Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Manusia Ibaratkan Pohon, Khatib Tegaskan Akhlakul Karimah Buah Keimanan Manusia

Dakwahpos.com, Bandung - Ustaz Zainal Abidin, menyampaikan bahwa manusia beriman ibarat pohon yang berakar iman, bercabang silaturahmi, dan berbuah akhlak mulia, dalam khotbah Jumat di Masjid Darussalam, Komplek Permata Biru, Jumat (30/10/2026).

Khatib mengawali khotbahnya dengan membacakan Surah Ibrahim ayat 24. Menurutnya, dalam ayat itu Allah Swt. mengumpamakan manusia yang hebat seperti pohon yang baik Ø´َجَرَØ©ٍ Ø·َÙŠِّبَØ©ٍ. Ia mengutip penjelasan Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud kalimat thayyibah adalah la ilaha illallah.

Ia menjelaskan bahwa orang beriman adalah orang yang berkomitmen pada aturan Allah. Ia mencontohkan kisah Rasulullah saw. yang menawarkan jalan ke surga kepada sahabat Abu Dzar Al-Ghifari, yakni berkomitmen pada empat kalimat: tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.

Khatib menerangkan bahwa tasbih berarti mensucikan Allah karena hanya Allah yang suci. Adapun tahmid, mengutip Syekh Ash-Shabuni, merupakan doa yang paling sempurna. Ketika dipuji, kata dia, cukup dijawab dengan alhamdulillah.

Ia menambahkan, kalimat-kalimat itu semestinya terucap spontan, misalnya subhanallah saat melihat gunung atau laut yang indah, dan astagfirullah saat melihat jalan yang buruk.

Khatib kemudian menguraikan tiga karakter pohon yang dijadikan perumpamaan manusia. Karakter pertama adalah akar, yang bagi manusia berarti iman.

“Kalau di pohon ada akar, manusia punya iman. Makanya iman itu harus kuat,” ujarnya.

Menurutnya, pohon tumbang bukan karena angin kencang atau hujan deras, melainkan karena akarnya lemah. Begitu pula orang yang menjual jabatan, harkat, harga diri, dan kehormatan, karena imannya lemah.

Karakter kedua adalah batang, cabang, ranting, dan daun. Ia menyebut bagian ini melambangkan hubungan baik dengan sesama. Manusia harus bersikap santun tidak hanya di masjid, tetapi juga di jalan, pasar, dan rumah.

Karakter ketiga adalah buah, yang menurut khatib berarti akhlak mulia. Ia menegaskan bahwa Allah tidak bisa disandiwarai oleh siapa pun. Menurutnya, percuma tampil hebat di masjid jika di luar masjid akhlaknya buruk.

“Yang Allah nilai adalah apa? Buah. Dan buah manusia adalah akhlakul karimah,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa manusia ibarat pohon yang berakar iman kuat, berdahan silaturahmi dan hubungan baik dengan sesama, serta berbuah akhlakul karimah. Akhlak mulia itu harus ditunjukkan kepada siapa pun, tidak hanya kepada pejabat atau orang hebat, tetapi juga kepada orang kecil. Karena itu, ia mengingatkan agar jemaah tidak merasa hebat dan sombong, sebab di sisi Allah semua manusia tidak berarti apa-apa.

Reporter: Farid Zakhir Muzhaffar, KPI/3D
Uploaded Image

Agar Hidup Mudah, Ustaz Taufik Rizaldi Ajak Jemaah Tak Kikir

Dakwahpos.com, Bandung- Ustaz Taufik Rizaldi mengajak jemaah tidak kikir setelah menerima penghasilan karena sikap itulah yang menentukan hidup mudah atau sulit. Ajakan itu ia sampaikan dalam khotbah Jumat di Masjid Al-A’raaf, Perumahan Permata Biru, Cinunuk, Kabupaten Bandung, Jumat (30/10/2026).

Ia mengawali khotbah dengan mengajak jemaah bersyukur karena masih diberi waktu untuk menambah amal saleh, memperbaiki kesalahan, dan bertobat. Taufik Rizaldi berharap jemaah menjaga ibadah Jumat dengan tidak tidur, tidak berbicara, dan tidak memainkan telepon genggam saat khotbah.

Memasuki pokok bahasan, ia menyoroti kewajiban suami dan ayah mencari nafkah. Menurutnya, bekerja untuk keluarga, orang tua, atau diri sendiri agar tidak meminta-minta termasuk jihad di jalan Allah (fisabilillah).

“Mencari nafkah merupakan ibadah yang sangat besar bahkan masuk kategori jihad fisabilillah,” ujar Taufik Rizaldi dalam khotbah Jumat (30/10/2026).

Syaratnya, pekerjaan itu tidak dicampuri kebohongan dan maksiat. Ia menambahkan, perbedaan jenis pekerjaan dan besar pendapatan bukan masalah karena tidak mungkin semua orang menjadi tukang, guru, atau pelaku pasar modal.

Yang membedakan, kata dia, adalah sikap setelah memperoleh penghasilan. Orang yang berbagi dan bertambah takwanya akan diberi kemudahan oleh Allah Swt., sedangkan orang yang kikir dan berlebihan membelanjakan hartanya untuk diri sendiri akan diberi jalan kesulitan. Ia mencontohkan orang yang memiliki beberapa mobil dan membeli baju puluhan juta rupiah padahal cukup yang ratusan ribu.

“Ternyata jalan kemudahan atau jalan kesulitan itu bukan dari hasil yang kita dapatkan, tetapi adalah dari sikap setelah apa yang didapatkan oleh kita,” ungkapnya.

Ia membandingkan keluarga sederhana yang anak-anaknya sehat, berpendidikan, dan hidup bahagia dengan keluarga berumah megah yang justru dilanda pertengkaran, perselingkuhan, hingga anak terjerat narkoba. Ia juga mengisahkan rumah megah yang dijual setelah pemiliknya wafat, serta seorang bapak berusia 61 tahun pemimpin proyek gedung 13 lantai di Jakarta yang meninggal sebelum gedung diresmikan.

“Mari kita manfaatkan waktu yang tersedia menjadi pribadi-pribadi yang mempunyai planning ke surga,” imbuhnya.

Di akhir khotbah, ia berdoa agar jemaah kelak disambut malaikat dengan salam dan dipersilakan masuk surga karena banyak beramal saleh semasa hidup.

Reporter: Asep Aprezal, KPI/3D
Uploaded Image

Di Bawah Pimpinan Haji Endi, Masjid Al-Hikmah Berkembang Pesat

Dakwahpos.com, Bandung - Haji Endi, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Hikmah, dinilai menjadi tokoh berpengaruh di balik pesatnya perkembangan masjid selama tiga tahun terakhir. Penilaian itu disampaikan marbut kang Soffan, Juma’at 30 Oktober 2026.

Menurutnya, Haji Endi telah menjabat sekitar tiga tahun dan kini memasuki periode kedua. Kepengurusan DKM diganti setiap tiga tahun sekali, dan Haji Endi terpilih kembali.

“Alhamdulillah 3 tahun belakangan memang perkembangannya pesat,” ujar kang Soffan, marbot Masjid Al-Hikmah Permata Biru.

Ia menyebut perkembangan itu terutama terlihat dari pembangunan masjid. Jumlah jamaah ikut bertambah, dan tidak ada bangunan lama yang dipertahankan karena masjid ini tergolong baru.

“Dulunya masjid ini kecil, kayak musala ya,” tuturnya.

Di tingkat pengurus, Haji Endi dibantu seorang pengurus bidang keamanan, Delfi. Soffan sebagai marbot dibantu Rahmat dan Engkos, sementara ia mengaku baru mengenal sebagian pengurus karena masih baru bertugas. Peran kang Soffan sendiri mencakup menjaga kebersihan masjid dan menjadi muazin. Sesekali ia juga menjadi imam dan khatib.

Menurutnya, yang membedakan Al-Hikmah dari masjid lain adalah pengelolaan kebersihan. Pekerjaan itu tidak dibebankan pada satu atau dua marbot, tetapi dibagi kepada banyak pengurus, mulai dari membersihkan karpet, kaca, toilet, hingga halaman.

“Jadi banyak yang terlibat, melibatkan banyak orang,” katanya.

Selain salat, masjid ini menggelar pengajian ba’da Subuh pada hari Ahad dan pengajian malam Senin. Ada pula majelis taklim ibu-ibu dan TPQ untuk anak-anak.

Reporter: M. Alif Ramdhan Sohibul Fahmi, KPI/3D

 

Masjid Al-Barokah Berdiri Sejak 1998, Jadi Sarana Ibadah Masyarakat Cilebut Indah

Dakwahpos.com, Bogor – Masjid Al-Barokah yang berada di Kompleks PWI Jaya RW 08, Cilebut Indah, Bogor, telah berdiri sejak 1998. Keberadaan masjid ini menjadi sarana ibadah bagi masyarakat sekitar sekaligus tempat untuk mempererat kebersamaan melalui kegiatan keagamaan.

Berdasarkan wawancara dengan Ibu Atik pada Minggu (25/10/2026), Masjid Al-Barokah didirikan untuk memfasilitasi kebutuhan ibadah masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Kehadiran masjid diharapkan dapat menjadi tempat bagi warga untuk melaksanakan salat berjamaah dan beribadah bersama.

Keberadaan masjid tersebut juga didukung oleh dokumen susunan panitia pembangunan Masjid Al-Barokah yang bertanggal 2 Juni 1998. Dokumen tersebut mencantumkan susunan kepanitiaan pembangunan masjid di Perumahan PWI Jaya, Cilebut Indah, Bogor, sebagai salah satu bukti dokumenter terkait pembangunan masjid pada tahun tersebut.

Dalam foto dokumen, Bachroni tercatat sebagai ketua panitia pembangunan, sedangkan Ir. Kadresiyanto S. tercantum sebagai sekretaris I. Selain itu, terdapat sejumlah bagian kepanitiaan yang menangani kebutuhan pembangunan, mulai dari usaha dana, pelaksanaan pembangunan, hingga keamanan.

Perjalanan Masjid Al-Barokah juga tidak terlepas dari keterlibatan pengurus yang menjalankan tanggung jawab dalam mengelola masjid. Dalam wawancara tersebut, Ibu Atik menceritakan pengalamannya yang pernah menjadi sekretaris dan wakil ketua dalam kepengurusan masjid.

Ia juga menyebutkan Haji Sugeng Pamuji sebagai ketua sebelumnya dan Haji Sentot Susetyo sebagai ketua yang menjabat saat wawancara berlangsung. Pergantian kepengurusan tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengelolaan Masjid Al-Barokah dalam menjalankan kegiatan ibadah dan pelayanan kepada jamaah.

Menurut Ibu Atik, tujuan utama pendirian masjid tidak hanya menyediakan tempat ibadah, tetapi juga mendorong masyarakat untuk beribadah bersama dan memakmurkan masjid. Upaya tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai kegiatan keagamaan yang diselenggarakan bagi jamaah.

Keberadaan Masjid Al-Barokah di Kompleks PWI Jaya RW 08 hingga kini menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat setempat. Melalui fungsi sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan keagamaan, masjid ini diharapkan terus memberikan manfaat bagi warga sekitar.

Reporter: Salwa Mufidatuzzahwa, KPI 3

SEJARAH MASJID | MASJID | DAKWAH

 



 

Masjid Al-Barokah Gelar Beragam Kegiatan Keagamaan Rutin Setiap Pekan


Anak-anak mengikuti kegiatan belajar membaca Al-Qur’an dalam program TPQ/TPA sore di Masjid Al-Barokah, Kompleks PWI Jaya RW 08, Bogor.

Dakwahpos.com, Bogor – Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Barokah di Kompleks PWI Jaya RW 08, Bogor, menyelenggarakan beragam kegiatan keagamaan secara rutin setiap pekan. Kegiatan tersebut meliputi kajian setelah salat Subuh, pengajian khusus ibu-ibu, pembelajaran tafsir, serta pendidikan membaca Al-Qur’an bagi anak-anak.

Berdasarkan wawancara dengan Ibu Atik pada Minggu (25/10/2026), kegiatan keagamaan di Masjid Al-Barokah disusun dalam jadwal mingguan dengan materi yang beragam. Program tersebut menjadi salah satu upaya DKM untuk menyediakan ruang belajar agama bagi masyarakat sekaligus meningkatkan aktivitas jamaah di masjid.

Pada Sabtu pagi setelah salat Subuh, terdapat kegiatan Tahsin yang diikuti oleh jamaah ibu-ibu dan bapak-bapak. Kegiatan ini dilaksanakan secara bergantian dengan setoran bacaan bagi jamaah laki-laki dan perempuan. Melalui kegiatan tersebut, jamaah memiliki kesempatan untuk belajar dan memperbaiki bacaan Al-Qur’an secara rutin.

Selain kegiatan pada Sabtu pagi, kajian keagamaan juga diselenggarakan pada waktu setelah salat Subuh di pekan-pekan lainnya dengan materi yang berbeda. Ibu Atik menjelaskan bahwa kajian tersebut mencakup pembahasan keislaman umum, fikih, serta pembelajaran mengenai mazhab. Dengan variasi materi tersebut, jamaah dapat memperoleh pengetahuan agama dari berbagai pembahasan.

Pengajian khusus ibu-ibu dilaksanakan setiap Jumat siang setelah salat Zuhur. Kegiatan ini menghadirkan pemateri dengan materi yang berbeda setiap pekannya. Pembahasannya meliputi fikih, ilmu tajwid, dan sirah nabawiyah atau sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Pada pekan pertama, pengajian diisi dengan materi fikih oleh Ustaz Yusin Hakiki. Pekan kedua diisi oleh Bu Siti Nur Samsiah dengan pembelajaran ilmu tajwid, sedangkan pekan ketiga menghadirkan Ustaz Muhajir untuk membahas sirah nabawiyah. Adapun pekan keempat diisi oleh Ustaz Syakruddin dengan materi fikih. Jika terdapat pekan kelima, kegiatan biasanya diisi oleh anggota jamaah.

Tidak hanya pengajian bagi orang dewasa, Masjid Al-Barokah juga menyediakan pembelajaran tafsir pada hari Rabu menggunakan metode Ummi. Kegiatan tersebut ditujukan bagi jamaah yang masih belajar dan ingin memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an.

Dalam bidang pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak, terdapat kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang dilaksanakan dalam dua waktu, yaitu sore hari dan setelah salat Maghrib. Berdasarkan penjelasan Ibu Atik, kegiatan TPQ sore dilaksanakan pada hari Senin hingga Kamis, sedangkan jadwal TPQ setelah Maghrib melibatkan beberapa pengajar yang membimbing anak-anak dalam belajar membaca Al-Qur’an.

Berbagai kegiatan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi warga Kompleks PWI Jaya. Ibu Atik menjelaskan bahwa masyarakat dari luar kompleks juga dapat mengikuti pengajian dan pembelajaran agama di Masjid Al-Barokah. Bahkan, terdapat peserta dari kawasan perumahan lain di sekitar Cilebut yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Selain kegiatan yang rutin dilaksanakan di masjid, DKM Al-Barokah juga pernah mengadakan kegiatan tadabur alam di luar lingkungan masjid. Meskipun kegiatan tersebut tidak dilaksanakan sesering pengajian rutin, aktivitas ini menjadi salah satu bentuk kegiatan tambahan yang pernah dilakukan bersama jamaah.

Menurut Ibu Atik, berbagai kegiatan tersebut diselenggarakan untuk memakmurkan masjid dan mengajak masyarakat agar lebih aktif datang untuk beribadah serta belajar agama. Melalui jadwal kegiatan yang beragam, Masjid Al-Barokah diharapkan terus menjadi tempat ibadah sekaligus sarana pembelajaran Islam bagi masyarakat sekitar dan jamaah dari luar kompleks.

Reporter: Salwa Mufidatuzzahwa, KPI 3

KEGIATAN MASJID | PENGAJIAN | DAKWAH

 

 

Ustaz Maki Al-Mubarak: Urgensi Ijma dan Qiyas dalam Landasan Tradisi Haol

Dakwahpos.com, Bandung —  Puluhan jemaah majelis taklim ibu-ibu menghadiri pengajian rutin mingguan di Masjid Madin Al-Islamiyah, Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Senin (26/10/2026). Kajian tersebut menghadirkan penceramah Ustaz Maki Al-Mubarak yang memaparkan kedudukan ijma dan qiyas sebagai sumber hukum Islam, khususnya dalam hubungannya dengan tradisi peringatan haol atau pengiriman doa bagi orang yang telah meninggal dunia. 

Dalam pemaparannya, Ustaz Maki Al-Mubarak menjelaskan bahwa keberadaan ijma (kesepakatan para ulama) dan qiyas (analogi hukum) sangat krusial untuk menjawab dinamika hukum Islam yang tidak tertulis secara eksplisit dalam Al-Qur'an maupun hadis.   

"Al-Qur'an dan hadis adalah sumber utama, tetapi ijma dan qiyas menjadi instrumen penting bagi ulama dalam menetapkan hukum atas perkara-perkara baru yang berkembang di masyarakat," kata Ustaz Maki Al-Mubarak di hadapan jemaah.   

Beliau kemudian mengaitkan instrumen hukum tersebut dengan tradisi haol, yakni majelis doa dan sedekah yang ditujukan sebagai hadiah pahala bagi ahli kubur. Menurutnya, tradisi haol memiliki landasan hukum yang kuat melalui pendekatan qiyas dan ijma para ulama terdahulu. 

"Peringatan haol atau berkirim doa kepada orang yang meninggal itu didasari oleh ijma ulama serta qiyas terhadap dalil-dalil sedekah dan doa yang sampai pahalanya kepada mayit. Jadi, tradisi ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan memiliki dasar amalan yang jelas," ungkapnya.  

Melalui pengajian ini, para jemaah diharapkan dapat memahami alasan di balik amalan keagamaan yang biasa dijalankan sehari-hari

Reporter: Fatheeya Reezqya KPI / 3D

 

Lebih dari Sekadar Tempat Beribadah, Kegiatan Masjid Nurul Ikhsan Semakin Diapresiasi Masyarakat

Dakwahpos.com, Bandung- Keberadaan Masjid Nurul Ikhsan di tengah permukiman warga kian dirasakan manfaatnya secara nyata. Bukan sekadar menjadi tempat penunaian ibadah shalat lima waktu, masjid ini bertransformasi menjadi pusat interaksi sosial, pengajian rutin, hingga wadah untuk mempererat silaturahmi antarwarga.

Suasana kehangatan tersebut tampak dari antusiasme jemaah yang didominasi oleh warga sekitar. Salah satunya dirasakan oleh Ibu Heni (59), seorang warga sekaligus guru PAUD yang aktif mengikuti berbagai kegiatan keagamaan di Masjid Nurul Ikhsan.

Ruang Belajar dan Silaturahmi Tanpa Beban

Bagi Ibu Heni dan jemaah lainnya, rangkaian kegiatan yang diselenggarakan mulai dari pengajian rutin hampir setiap hari dalam seminggu, pembelajaran tajwid, hingga peringatan hari besar Islam (seperti Maulid Nabi dan Isra Mikraj) dikelola dengan pendekatan yang merangkul dan menyenangkan.

"Semuanya suka. Karena Kegiatan disini itu asik tidak membebani bahkan jadi suka ngumpul sama tetangga juga kalo masalah lancar atau tidak yang penting kita sudah mau belajar," ungkap Ibu Heni saat ditemui di lokasi.

Ia juga mengapresiasi metode penyampaian materi oleh para pengajar atau ustaz yang interaktif dan dilakukan secara bersama-sama, sehingga para jemaah tidak merasa tertekan atau takut menghadapi "ujian" kelas. Menurutnya, pendekatan reflektif seperti catatan amalan harian untuk melatih kejujuran diri sendiri jauh lebih bermakna ketimbang ujian formal.

Manfaat Besar di Tengah Kepadatan Gang Warga

Meskipun terletak di dalam area gang permukiman, Masjid Nurul Ikhsan terbukti memberikan dampak positif yang luas. Warga sekitar tidak perlu melangkah jauh untuk mendapatkan akses ilmu keagamaan sekaligus mempererat kebersamaan dengan para tetangga.

Selain kegiatan pengajian harian, keterlibatan warga dalam persiapan acara besar seperti latihan bersama menjelang hari-hari besar Islam turut memupuk semangat gotong royong dan kekeluargaan yang erat.

Kehadiran pengurus dan para pembimbing (ustaz/ustazah) yang konsisten memberikan kenyamanan membuat Masjid Nurul Ikhsan sukses menjadi rumah kedua bagi masyarakat sekitar menghidupkan nilai-nilai spiritual sekaligus merawat keharmonisan sosial di tengah warga.

Reporter: Amelia Amanda/ KPI 3C

Uploaded Image

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos