Jumat Berkah Jadi Sarana Dakwah melalui Kegiatan Berbagi kepada Jemaah
Tujuan Penciptaan Manusia Jadi Hamba dan Khalifah di Muka Bumi
Buktikan Kecintaan kepada Rasulullah Melalui Tindakan Nyata
Tabligh Akbar Maulid Nabi di Assalam, Teladani Akhlak Rasulullah
Ustaz Anwar Nuryamin Ajak Jamaah Junjung Adab sebagai Mahkota Kehidupan
Demi Memperbaiki Bacaan Al-Qur'an, Jamaah Lansia Masjid Al-Muhajirin Menyelenggarakan Tadarus Mandiri
Dakwahpos.com, Bandung – Jamaah pengajian ibu-ibu berusia lanjut menyelenggarakan kegiatan belajar Al-Qur'an secara mandiri di Masjid Al-Muhajirin Palasari, Sabtu (26/09/2026).
Ibu-ibu jamaah pengajian Masjid Al-Muhajirin menyampaikan bahwa fokus utama majelis ini murni ditekankan pada pembenahan tajwid serta kelancaran membaca Al-Qur'an. Disana, mereka fokus melatih bacaan Al-Qur'an masing-masing tanpa dibebani target hafalan maupun syarat khusus.
"Pengajian Sabtu sore ini tidak ada ceramah agama, kami hanya fokus belajar membaca Al-Qur'an dan memperbaiki tajwid bersama-sama," ungkap salah satu jamaah di Masjid Al-Muhajirin.
Salah satu ibu-ibu menambahkan bahwa kehadiran ustazah pendamping atau penceramah luar terbilang sangat jarang. Jika pengisi materi berhalangan hadir, para lansia tetap bersemangat melangsungkan majelis dengan saling menyimak bacaan satu sama lain.
"Majelis Al-Qur'an sore hari ini terbuka hangat bagi seluruh ibu-ibu di sekitar lingkungan masjid," imbuh ibu-ibu jamaah pengajian Masjid Al-Muhajirin.
Mereka juga menjelaskan bahwa semangat belajar Al-Qur'an para lansia ini menjadi penggerak utama dalam meramaikan masjid. Pengajian di area utama masjid ini pun terus bergulir meskipun bertepatan dengan tanggal merah atau hari libur nasional.
"Kalau hari biasa jemaah yang hadir berkisar puluhan orang, tetapi bisa bertambah ramai saat ada acara khusus seperti pengajian akbar," ungkapnya. Hal tersebut memperlihatkan bahwa daya tarik masjid dapat meningkat manakala ada variasi kegiatan dakwah yang lebih luas bagi masyarakat sekitar.
Reporter: Tasya Ainurrahmah, KPI/3D
Dedikasi Umi Siti Mulyawati Tanamkan Pembiasaan Sederhana, Terekam Sepanjang Masa
Dakwahpos.com, Bandung- Didorong oleh kecintaannya terhadap anak-anak, Umi Siti Mulyawati terus konsisten mendedikasikan dirinya untuk mengajar ngaji dan membentuk akhlak para murid di lingkungan Yayasan Madinatun Salam, Bumi Harapan, Cibiru pada Kamis (24/9/2026). Melalui ketelatenannya membiasakan praktik dasar ibadah sehari-hari sejak puluhan tahun silam, ajaran beliau ini sukses menanamkan nilai keislaman yang terus teringat kuat hingga murid-muridnya tumbuh dewasa.
Perjalanan panjang Umi Siti dalam mendidik anak-anak bermula sejak
tahun 1993 saat ia pertama kali turut merintis taman pendidikan Al-Qur'an di
kawasan Sarijadi. Pengabdiannya kemudian berlanjut ke kawasan Bumi Harapan
ketika ia mulai membina murid-murid di RA Anida pada tahun 2008, yang kini
bernaung di bawah Yayasan Madinatun Salam.
Meskipun harus menghadapi berbagai karakter anak dari masa ke masa, rasa sayangnya terhadap anak-anak menjadi penguat utama bagi Umi untuk terus bertahan. “Kalau misalnya lihat di jalan ada yang memperlakukan anak kurang baik, hati itu suka tersentuh, jadi memang ada rasa suka ke anak-anak,” ungkap Umi menceritakan motivasi pengabdiannya, Kamis (24/9/2026).
Walau penuh suka cita, Umi mengaku kerap menghadapi tantangan,
terutama dalam menyamakan pemahaman materi dasar fikih salat. Ia mencontohkan
seringnya terjadi perbedaan bacaan doa iftitah yang diajarkan di sekolah formal
dengan ajaran di tempat mengaji.
Tantangan lainnya adalah keterbatasan waktu belajar yang hanya satu jam serta kesibukan anak-anak saat mulai beranjak remaja. Oleh karena itu, Umi kini lebih menerapkan metode privat agar perkembangan hafalan dan adab setiap anak dapat dievaluasi secara maksimal.
Ke depannya, pendidik gigih ini berencana membuat sistem evaluasi
rutin berupa rapor tertulis bagi anak didiknya. Laporan tersebut nantinya tidak
sekadar formalitas, melainkan berisi uraian rinci mengenai perkembangan
kemampuan anak untuk diserahkan langsung kepada orang tua.
Selain sistem rapor, Umi juga memendam harapan besar untuk memiliki area belajar dan bermain yang lebih luas bagi para murid. "Umi senang kalau anak-anak itu lari-larian, senang daripada main ponsel," tambah Umi, Kamis (24/9/2026).
Dampak positif dari ketelatenan dan pembiasaan tersebut dirasakan langsung oleh Haira, salah satu mantan murid yang kini turut mendedikasikan diri membantu Umi mengajar. Ia membenarkan bahwa sosok Umi dikenal oleh warga sekitar sebagai pengajar gigih yang ilmu dasarnya selalu menempel di diri anak-anak.
"Itu terasa juga kayak ilmu-ilmu dasar saja sebenarnya, cuma itu membekas, setidaknya anak-anak di sekitar sini bisa ngaji atau tahu dasar ilmu keislaman," ungkap Haira, Kamis (24/9/2026).
Reporter: Farah Novita Maharani, KPI/3C






