamaah dan masyarakat di lingkungan masjid. Setelah melaksanakan Salat Jumat bersama, kegiatan berbagi makanan memberikan ruang bagi masyarakat untuk membangun kebersamaan dan kepedulian sosial.

Pembagian makanan setelah Salat Jumat menjadi pengingat bahwa kegiatan keagamaan dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial. Semangat berbagi diharapkan dapat terus tumbuh sehingga kebaikan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Reporter: Muhammad Salman Syihabuddin Masrur Zenuddin

 

Khatib Masjid Raudhatul Muttaqin Cibiru Wetan Ajak Jamaah Jaga Lisan serta Amarah


Dakwahpos.com, Bandung - Khatib Jumat Dr. Mujyo Nurkholis, M.Ag. mengajak jamaah Masjid Rhadhatul Muttaqin Cibiru Wetan, Cileunyi, Bandung untuk menjaga lisan dan mengendalikan amarah ketika menghadapi kemaksiatan, berita, serta berbagai persoalan di tengah masyarakat. Ajakan tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat pada Jumat, 18 September 2026, di Masjid Jami' Rhadhatul Muttaqin.

Melalui khutbahnya, Dr. Mujyo mengingatkan jamaah agar tidak terburu-buru berbicara atau memberikan tanggapan sebelum memahami suatu persoalan secara utuh. Dr. Mujyo menjelaskan bahwa kehidupan sehari-hari tidak terlepas dari berbagai hal yang dapat memengaruhi perilaku manusia. Seseorang dapat melihat, mendengar, maupun mengetahui berbagai bentuk kejahatan dan kemaksiatan. Kondisi tersebut perlu disikapi dengan hati-hati agar seseorang tidak ikut terbawa kepada perkataan atau perbuatan yang tidak baik.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam khutbah tersebut adalah ucapan manusia. Ketika dua orang bertemu dan berbicara, percakapan dapat membawa manfaat apabila digunakan untuk membicarakan hal-hal yang baik. Sebaliknya, percakapan juga dapat menjadi sumber keburukan apabila seseorang tidak mampu menjaga perkataannya.

Dr. Mujyo mengingatkan jamaah agar tidak menganggap ringan setiap ucapan yang keluar dari lisan. Perkataan yang disampaikan dalam keadaan biasa maupun ketika sedang terbawa emosi tetap perlu dipertimbangkan. Karena itu, umat Islam perlu membiasakan diri untuk berpikir sebelum berbicara dan menghindari ucapan yang dapat menimbulkan keburukan bagi diri sendiri maupun orang lain.

Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan berbagai berita dan keadaan yang terjadi di tengah masyarakat. Munculnya suatu berita atau persoalan yang membuat masyarakat kecewa dan marah tidak seharusnya membuat seseorang langsung bereaksi tanpa mengetahui persoalan secara utuh.

Dalam keadaan seperti itu, seseorang mungkin hanya mengetahui sebagian informasi atau mendengar suatu peristiwa dari orang lain. Perasaan kesal dapat membuat seseorang terburu-buru memberikan komentar. Padahal, perkataan yang disampaikan tanpa mengetahui persoalan secara lengkap dapat menjadi ucapan yang tidak bertanggung jawab.

Karena itu, jamaah diajak untuk tidak menjadikan kemarahan sebagai alasan untuk melampiaskan perasaan melalui perkataan. Rasa kecewa terhadap suatu keadaan sebaiknya diikuti dengan sikap yang lebih tenang dan pertimbangan yang matang. Dengan demikian, seseorang tidak ikut memperkeruh keadaan melalui ucapan yang justru dapat menimbulkan persoalan baru.

Menjaga lisan juga berarti berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan informasi. Sebelum mengatakan sesuatu kepada orang lain, seorang Muslim perlu mempertimbangkan kebenaran dan manfaat dari perkataan tersebut. Hal ini penting terutama ketika informasi yang diterima berkaitan dengan persoalan yang sedang menjadi perhatian masyarakat.

Melalui khutbah Jumat tersebut, Dr. Mujyo mengajak jamaah untuk membiasakan diri menjaga ucapan, mengendalikan amarah, dan tidak mudah terbawa suasana ketika menghadapi berbagai persoalan. Sikap tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga diri dari kemaksiatan serta menciptakan perkataan yang lebih bermanfaat bagi sesama.

Pesan khutbah tersebut mengingatkan jamaah bahwa menjaga diri dari keburukan tidak hanya dilakukan melalui tindakan, tetapi juga melalui lisan. Dengan menjaga setiap perkataan dan mengendalikan emosi, umat Islam diharapkan mampu menyikapi berbagai keadaan dengan lebih bijaksana serta tidak menambah keburukan di tengah masyarakat.

Reporter: Muhammad Salman Syihabuddin Masrur Zenuddin

 

Khatib Masjid Riyadhus Sholihin Cipadung Kidul Serukan Jamaah Siapkan Bekal Takwa dan Luruskan Niat


Dakwahpos.com, Bandung- Pembahasan mengenai esensi bekal takwa dan penataan niat dalam menghadapi alam barzakh menjadi fokus utama khutbah Shalat Jumat yang disampaikan oleh Ust. Yudi Ahmad di hadapan jamaah Masjid Riyaddussolihin Cipadung Kidul, Bandung, pada Jumat (11/09/2026). Khutbah ini digelar sebagai pengingat pentingnya kesiapan spiritual sebelum ajal menjemput.

Di tengah padatnya aktivitas duniawi, ruang utama masjid dipenuhi oleh jamaah yang bersiap menunaikan ibadah sholat Jum’at secara khidmat. Ust. Yudi Ahmad mengawali khutbahnya dengan mukadimah yang menyentuh hati. Ia menyampaikan bahwa kehidupan manusia di dunia pada dasarnya merupakan proses persiapan untuk menghadapi perjalanan akhirat yang dimulai dari kematian.

Khotib menekankan keterbatasan umur manusia di dunia yang rata-rata hanya berkisar 60 tahun. "Coba kita bayangkan penantian para sahabat Nabi yang sudah berada di alam barzakh selama lebih dari 1.400 tahun, sebuah durasi yang sangat panjang sebelum sampainya Yaumul Qiyamah," tutur Ust. Yudi Ahmad di atas mimbar, Jumat (11/09/2026). 

Ust. Yudi Ahmad kemudian memaparkan dua kelompok manusia dalam merespons keterbatasan umur tersebut. Ia menjelaskan bahwa orang yang terjerat dalam maksiat akan mengalami penderitaan di akhirat, sedangkan orang yang mengisi hidupnya dengan amal saleh akan mendapatkan jaminan kenikmatan surga. Pembagian ini memperlihatkan bagaimana arah hidup seseorang akan menentukan nasib akhirnya.

Dalam menjelaskan bekal terbaik bagi setiap manusia, Ust. Yudi Ahmad merujuk pada firman Allah Swt. dalam Surat Al-Baqarah ayat 197. "Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa kepada Allah Swt. wahai orang-orang yang berakal," ujarnya saat khutbah berlangsung, Jumat (11/09/2026). Beliau menegaskan bahwa takwa berarti kesungguhan untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan Ilahi.

Mengenai konsep ibadah, Ust. Yudi Ahmad meluruskan pandangan yang sering membatasi makna ibadah sebatas ritual fisik di masjid. Ia menerangkan bahwa ulama membagi ibadah menjadi dua bentuk, yaitu ibadah mahdhah yang memiliki aturan syariat formal dan ibadah ghairu mahdhah yang mencakup dimensi sosial. Menurutnya, aksi sosial seperti sedekah dan kepedulian terhadap sesama juga bernilai ibadah yang sangat tinggi.

Penjelasan mengenai luasnya makna ibadah tersebut diperkuat dengan rujukan hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang pentingnya niat. "Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan Allah tidak menilai bentuk lahiriah pekerjaan melainkan kejujuran niat di dalam hati," ujar Ust. Yudi Ahmad mengutip pesan Rasulullah saw, Jumat (11/09/2026).

Melalui pesan ini, jamaah diingatkan agar tidak terjebak pada formalitas semata.

Pesan khutbah ini disampaikan melalui pendekatan persuasif dan dalil-dalil kuat agar jamaah dapat mengevaluasi niat dalam setiap ikhtiar hidupnya. Ust. Yudi Ahmad menyoroti bahwa banyak amalan duniawi bernilai akhirat karena didasari niat yang benar, sedangkan amalan akhirat bisa berkurang nilainya akibat niat yang keliru. "Ayo kita persiapkan bekal kita dengan mengawali setiap langkah kehidupan semata-mata karena Allah Swt. agar seluruh ikhtiar kita dinilai baik di hadapan-Nya," ujar Ust. Yudi Ahmad mengakhiri khutbahnya, Jumat (11/09/2026).

Reporter: Abdul Rosyid, KPI/3C

Kajian Tafsir QS. Al-An'am Ayat 21-25 di Masjid Al-Istianah: Ingatkan Jamaah Jauhi Sifat Zalim dan Musyrik


Dakwahpos.com, Bandung- Majelis Taklim Masjid Al-Istianah, Cipadung,  menggelar pengajian rutin pada Ahad (20/09/2026) pukul 13.00–15.00 WIB. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ibu Elis Herliniawati, yang sekaligus bertindak sebagai pembaca ayat suci Al-Qur'an dan penyampai tafsirnya.

Pengajian diawali dengan pembacaan QS. Al-An'am ayat 21–25. Ibu Elis membacakan ayat terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh seluruh jemaah yang hadir, dilanjutkan dengan pembacaan arti ayat sebelum masuk ke penjelasan tafsir.

Dalam kajiannya, Ibu Elis mengupas makna kelima ayat tersebut yang secara garis besar membahas tentang kezaliman manusia terhadap diri sendiri dan orang lain, serta bahaya sifat musyrik atau menyekutukan Allah. 

"Teu aya nu leuwih dolim batan jalma-jalma anu nyieun-nyieun kabohongan anu sok ngaku-ngaku kalayan asmana Allah," tuturnya, Ahad (20/09/2026).

Ibu Elis juga mengingatkan jemaah, khususnya yang telah berusia lanjut, agar tidak menyia-nyiakan kesempatan salat khusyuk selagi Allah masih memberi kenikmatan pancaindra dan kesehatan. Ia berpesan agar jangan pernah menyia-nyiakan salat, karena kemampuan manusia untuk beribadah bersifat terbatas dan tidak ada yang tahu sampai kapan nikmat itu akan bertahan. 

Lebih lanjut, ia mengajak jemaah untuk terus menghadiri majelis ilmu tanpa memandang usia. "Mencari ilmu mah tidak ada batasan usia," ujarnya, seraya menekankan pentingnya majelis taklim sebagai wadah agar umat islam tidak mudah merasa cukup hanya dengan belajar sendiri di rumah.

Di bagian akhir kajian, Ibu Elis menyinggung betapa pentingnya menjaga telinga, mata, dan lisan agar senantiasa terbuka menerima kebenaran ayat-ayat Allah, bukan sebaliknya menutup diri seperti sifat orang-orang yang mendustakan Nabi dalam ayat 25.

"Telinga kita terus terbuka untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, dan mulut kita insyaallah bisa menjaga apa yang seharusnya kita bicarakan, apa yang seharusnya kita tidak dibicarakan." Ahad (20/09/2026)

Reporter: Anisa Triwulandini/KPI 3C

Ustadz Aep Saepudin Ingatkan Jama`ah Jauhi Sifat Dzalim, Mulai dari Sumpah Palsu hingga Menolak Ayat Allah


Dakwahpos.com, Bandung - Ustadz Aep Saepudin mengingatkan jamaah pengajian di Masjid Al-Istianah, Cipadung, agar menjauhi sifat dzalim, terutama sumpah palsu atas nama Allah dan menolak ayat-ayat-Nya, pada Minggu siang (20/09/2026).

Dalam ceramahnya, ia menjelaskan bahwa dzalim adalah kebalikan dari adil, yakni menempatkan suatu perkara bukan pada tempatnya. Menurutnya, keadilan harus dimulai dari diri sendiri, lalu diterapkan dalam keluarga dan lingkungan sekitar.

"Dzalim itu kebalikan dari adil, yaitu menempatkan suatu perkara bukan pada tempatnya," ungkap Ustadz Aep Saepudin. Minggu, (20/09/2026). 

Ia menguraikan bahwa keadilan pada diri sendiri berarti menyeimbangkan hawa nafsu, akal pikiran, dan hati nurani agar terbentuk jiwa yang tenang (nafsu muthma'innah). Dalam keluarga, adil diwujudkan melalui sikap saling memahami, suami menafkahi dengan niat ibadah dan istri mendampingi dengan ketaatan.

Berbeda dengan itu, bersumpah palsu atas nama Allah dan menolak ayat-ayat-Nya disebut sebagai bentuk kedzaliman terbesar. Orang yang melakukannya digambarkan memiliki hati yang tersumbat dan telinga yang tertutup dari kebenaran.

"Diperbolehkan bohong itu ketika merayu antara suami istri untuk menyenangkan, tetapi bersumpah palsu atas nama Allah termasuk dzalim yang paling besar," ujar Ustadz Aep Saepudin dalam ceramahnya, Minggu (20/09/2026).

Reporter: Anisa  Triwulandini, KPI/ 3C

Kang Haji Akhyar Bahas Penjagaan Shalat dan Dua Amalan Pemberi Syafaat


Dakwahpos.com, Bandung - DKM Masjid Al-Musthafa Cimaung, Bandung, menggelar kajian kitab Mukhtaral Hadits yang membahas tentang penjagaan shalat dan amalan yang dapat memberikan syafaat di akhirat. Kajian tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Akhyar Ahmad Sirojuddin, M.Pd.I., atau yang akrab disapa Kang Haji Akhyar, melalui pengajian kitab dengan metode sorogan, Minggu (06/09/2026).

Dalam kajiannya, Kang Haji Akhyar menjelaskan bahwa shalat dapat menjadi penjagaan bagi orang yang menjaga dan menyempurnakannya. Ia menggambarkan shalat seolah-olah akan memohon kepada Allah agar memberikan penjagaan kepada orang yang telah menjaga shalatnya. “Ya Allah, mugi-mugi Allah ngaraksa ka ieu jalmi sakumaha ieu jalmi ngaraksa ka abdi. Jaga ieu jalmi sakumaha manehna tos ngajaga abdi,” ungkap Kang Haji Akhyar, Minggu (06/09/2026). 

Sebaliknya, ia menjelaskan bahwa orang yang melalaikan shalat dan tidak menyempurnakannya akan mendapatkan keadaan yang berbeda. Hal tersebut menjadi pengingat agar shalat tidak hanya dikerjakan, tetapi juga dijaga dan disempurnakan pelaksanaannya. “Dhoyya'aka, mugi-mugi nyia-nyiakeun ka anjeun saha Allahu, Allah kama dhoyya'tani, sakumaha tos nyia-nyiakeun anjeun ka kuring,” tuturnya, Minggu (06/09/2026).

Selain menjelaskan tentang shalat, Kang Haji Akhyar menyampaikan bahwa terdapat dua amalan yang akan memberikan syafaat bagi orang yang mengamalkannya, yaitu Al-Qur'an dan puasa. Al-Qur'an disebut dapat memberikan syafaat bagi orang yang senantiasa membacanya, sedangkan puasa menjadi amalan yang memberikan syafaat setelah seseorang menjalankannya dengan menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu. 

“Dua amalan nu bakal mere syafaat naon? Al-Qur'an, jeung puasa,” ujar Kang Haji Akhyar, Minggu (06/09/2026). Kajian tersebut menekankan pentingnya menjaga shalat serta memperhatikan amalan-amalan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bekal kehidupan akhirat.

Reporter: Anisa Triwulandini, KPI/3C

Ustaz Kudus Mubarok Ajak Jamaah Masjid Al-Ijtihad Cipadung Wetan Perkuat Takwa dan Akhlak Baik


Dakwahpos.com, Bandung- Ustaz Drs. Kudus Mubarok menekankan pentingnya ketakwaan dan akhlak dalam kehidupan seorang Muslim dalam khutbah Jumat di Masjid Jami Al-Ijtihad, Cipadung Wetan, Jumat (18/09/2026). Beliau menjelaskan bahwa ketakwaan kepada Allah Swt. perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Menurutnya, seorang Muslim tidak hanya memiliki kewajiban kepada Allah, tetapi juga kepada sesama manusia. Pesan tersebut disampaikan dengan merujuk pada hadis Rasulullah saw. mengenai ketakwaan, kebaikan, dan hubungan antarmanusia (hablum minannas).

Dalam khutbahnya, Ustaz Drs. Kudus Mubarok menjelaskan bahwa dalam hadis tersebut terdapat tiga kewajiban yang harus diperhatikan seorang Muslim dalam kehidupannya. Pertama, manusia diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah Swt. di mana pun ia berada. Kedua, keburukan perlu ditutup dengan kebaikan, sedangkan yang ketiga adalah bergaul dengan sesama manusia melalui akhlak yang baik. Ketiga hal tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan kehidupan seorang Muslim yang baik.

“Sebaik-baiknya orang di antara kalian adalah orang yang senantiasa memiliki akhlak yang baik,” ungkap Ustaz Drs. Kudus Mubarok dalam khutbahnya, Jumat (18/09/2026). Beliau menjelaskan bahwa akhlak yang baik merupakan salah satu amalan yang dapat memberatkan timbangan amal seseorang di akhirat kelak. Akhlak baik juga menjadi bagian dari keteladanan Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, umat Islam dianjurkan untuk menjadikan Rasulullah saw. sebagai teladan dalam berperilaku.

Ustaz Drs. Kudus Mubarok juga menyampaikan ciri-ciri orang bertakwa berdasarkan perkataan Syekh Hasan Basri. Di antaranya adalah berkata benar, menepati janji, menjaga silaturahmi, serta memiliki kepedulian terhadap orang-orang yang lemah. Orang bertakwa juga tidak berlebihan dalam membanggakan rezeki yang dimilikinya. Rezeki yang diberikan Allah Swt. dipandang sebagai titipan yang di dalamnya terdapat hak orang lain.

Menurut Ustaz Drs. Kudus Mubarok, kepedulian kepada sesama merupakan salah satu bentuk kebaikan yang harus dibiasakan dalam kehidupan bermasyarakat. Beliau mengingatkan jamaah untuk menggunakan rezeki dan kemampuan yang dimilikinya di jalan Allah Swt. Selain itu, seorang Muslim juga dianjurkan untuk mengerahkan potensi yang dimilikinya dalam melakukan kebaikan baik itu untuk diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Hal tersebut menjadi salah satu bentuk nyata dari ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam khutbah tersebut, Rasulullah saw. disebut sebagai teladan utama dalam penerapan akhlak mulia. Ustaz Drs. Kudus Mubarok mengutip perkataan Sayyidah Aisyah r.a. ketika ditanya mengenai akhlak Rasulullah saw. Menurut keterangan tersebut, akhlak Rasulullah saw. merupakan Al-Qur'an yang berjalan. Di akhir khutbahnya, beliau mengajak jamaah untuk menjaga ketakwaan, membiasakan amal kebaikan, serta berada dalam lingkungan yang baik agar dapat menjalani kehidupan yang aman, nyaman, dan tenteram.

Reporter: Annida Wardah Dzulhikmah, KPI/3C

 

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos